PERUPA MELUKIS BERSAMA DI DANAU TOBA

Oleh: Thompson Hs*

(e-mail: thompsonhs@ymail.com)

Seniman Indonesia Anti Narkoba atau SIAN cabang Sumatera Utara mewujudkan satu program dengan aksi Melukis Bersama di Danau Toba. 30 perupa Sumatera Utara dipersiapkan dan difasilitasi untuk bisa terjun ke sekitar Danau Toba selama dua hari, tepatnya 9 – 10 Mei 2009 lalu. “Transportasi, penginapan, dan konsumsi ditanggung oleh SIAN,” kata Togu Sinambela, salah seorang perupa dan kordinator melukis bersama itu. Semua perupa yang terlibat berangkat dari Medan pada 9 Mei pukul 06.00 WIB bersama beberapa pengurus SIAN dengan angkutan bus travel yang disewa pulang-pergi. Di Tuktuk Samosir mereka tiba sekitar pukul 10 pagi hari dan langsung ke tempat dan penginapan di Samosir Cottage. Melukis bersama nampaknya dimulai langsung oleh beberapa pelukis. Menurut Edi Siswanto, salah seorang dari pengurus SIAN, 30 perupa itu diharapkan bisa hadir. Sampai konfirmasi di Samosir Cottage 18 perupa sudah hadir. Yang lainnya akan menyusul. Beberapa nama perupa yang sudah sangat dikenal selain Togu Sinambela adalah Reins Asmara, Yos Rizal, Kuntara DM, Popy, Faridah, Jonson Pasaribu, Yatim, Budi Siagian, Panji Sutrisno, dan Andi. Namun dengan mengenal nama-nama tersebut, perupa atau pelukis lainnya sama sekali tak ingin diabaikan. Lagi pula dalam tulisan ini semua nama yang tersebut dan belum sangat dikenal tidak menjadi bagian pembicaraan khusus. Yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah soal melukis bersama itu dalam konteks Danau Toba dan sekitarnya. Berdasarkan pengamatan, para perupa yang difasilitasi SIAN Sumatera Utara ini cukup tertarik dan serius melakukan aksi melukis bersama itu. Dari sejumlah lukisan yang selesai dan tidak dirampungkan di tempat, ketertarikan dan keseriusan para perupa itu menjadi salah satu sudut pandang keperdulian atas lapis-lapis objek sekitar atau mengenai Danau Tioba, baik kultur di sekitarnya maupun objek alaminya yang sangat indah. Semua perupa yang ditemui di sekitar penginapan memiliki spirit mendekati, memilih, memastikan, atau menjadikan sekitar sebagai stimulan bagi bayangan objek yang ingin dilukis dan dibawa selama perjalanan dari Medan. Operasi spirit itu juga berbeda-beda. Ada yang melukis dengan objek terdekat, terjauh, yang tidak ada di sekitar, bahkan yang mengundang penafsiran dan dasar cerita legendaris. Objek terdekat misalnya oleh Reins Asmara dengan melukis sebuah pohon Jawi (jabi-jabi dalam istilah Batak) yang termasuk tua dan tumbuh di balik tembok pembatas penginapan dengan pinggir Danau Toba. Lukisan atas objek itu dirampungkan beberapa jam sebelum melukis objek lain yang hampir mirip menampilkan sebuah pohon. Dua pelukis dekat Reins Asmara, salah satu adalah Yatim, melukis objek awan dan pemandangan gemunung dan gelombang air danau ke arah Utara. Pemandangan gemunung dan awan itu tepatnya di bagian daerah Simalungun dan pemandangan itu nampak seperti objek terjauh dari posisi pelukisnya. Jonson Pasaribu juga melakukan hal yang sama dengan cara menyamping melukis objeknya. Tiga orang pelukis , salah satu Togu Sinambela, dekat posisinya dan di dalam tempat berteduh memandang jauh dan menariknya dengan kuas ke dalam kanvas. Salah satu terkadang harus dibantu dengan memotret objek terjauh tersebut. Pemandangan itu antara teluk Samosir dan daerah pegunungan ke arah Tigaras dan Haranggaol. Salah satu pegunungan antara Seribudolok dan Merek tampang dari tempat berteduh itu, meskipun agak samar. Salah satu dari tiga pelukis itu sampai esok hari menampilkan pemandangan terjauh itu dengan kesan-kesan fenomena yang tidak cerah, bahkan kelihatan murung. Mungkin dia melihat Danau Toba dan sekitarnya tidak lagi indah dan mulai meneyedihkan. Di pelataran atas penginapan ada dua tiga pelukis beraksi untuk objek masing-masing, baik pemandangan yang masish terjauh maupun sosok-sosok karakteristik purba dan simbolis. Rampung tidaknya lukisan mereka kesan-kesan khusus tentang objek yang dilukis menunjukkan spirit itu. Kembali ke posisi terdekat Reins Asmara sewaktu membuat lukisannya yang pertama. Ada lukisan dengan lanskap rumah Batak. Gambaran rumah Batak itu polos dan tanpa ukiran atau elemen-elemen arsitekturalnya. Nampaknya lukisan tersebut ingin menampilkan suatu keadaan di tengah situasi alamnya, entah dekat sungai yang masih dilari air atau sudah kering. Saya belum bisa membayangkan langsung arah lanskap itu ke situasi ekologis sekitar Danau Toba atau sikap keperdulian pemilik rumah Batak atas alam sekitarnya. Terus mengamati semua perilaku selama aksi melukis bersama itu ada sesuatu energi yang murni yang ingin ditunjukkan semua perupa. Energi yang murni itu terkadang bisa membingungkan kepada orang lain dan sekitar penginapan. Untuk mengetahui ada tidaknya kebingungan itu semua hasil lukisan yang rampung atau tidak diharapkan bisa dipamerkan dan dikembangkan dalam pembicaraan. Mungkin aksi pertama melukis bersama itu menjadi pemahaman baru atas kemungkinan-kemungkinan banyak kegiatan untuk sekitar Danau Toba. Meskipun melukis bersama oleh 30 perupa menjadi pertama oleh fasilitasi SIAN, aksi melukis bersama ini dapat menyambung perhatian menyeluruh dalam sikap perduli pada Danau Toba. Apakah yang perlu diperdulikan untuk Danau Toba? Danau Toba Sekitarnya Danau Toba sekitarnya dikelola oleh tujuh (7) kabupaten, yakni Simalungun, Karo, Dairi, Humbahas, Taput, Tobasa, dan Samosir dengan masing-masing proyek pemberdayaan lokasi untuk bisnis, pariwisata, kerambah, hotel, hutan, pertanian, tempat tinggal dan ladang/sawah penduduk, dan pasar-pasar tradisional. Poin-poin tersebut mungkin saja ada dalam khayalan para perupa untuk dijadikan lukisan yang mendatangkan uang kembali atau disumbangkan sama sekali. Namun pikiran tersebut tidak ingin digambarkan ada atau tidak dari semua perupa yang hadir dalam melukis bersama itu. Dari segi etisnya, semua para perupa itu bisa hadir melukis bersama di Danau Toba disebabkan eksistensi dan kesiapan SIAN. Andai ketujuh kabupaten itu terpikir dan melakukannya mungkin koneksi etis dan teknis dapat menampilkan kapasitas keperdulian itu semakin berkembang. Namun karena pengandaian hanya bersifat untuk memicu kesadaran, siapa saja bisa melakukan aksi melukis bersama di Danau Toba dan sekitarnya. Untuk menyebarkan informasi adanya melukis bersama ini, dalih pameran dan ngobrol-ngobrol secara prinsip sudah dibuka pihak SIAN. Penyebaran informasi untuk itu disebarkan ke sejumlah organiser kegiatan di Parapat dan Samosir. Selain penyebaran informasi di hari pertama jauh hari sudah dilakukan semacam sosialisasi dengan teknik berbagi informasi lewat ponsel dan face book. Ada beberapa orang yang mendapat informasi hadir pada Minggu, 10 Mei 2009 itu. Meskipun para pelukis sebagian sudah mengemas lukisannya karena pengaruh check- out acara ngobrol-ngobrol berlangsung antara beberapa pelukis dengan penduduk setempat. Penduduk setempat menceritakan situasi sekitar karakter kepariwisataan itu masih dalam tarar tidak profesional dan jujur. Beberapa pelukis yang terlibat dalam obrolan itu masih sangat tertarik untuk melukis di sekitar Danau Toba. Namun mereka harus difasilitasi seperti sekian perupa atau seniman yang pernah difasilitasi pemerintah kolonial Belanda untuk menaikkan Bali, kebudayaan dan pariwisatanya ke seluruh dunia. Bali yang surplus saat ini adalah hasil promosi melalui karya seni pada zaman kolonial Belanda. Belanda melakukan perjanjian dengan para seniman seperti pelukis dan musikus Jerman Walter Spies, komponis Kanada Colin Mcphee, Novelis Vicki Baum, dan lain-lain yang mempengaruhi kedatangan seniman-seniman Eropa lainnya hingga menjadikan Bali sempat terkesan seperti pulau para Seniman (Michel Picard, 1992 : 42). Tentu berbagai cara sudah dilakukan untuk promosi keindahan Danau Toba dan kultur di sekitarnya. Namun akhir-akhir ini promosi itu nampaknya lebih dilakukan dengan mengabaikan pariwisata yang indah, ekologis, penguatan kultur yang jujur dan melayani. Mungkin di sekitar Danau Toba sudah terjadi satu format yang hanya membutuhkan uang dan servis. Semoga tidak demikian.Pasti masih ada orang baik dan jujur agar Danau Toba tidak hancur karena kerambah, pengrusakan hutan, pembuangan limbah, atau proyek debit air. *Berprofesi sebagai penulis dan sutradara. Direktur Artistik PLOt Siantar.

Iklan
Published in: on Mei 29, 2009 at 4:57 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

cerita “si jonaha”

SIJONAHA PENIPU ULUNG*

Oleh: Thompson Hs
Ada seorang anak yatim piatu bernama Jonaha. Di Tanah Karo namanya sering disebut-sebut Jinaka. Sejak kecil dia sudah yatim piatu. Sehingga salah seorang dari pamannya terpaksa mengasuhnya. Dikatakan terpaksa karena paman Jinaka tidak begitu suka dengan keluguan Jinaka. Pamannya juga menganggap dia bodoh untuk dibawa kemana-mana. Paman Jinaka adalah seorang pemain judi dan mencari lawan bermain judi ke berbagai kuta atau kampung. Sifat pamannya yang juga suka memerintah menganggap Jinaka terlalu lamban. Namun ada juga kalanya Jinaka seperti orang jenaka. Kalau pamannya minta dibangunkan lebih pagi dia akan lebih dulu meniru suara ayam berkokok. Lalu pamannya benar-benar bangun
“Jinaka!” Panggil Pamannya suatu kali sebelum berangkat bermain judi. Jinaka belum bangun ketika itu. Lalu berulang-ulang pamannya memanggil, Jinaka baru terbangun. “Kai, Mama? Apa, paman?” Jawab Jinaka sambil malas-malas menggerakkan tubuhnya. “Medak kam, bangun kamu!” Sambung pamannya. “Aku enggo medak, paman,” sambung Jinaka lagi sambil mengusap sesuatu dari hidungnya. “Hayolah, cepat. Pedasken!” Mendengar suruhan pamannya, Jinaka segera berlari entah ke mana. Lalu pamannya menambahi: “Segera siapkan kudaku.”
Beberapa saat Jinaka harus segera mempersiapkan kuda pamannya. Mereka pergi ke tempat berjudi. Namun Jinaka selalu tidak boleh mendekat ke tempat perjudian itu. Dia selalu menunggu perintah pamannya. “Jinaka, kujenda kam. Ke sini kamu,” Pamannya memanggil untuk meminta tempat sirihnya. Paman Jinaka rupanya suka makan sirih. “Mari ke sini tempat sirihku,” pinta pamannya. Namun Jinaka menjawab dengan lugu. “Tadi kulihat terjatuh sewaktu di perjalanan, Mama.”
“Ihhh, kenapa tak kamu ambil kalau sudah lihat terjatuh?” Bentak pamannya.
“Paman tak ada menyuruhku sebelumnya untuk mengambil,” Jinaka cukup menjawabnya sedemikian. Akhirnya dia kena bentak. Di lain kali Jinaka diingatkan untuk mengambilnya kalau terjatuh dari kuda. “Bukan hanya tempat sirihku saja yang harus kamu ambil kalau terjatuh dari kuda,” pesan pamannya. Lalu dengan enteng pamannya tak risau lagi dengan tempat sirih baru yang menggantikan yang hilang itu. Dari tempat perjudian juga pamannya memanggil Jinaka dengan suara keras. “Jinaka, bawa ke sini tempat sirihku!”
Jinaka tergesa-gesa menyerahkan tempat sirih pamannya. Namun tiba-tiba pamannya mencium sesuatu yang bau. “Apa ini, Jinaka?” Pamannya memperhatikan isi tempat sirihnya yang ternyata sudah berisi tai kuda. “Tai kuda, Mama,” jawab Jinaka. Pamannya dengan setengah marah hampir menampar Jinaka dan bertanya-tanya: “Kenapa kamu masukkan tai kuda ke tempat sirihku, Jinaka?” Lalu dengan enteng pula Jinaka menjawab: “Tapi Paman suruh aku mengambil apa saja kalau terjatuh dari kuda kan? Kulihat juga tai kuda itu berjatuhan, ya kuambillah!”
Paman Jinaka tak habis pikir dengan kebodohan bre atau keponakannya itu. Lalu suatu pagi si paman menyuruh Jinaka tinggal saja dengan kuda. “Aku mau jalan sendirian tanpa kamu dan kuda,” kata paman. Namun Jinaka bersikeras tak mau ditinggal. “Kamu tak bisa ikut. Tapi kalau kamu tak berbuat kesalahan lagi bisalah ikut.”
Jinaka berjanji tak akan berbuat kesalahan. Lalu pamannya sedikit tenang dan berpesan kembali. “Nanti kamu tambatkan kudaku di tempat yang hijau dan subur ya.” Jinaka merasa mengerti kalau kuda pamannya cukup ditambatkan sesuai dengan apa yang didengarnya. Kebetulan dia teringat dengan suatu tempat yang luas yang agak jauh dari tempat perjudian. Tempat yang luas itu sedang menghijau dan kelihatan subur. Tak terpikir oleh Jinaka kalau tempat itu adalah sawah. Di sanalah kuda pamannya ditambatkan. Setelah ditambatkannya dia merebahkan diri di bawah sebuah pohon.
Setengah tertidur, Jinaka seperti kena tampar. “Hayo, bangun! Kudamu sudah merusak sawahku.” Seorang ibu kemudian menjewernya. “Itu bukan kudaku. Tapi kuda pamanku,” Jawab Jinaka terkejut. Ibu itupun menarik-narik sebelah kuping Jinaka ke tempat perjudian. “Yang mana mamamu, tunjukkan!” Di tempat perjudian itu ada beberapa orang pria berkumis. Salah seorang adalah paman Jinaka. “Kenakai, Jinaka? Kenapa, Jinaka?” pamannya spontan berdiri. Ibu itu langsung memberondong tuntutannya ke arah paman Jinaka. “Sawahku dirusak. Aku mau minta ganti rugi!” Benar yang dipikir pamannya kalau Jinaka berbuat kesalahan lagi. Sewaktu dia mencoba memanggil Jinaka, si Ibu itu tak henti-henti melancarkan tuntutannya. Jinaka pun merasa ketakutan setelah mengatakan: “Bukan aku yang merusak sawah itu, Mama. Tapi kuuudaaa.” Demikianlah Jinaka mulai menunjukkan rasa takutnya setelah tak mampu tak mengulangi kesalahan. Namun pamannya harus membayar ganti rugi dengan sisa uang dari 200 ringgit untuk modal judi. Untuk melanjutkan permainan judinya paman Jinaka sudah sering meminjam uang. Saat itu juga dipinjamnya uang dari seorang pembeli manusia yang turut berjudi di tempat itu. “Silih, aku tak bisa meminjamkan uangku lagi kepadamu tanpa boroh,” kata pembeli manusia itu. “Tak usah minta boroh. Aku mau langsung menjual Jinaka kepadamu.” Begitulah akhirnya kekesalan paman Jinaka berpuncak. Lalu pembeli manusia itu menyerahkan tambahan 250 ringgit sebelum membawa Jinaka ke kampungnya.
Pembeli manusia itu membeli manusia untuk dijadikan budak-budak. Suatu kali Jinaka dibawanya mencari manusia lain untuk dibeli. “Hei, Jinaka. Apakah kamu akan lari kalau kutinggalkan sebentar di sini?” Pembeli manusia itu bertanya karena selintas dari pandangannya melihat seekor rusa. Jinaka menjawab saja dengan: “Ya, aku akan lari kalau ada kesempatan!” Tangan Pembeli Manusia langsung melayang ke wajah Jinaka mendengar reaksi itu. Kemudian Jinaka diikatkan di bawah pohon sebelum Pembeli Manusia mencari rusa.
Tidak kebetulan pula lewatlah seorang pemburu dari tempat Jinaka diikatkan. “Eh, eh. Kuakap belkih kepe jelme. Kukira rusa rupanya manusia. Hei, anak singuda. Ise gelarndu?” Jinaka merasa mendapat inspirasi mendengar ucapan pemburu rusa itu. Lalu dia berpura-pura menangis. “Eh, eh, anak muda. Siapa namamu? Jangan menangis dulu,” semakin kalimat itu diulangi Jinaka pura-pura menambah tangisannya. “Tolonglah aku,”kata Jinaka. “Aku menolak dijodohkan pamanku dengan putrinya. Kalau aku mau pasti tidak diikatkan di sini.” Mendengar pengakuan Jinaka seperti itu si pemburu rusa agak heran. “Kenapa kamu tak mau dengan putri pamanmu?” Jinaka mencari-cari jawaban yang bisa menarik perhatian si pemburu rusa itu. Akhirnya si pemburu rusa itu mau menggantikan Jinaka diikatkan sampai pembeli manusia muncul kembali.
Jinaka melarikan diri ke Simalungun. Di sana namanya digantikan menjadi Jonaha. “Dob dua bulan ham i Simalungun on, Jonaha. Sinjah pe ham naroh ijonma iananmu tading. Sudah dua bulan kamu di Simalungun ini. Dari manapun kamu datang di sinilah tempatmu tinggal,” begitulah ibu angkat Jonaha di Simalungun meyakinkan agar Jonaha baik-baik membantunya di sawah. Sejak di Simalungun sebuah kecapi dimiliki oleh Jonaha. Sewaktu dia asyik memainkan kecapi, ibu angkatnya menyuruh dia pergi membersihkan sawah. “Sawah kita akan bersih dari rumput-rumput selagi kumainkan kecapi ini, inang,” begitu Jonaha menanggapi suruhan ibu angkatnya. “Percayalah, inang,” tambah Jonaha karena ibu angkatnya benar-benar tak percaya. Namun entah karena apa ibu angkat itu mencoba memeriksa rumput-rumput di sawah.”Jonaha, sudah kulihat juma kita. Benar yang kamu bilang. Sawah kita memang sudah bersih dari rumput-rumput.” Sambil berteriak gembira Jonaha semakin memainkan kecapinya. Dengan alat yang satu itu dia pergi berkeliling ke berbagai kampung untuk meyakinkan banyak orang kalau kecapi itu benar-benar sakti.
Kabar kesaktian kecapi Jonaha tedengar pula ke telinga si pemalas. Dengan segera dijumpainya Jonaha. “Lawe, aku ingin memiliki husapimu.” Jonaha langsung pura-pura menolak. Namun di dalam hatinya ada niat akan memberi kecapi itu kalau si pemalas dapat mengeluarkan emas simpanan istrinya. “Baiklah, lawe. Aku berani menyerahkan emas ini kepadamu,” si pemalas pasrah menyerahkan emas yang dijemputnya dari rumah dan bersemangat menerima kecapi Jonaha. “Tapi tunggu dulu,” potong Jonaha sambil menarik kecapi itu sementara dari tangan si pemalas. “Untuk memainkan kecapi ini ada tiga syaratnya. Pertama, harus diletakkan di atas para-para di rumah. Yang kedua, kecapi ini baru bisa dimainkan setelah tiga hari tiga malam disimpan.”
“Dan syarat ketiga?”
“Jaga kecapi ini agar jangan dimainkan oleh anak-anak,” lanjut Jonaha. Si pemalas dengan bersemangat menerima kecapi itu setelah dibungkus Jonaha dengan potongan kain berwarna merah. Dua hari kemudian Jonaha mencoba jalan-jalan ke tempat mangkal si pemalas di sebuah kedai. Si pemalas kelihatan sedang bermain catur. Namun tiba-tiba kedengaran suara kecapi dengan bunyi yang tidak teratur. “Suara husapi siapa itu, lawe?” tanya Jonaha. Si pemalas sempat mengira kalau itu bukan bunyi kecapinya. “Belum waktunya kecapiku itu berbunyi. Ini belum tiga hari,” kata si pemalas sambil curiga mendengar bunyi kecapi yang semakin serampangan. Tiba-tiba si pemalas berlari ke arah rumahnya. Dari arah rumahnya kemudian dia berteriak kalau kecapinya itu sudah dibunyikan anak-anaknya. “Lawe, kecapiku sudah dibunyikan anak-anakku. Malahan sudah dirusak!” Teriakan si pemalas itu pertanda keberhasilan tipuan Jonaha. Anak-anak si pemalas awalnya penasaran dengan bungkusan kain merah dan mengira isinya kue.
Si pemalas masih terus berteriak-teriak marah sambil mengejar anak-anaknya. Lalu Jonaha berpikir kalau kemarahan si pemalas bisa merembes kepadanya. “Lebih baik aku pindah ke kampung lain,” Jonaha memutuskan seketika. Di kampung lain dia melihat banyak orang sedang bermain judi. Lalu dia berambisi menjadi orang kaya seperti pamannya. Dengan hasil tukar emas yang diterimanya dari si pemalas dia mulai melakukan kebiasaan bermain judi. Permainan judi itulah yang menjadi kebiasaan Jonaha selain menipu. Jonaha bukanlah petarung yang pernah menang di setiap gelanggang judi. Kekalahannya selalu membuat dia berhutang kepada penduduk kampung terbarunya. Di kampung terbarunya itu pula dia mendapatkan jodoh. “Istriku, siapa di kampung ini yang berbaik hati untuk dapat meminjamkan uang kepada kita?” Pertanyaan ini tidak terlalu sulit untuk dijawab istri Jonaha. “Kukira amang Pandorap dapatmeminjamkan uang kepada kita.”
Tak berapa lama mereka pergi ke rumah Pandorap setelah istrinya mencoba terlebih dahulu. Istri Jonaha memohon kepada Pandorap agar meminjamkan uang beberapa ringgit. “Tapi tiga atau empat hari kamu harus membayar hutangmu ya, Jonaha.” Pandorap langsung mengingatkan Jonaha karena tak biasa dia meminjamkan uang berlama-lama kepada siapapun. “Tolu aripe taho, amang. Tiga haripun jadi, pak,” janji Jonaha agar Pandorap segera memberikan uangnya.
Tiga hari kemudian Pandorap benar-benar datang ke rumah Jonaha. Sebelum mendekat ke pintu rumah, Pandorap sudah berseru. “Horas, lae Jonaha. Nunga ro ahu. Aku sudah datang, lae Jonaha.” Mendengar suara Pandorap dari luar, seketika Jonaha berpikiran agar pembayaran hutang ke Pandorap dapat diselesaikan dengan cara khusus. “Tu bagasma, hamu amang. Masuklah kalian, pak,” dibukakan pintu rumah untuk Pandorap. “Pembayaran hutangku sudah tersedia, amang. Tapi tak enak kalau aku harus langsung membayarnya. Aku ingin pergi ke hutan dulu memburu burung untuk kita makan berdua.” Jonaha mencoba pura-pura sopan. Dia sudah tahu kebiasaan Pandorap yang doyan makan daging apa saja tanpa memperhatikannya. “Kukira amang dapat bersabar sampai aku pulang dari hutan.” Mendengarnya Pandorap tentu tak sabar dengan menawarkan diri ikut ke hutan. Sebelum berangkat Jonaha masih sempat membisikkan sesuatu kepada istrinya. “Tolong masakkan enam ekor ayam remaja untuk kami makan nanti sepulang dari hutan.”
Tidak berapa lama mereka sampai di hutan yang penuh dengan suara-suara burung. Dengan gayanya Jonaha mengeluarkan sebuah sumpit dari balik punggungnya. “Amang, sumpit inilah satu-satunya yang membantu aku dan istriku untuk mendapatkan daging.” Pandorap masih diam saja mendengar pengakuan Jonaha. Tiba-tiba Jonaha melompat dan mengarahkan anak sumpitnya ke seekor burung di antara pohonan tinggi. Namun anak sumpit itu kelihatan tidak kena sasaran. Malahan burung itu terbang tiba-tiba entah kemana. “Hei, burung. Segeralah engkau terbang ke rumah dan masuk ke kuali istriku.” Ucapan itu agak mengejutkan Pandorap. Sampai enam kali Jonaha mengarahkan anak sumpitnya ke arah burung yang hinggap, Jonaha selalu mengulangi ucapan yang serupa di atas. “Amang, enam ekor burung sudah kuperintah setelah mengarahkan sumpitku ini. Marilah pulang karna kita akan menyantap keenam burung itu.” Pandorap tetap diam tanpa komentar karena yang penting baginya adalah pembayaran hutang Jonaha dan tawaran makan.
Di rumah Jonaha, bau daging bersantan menyambut dekat pintu. Istri Jonaha rupanya sudah menyajikan masakannya di atas tikar. “Lihatlah, amang. Kita tinggal bersantap.” Rasa heran Pandorap tiba-tiba muncul dengan sajian itu. Dia langsung mengira yang tersedia itu adalah keenam burung yang diarahkan dari hutan. “Sekarang baru tau kalau sumpit ini luar biasa.” Pandorap tak mampu menahan rasa kagumnya. Lalu dia meminta Jonaha menyerahkan sumpit itu kepadanya. Pikir-pikir dengan sumpit itu Pandorap setiap saat gampang mendapatkan burung dari hutan. “Begini saja, Jonaha.” Pandorap kelihatan semakin serius untuk memiliki sumpit itu. “Asal sumpit ini menjadi milikku, semua hutangmu tak perlu dibayar lagi.” Mendengar kalimat seperti ini Jonaha merasa gembira di dalam hatinya. Kegembiraan itu bukan sekedar karena hutang lunas. Namun tipuannya tak pernah gagal.
Di balik tipuan itu, Jonaha juga tetap punya rasa takut. Setiap tipuannya berhasil dia selalu segera pindah ke daerah lain. Seorang ahli judi bernama si Altup juga pernah ditipunya. Awalnya Jonaha minta diajari agar selalu menang bermain judi. “Satu ilmu untuk menang bermain judi harus kamu bayar satu ringgit.” Itulah syarat yang diterima Jonaha dari si Altup. “Saya akan membayar berapa ilmu yang disampaikan kepada saya. Namun karena saat ini saya belum punya uang, genapkanlah hutang saya menjadi tiga ringgit dengan meminjamkan dua ringgit lagi. Saya akan membayarnya setelah menang bermain judi.” Jonaha meminta kepada si Altup. Dua hari sebelumnya Jonaha sudah meminjam uang dari tiga sekawan bernama si Togop, si Tukuk, dan si Tohang. Uang yang dipinjam Jonaha juga untuk modal judi. Ketiga sekawan ini termasuk jago pukul. Apalagi si Tukuk yang orangnya bisu. Dengan kepalan tangan, Tukuk mengancam Jonaha kalau tidak membayar hutangnya.
Si Altup juga termasuk yang suka memaksa kehendak. Sesuai dengan waktu yang dijanjikan dia menjumpai orang yang berhutang kepadanya.”Jonaha, ini sudah empat hari. Waktunya kamu membayar hutangmu.” Waktu itu Jonaha sedang berada di dapur sebelum menyambut kedatangan si Altup. “Jolo hundul majo hita, lae. Alangkah baiknya kita duduk dulu, lae.” Begitu awal sopan santun yang ditunjukkan Jonaha kepada si Altup. Di rumah Jonaha kelihatan sepi tanpa istri. “Di mana istrimu, Jonaha?” Si Altup mencoba bertanya. Lalu Jonaha menjawab kalau istrinya sudah seminggu membantu pengambilan panen padi Raja Kampung. “Seminggu aku terpaksa masak dengan apa adanya di rumah ini, lae.” Kata Jonaha tanpa mengira kalimat itu muncul dari mana. Kalimat berikutnya semakin lancar diucapkan. ”Seandainya istriku di sini aku akan menyuruhnya memasakkan daging lezat. Setiap hari aku selalu mendapatkan sekerat daging kalau aku mengasah pisau ke batu asahan yang diwariskan almarhum ibuku kepadaku.”
“Aneh bin ajaib. Selama ini aku tak pernah mendengar sebuah batu asahan dapat memberi sepotong daging kalau pisau diasah di atasnya,” reaksi si Altup. Dengan air muka yang dibuat-buat Jonaha semakin menemukan kata-kata jitu untuk meyakinkan. “Hanya batu asahan inilah yang diwariskan ibuku kepadaku. Sebenarnya ini sebuah rahasia. Baru kepada lae aku mengungkapkannya. Sebentar lae tunggu di sini,” Jonaha mengeluarkan sebuah gaya baru dan pergi ke dapur. Dari dapur dia kedengaran mengasah pisau dan menguc apkan kata daging berulang-ulang. “Inilah daging yang muncul dari batu asahan itu, lae. Lae bisa bawa daging ini karena saya tidak pintar memasaknya.”
Si Altup berpikir-pikir. “Kenapa tidak?” Namun dicoba keraguannya dengan menanya ulang Jonaha yang semakin pintar menyampaikan sebuah jawaban. “Aduh, lae. Tak mungkin batu asahan ini kuserahkan kepada lae untuk menebus hutang. Masalah utama bukan tidak berani memberi. Tapi kukira lae dapat lupa akan melangkahi batu asahan ini suatu saat.” Entah setan apa yang membuat si Altup bertahan ingin memiliki batu asahan itu, Jonaha semakin melancarkan ucapan dan gaya tipuan barunya. “Begini saja. Lae bisa membawa batu asahan ini dengan syarat tak bisa terlangkahi. Kalau terlangkahi, kesaktiannya kan hilang.” Si Altup semakin kesetanan setelah mendapatkan batu asahan itu dan melepaskan semua hutang Jonaha.
Beberapa saat Jonaha bergembira dalam hati karena berhasil menipu si Altup. Belum sepenuhnya kegembiraan itu tumpah dalam ketawanya, tiga sekawan sudah dating menyusul. Jonaha dianggap sudah gila karena terbahak-bahak. “Mungkin dia sudah gila karena hutangnya terlalu banyak,” kata si Tohang. “Sebelum lari mari kita tangkap dan ikat.” Ketiganya lalu mengikat Jonaha pada sebilah papan panjang sebelum menyuruhnya berjalan. “Mana mungkin aku bisa jalan dengan terikat begini,” jawab Jonaha. “Sebaiknya kalian lepaskan saja aku agar bisa berjalan ke tempat yang kalian inginkan.” Ketiga sekawan itu sudah sepakat untuk menjual Jonaha. Mereka tak mau melepaskan Jonaha dari papan ikatan itu. “Kalau begitu kalian angkat saja aku ke tempat penjualan manusia biar aku benar-benar tak bisa lari,” lanjut Jonaha. Ketiganya pun terpaksa mengangkat Jonaha. Namun di tengah jalan ketiganya terasa capek dan kehausan. Mereka menurunkan Jonaha dan mengikatnya ke batang pohon sebelum mencari-cari sumber air. Senyum kembali mulai muncul dari wajah Jonaha. Seorang penduduk kampung bernama si Bindoran melihat Jonaha terikat. Lalu Jonaha didekati. “Kenapa kau terikat di sini, Jonaha?” Lalu Jonaha dengan lihai berpura-pura sedih. “Aku tidak tahu bagaimana caranya lari dari sini. Tiga pesuruh raja mengikatkan aku di sini karena aku tak mau menikah dengan putrid raja. Seperti yang engkau tahu aku sudah punya istri. Tak mungkin aku mempunyai dua istri.”
Si Bindoran adalah seorang duda yang sudah lama ditinggal mati istrinya. Bagi dia pengakuan Jonaha menjadi semacam jalan terang. Dia tanpa bertanya-tanya bersedia menggantikan Jonaha diikatkan. “Aku harap lae dapat berbahagia dengan putri raja dan menggantikan aku. Namun aku masih berharap agar lae memberi beberapa ringgit untuk modalku pergi dari kampung ini.” Si Bindoran tidak susah-susah menyerahkan ringgit yang dimilikinya. Sejak itu Jonaha pergi ke daerah lain yang menurutnya aman dan melancarkan kebiasaannya bermain judi serta menipu.
Kabar terakhir Jonaha sudah menjadi seorang tuan tanah di sebuah kampung. Semua tanah yang dimilikinya terkait dengan penipuannya. Dengan kekayaan dia bisa memerintah orang. Suatu ketika pada musim durian, beberapa penduduk diperintahkan jangan terlalu subuh memungut durian-durian yang terjatuh dari pokoknya. “Semalam saya bermimpi bertemu dengan harimau. Harimau itu berpesan kepadaku agar kalian jangan melakukan seperti yang kuperintahkan barusan.” Beberapa hari penduduk itu melaksanakan perintah Jonaha. Beberapa hari kemudian mengabaikan larangan itu mencari durian pada subuh hari. Apa yang diperintahkan Jonaha mulai mereka langgar. “Kita tak pernah lagi menemukan sebiji durian setelah subuh.” Penduduk sangat geram mengeluarkan kegelisahannya. Subuh hari setelah beberapa hari mereka ramai-ramai mengendap ke sekitar pokok durian itu. Mereka perhatikan ada bunyi langkah dengan perlahan. “Ssst, mungkin itu bunyi langkah harimau. Hati-hati.” Mereka saling mengingatkan. Semakin mereka perhatikan bunyi langkah itu semakin terasa seperti langkah manusia. Seseorang mencoba memastikan. Rupanya orang yang melangkah itu kelihatan seperti Jonaha. Jonaha mulai memunguti durian-durian yang berjatuhan. Tidak seberapa lama ada pula bunyi langkah yang agak aneh. Tiba-tiba suara teriakan Jonaha meledak. “Tolong, tolong! Aku diterkam harimau!” Semua penduduk di sekitar pohon durian itu mendengar suara Jonaha dengan jelas. Harimau benar-benar menerkamnya. Penduduk sebagian berlari ke kampung dan sebagian lagi mencoba bersembunyi sampai yakin kalau harimau itu sudah pergi. Keluar dari persembunyian mereka mendekat ke arah mayat Jonaha. Kepala Jonaha hampir lepas karena bagian tengkuknya tepat menjadi sasaran utama harimau. Kabar itu tersebar ke seluruh pelosok kampung. Jonaha penipu ulung itu akhirnya mendapat ganjarannya dengan terkaman harimau.
*Ditulis berdasarkan sejumlah versi (Karo, Simalungun, Toba) dan sudah dicoba menjadi sample cerita untuk Simulasi Pelatihan Opera Batak oleh PLOt di Siantar, 31 Nopember 2008. Cerita dikonstruksi berdasarkan teks pertunjukan terbaru.

Published in: on Mei 22, 2009 at 5:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

cerita “siboru tumbaga”

SIBORU TUMBAGA*
Oleh: Thompson Hs
E-mail: thompsonhs@ymail.com

Di desa Sisuga-suga tinggallah seorang tua bernama Ompu Guasa. Dia mempunyai seorang adik bernama Amani Buangga. Namun sang adik tidak seperti abang yang sudah lama memiliki banyak harta. Konon pada masa mudanya Ompu Guasa rajin berniaga ke daerah Barus serta banyak kenalan. Sekarang uban mulai menjadi mahkota di kepalanya. Sehari-hari pun sudah lebih suka berdiam di rumah untuk merenungkan perjalanan hidup. Tiba-tiba beliau teringat kembali kalau belum memiliki seorang anak lelaki untuk mewarisi semua hartanya. Istrinya pun sudah lama meninggal. Dua putrinya, bernama Siboru Tumbaga dan Si boru Buntulan, tak mungkin mewarisi semua harta kelak. Adat selama ini seperti memastikan hak waris hanya dapat diteruskan oleh anak laki-laki. Kenyataan itulah yang sering membuat Ompu Guasa gelisah meskipun adiknya mempunyai keturunan laki-laki.
Kegelisahan ompu Guasa sangan tekesan dalam batuknya. Namun selalu beliau menyembunyikan perasaan dengan mengambil salohat. Alat musik dari bambu itu selalu diselipkan di kantong baju dan dilap sesekali dengan selempangnya, sehelai ulos ragihotang. Jemarinya menekan-nekan empat lobang jenis seruling itu sampai perasaannya dapat terbenam.
“Among,” kedua putrinya sebentar menghentikan tiupannya karena mau permisi, “kami pergi dulu ke sawah. Ayah tinggal di rumah sajalah ya.”
“Ya, berangkatlah kalian!” jawabnya sebelum melekatkan alat musik itu kembali ke bibirnya. Sendirian di rumah, Ompu Guasa nampaknya akan lebih leluasa memainkan salohatnya samapi terkadang seperti ratapan. Ratapannya memang menjadi tersimpan rapi dalam permainan alat musik itu. Beliau tidak pernah mampu meratap dengan andung karena tidak pintar berkata-kata.
Belum tuntas semua kegelisahan, kedua putrinya tiba-tiba kembali ke rumah. Mereka terusik dan tak tahan di tengah jalan mendengar senandung seorang gembala. Sebenarnya mereka ingin meneruskan langkah sampai ke sawah. Namun hati Siboru Tumbaga langsung seperti disayat sembilu setelah mendengar senandung itu.
“Kenapa kalian kembali tiba-tiba,boruku?” dilihatnya sedikit rasa cemas di wajah putri sulungnya Siboru Tumbaga. Demikian pada wajah Siboru Buntulan, adik satu-satunya Siboru Tumbaga.
“Begini among. Kami sangat berharap agar ayah segeralah menikah lagi,” tandas Siboru tumbaga. Ompu Guasa menduga kalau kegelisahannya selama ini mengalir dalam permintaan kedua putrinya itu. Namun beliau masih mencoba menolak.
“Mana mungkin aku dapat menikah lagi setua ini. Mataku pun sudah mulai rabun. Perempuan mana lagi yang bersedia dapat kuperistri, wahai putriku? Sudahlah! Biarlah kuterima nasibku.”
“Kumohonkan, among. Jangan lagi menolak permintaan ini. Tadi sebelum mendadak kembali ke rumah ini, ada seorang gembala melantunkan lagu bergini: Duhai, perahu di tengah danau! Andai dayungmu patah, kemana gerangan engkau hanyut? Wahai, sang putri yang gemulai. Andai ayahanda mati, kemana gerangan engkau berpaut! Begitulah yang kami tangkap, among!”
“Sudahlah. Kalau takdir pada badan sudah begini diberikan Sang Mukajadi Nabolon, aku tetap bisa menerimanya.” Entah kesekian kalinya Ompu guasa mencetuskan perkataan itu di hadapan kedua putrinya. Namun kerena Siboru Tumbaga tetap mendesakkan permintaan, akhirnya Ompu guasa bersedia. “Kalau begitu terserahmulah, Boru Tumbaga kalau aku harus menikah lagi. Lakukanlah apa yang bisa engkau lakukan.”
Mendengar perkataan terakhir itu, Siboru Tumbaga tergerak untuk berangkat ke Barus. Di Barus ada seorang dukun bernama Datu Partungkot Bosi. Sang dukun sudah lama terkenal dengan berbagai keahliannya untuk meramalkan sesuatu. Datu Partungkot Bosi juga ahli tersohor di wilayah barat negeri yang menguasai debata ni parmanukon, semacam peta baik-buruk untuk sesuatu yang direncanakan. Dari desa Sisuga-suga ke Barus akan melalui hutan dan tempat-tempat berbahaya bagi kaum perempuan. Kemudian Siboru Tumbaga melakukan penyamaran seperti lelaki. Dipilihnya salah satu pakaian dari lemari ayahnya dan dilengkapi dengan topi. Satu lagi dia tidak lupa menggunakan kumis palsu. Sampai kebetulan ketemu di tengah hutan dengan Datu Partungkot Bosi, Siboru Tumbaga selalu berusaha menciptakan gerak-gerik menyerupai seorang laki-laki suruhan. Terkadang dia ketakutan juga dengan penaymarannya.
“Bah, lae! Kenapa kau ketakutan melihatku?” tiba-tiba dari seorang lelaki dihadapannya. “Kita tidak kebetulan sama-sama manusia juga di tengah hutan ini. Kenapa engkau kelihatan takut?”
“Kuucapkan salam kepadamu, lae. Horas!” Balas Siboru Tumbaga ambil berusaha menirukan suara lelaki. “Kebetulan aku hendak ke negeri Barus menemui Datu Partungkot Bosi.”
“Kuharap kau jangan berpura-pura tidak mengenalku. Akulah Datu Partungkot Bosi. Lalu kenapa engkau memerlukanku?” Siboru Tumbaga sempat tidak percaya kalau yang dijumpa di tengah hutan itu adalah Datu Partungkot Bosi. Namun dengan melihat tampangnya yang serupa dengan cerita Ompu Guasa, Siboru Tumbaga mengakui dirinya sebagai suruhan Ompu Guasa. Rupanya Ompu guasa adalah sahabat lama Datu Partungkot Bosi.
Datu Partungkot Bosi tidak begitu sulit menduga hal-hal baik dan buruk melalu debata parmanukon. Datu Partungkot Bosi benar-benar melihat tanda ajal dari sahabat lamanya itu. Lalu disarankan kepada Siboru Tumbaga gar melarang Ompu Guasa ke luar rumah dalam waktu seminggu. Namun karena Ompu Guasa suatu hari berkeras mau memeriksa awah dan hewan peliharaannya, ramalan Datu Partungkot Bosi itupun terjadilah. Beberapa orang penduduk yagn melihatnya tergelincir di pinggir sawah tergesa-gesa memberi kabar kepada kedua putri yang sedang membersihkan sekeliling rumah. Namun sampai di rumah nampaknya Ompu guasa tidak lama lagi menghembuskan nafas terakhir sebelum menyampaikan pesannya.
“Boru Tumbaga dan Boru Buntulan, simpanlah barang-barang berharga untuk kalian berdua. Bayangan ibumu sudah sangat dekat untuk men…jem…putttku.”
pilu yang sangat mendalam akhirnya memperkuat tangisan Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan. Ditambah lagi ratapan dari beberapa orang di dalam rumah, penduduk lain desa Sisuga-suga bergegas menuju arah tangisan. Saru-satunya manusia yang menahan dirinya tidak bergegas ke sana adalah Amani Buanga. Dia baru ke sana setelah dijemput.
Melewati pintu rumah yang sedang berduka itu, Amani Buanga sengaja berpura-pura mengatakan “Bah! Apakah ayahmu ini sudah betul-betul meninggal?” Sambil diarahkanny kepada Siboru Tumbaga. “Sekarang ayahmu sudah meninggal, Boru Tumbaga dan Boru Buntulan. Di mana kalian simpan semua harta itu?” Tentu bukan saja kedua putri itu terkejut dnegan perilaku Amani Buanga. Salah seorang tetua kampung mencoba mengingatkan agar Amani Buangga berpikir duluan untuk melaksanakan adat penguburan jasad Ompu Guasa

*diambil dari cerita garapan opera batak yang pernah dipentaskan grup opera silindung (gos) di beberapa kota dari tahun 2003 sampai 2005.

Published in: on Mei 22, 2009 at 5:08 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

PESTA DANAU TOBA DAN SBY

                                    Oleh Thompson Hs

 

Hujan lebat mewarnai penutupan Pesta Danau Toba atau PDT di Parapat pada malam 18 Juli 2008. Namun dengan kehadiran Presiden SBY langkah-langkah masyarakat tidak surut menuju Open Stage, tempat penutupan sekaligus lokasi utama berbagai kegiatan PDT. SBY sebelumnya telah berjanji untuk hadir pada penutupan seandainya jadwalnya masih bisa diperpanjang dari 16 Juli. Permintaan itu disampaikan langsung oleh Gubsu H. Syamsul Arifin, SE tepat sewaktu pembukaan yang tidak kebetulan dihadiri Menteri Kehutanan M.S Kaban dan sejumlah pejabat lokal plus petinggi partai pada saat pembukaan sore 14 Juli 2008 lalu.

Menurut Gubsu, kesibukanlah yang membuat Bapak Presiden meminta pengunduran jadwal penutupan itu. Seandainya  Bupati Simalungun, Zulkarnaen Damanik tidak sudi memenuhi permintaan itu mungkin untuk kedua kalinya SBY akan gagal hadir ke Simalungun. Kegagalan pertama telah terjadi ketika Panen Raya di Kecamatan Hutabayu pada 7 Maret 2007. Nampaknya kepentingan hadirnya presiden ke Simalungun masih perlu dengan panen raya lainnya di Desa Pardamean Kecamatan Panombean Pane, sekaligus jika memungkinkan untuk meresmikan gedung perkantoran Pemkab Simalungun yang pindah ke Raya sejak 16 Juni lalu. Akhirnya SBY bisa hadir pada 19 Juli ke panen raya itu sekaligus menyerahkan dana bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri tahun 2008 sebesar Rp. 413, 7 Milyar melalui Gubsu secara simbolis.

            Parapat juga merupakan bagian dari wilayah Simalungun secara administratif. PDT berlangsung di kota Parapat sejak 1984 atas gagasan Gubsu EWP Tambunan. Pelaksanaan PDT yang terhenti pada 1997 ingin dilaksanakan kembali tahun 2008 ini dengan jadwal yang seyogyanya berlangsung pada 13 – 16 Juni lalu. Namun kepanitiaan yang dioperasikan seorang pengusaha dari Jakarta itu mengadakan pengunduran melalui pemberitaan publik atas kemungkinan Presiden SBY untuk membuka atau menutup PDT. Pengunduran dengan kemungkinan hadirnya SBY merupakan alasan yang paling menonjol dari panitia. Panitia cukup yakin akan kehadiran SBY ke PDT hingga kemungkinan itu benar-benar terlaksana.

            Pengunduran jadwal PDT selama sebulan dibayangkan masih tetap terpenuhi oleh berbagai kegiatan seni dan budaya. Pengunduran sebulan itu dapat diduga hanya untuk merapikan persiapan-persiapan yang belum matang. Panitia telah berencana mengadakan tiga panggung setiap malam untuk sejumlah pertunjukan dari artis lokal dan ibukota, di samping bentuk-bentuk pameran, kegitan ekonomi, dan lomba pada siang hari. Salah satu pertunjukan lokal yang direncanakan (tapi gagal) menyangkut cerita terjadinya Danau Toba. Sedangkan dari Jakarta didatangkan trio-trio populer beserta grup lawak.  

PDT hampir 12 tahun dinantikan kembali oleh masyarakat sekitar Danau Toba karena kegiatan-kegiatan yang menarik  itu. Kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri juga dirasakan terpicu dan menaikkan tingkat hunian.hotel-hotel dan penginapan di Parapat. Hal itu selalu terbukti selama pelaksanaaan PDT selama ini yang bertepatan dengan masa libur anak-anak sekolah. Namun kota Parapat sungguh sedikit ramainya sebelum SBY dipastikan datang  Hampir setiap malam hujan selalu turun. Sehingga prediksi kedatangan SBY akan gagal kalau hujan terus turun pada saat penutupan itu. Salah satu hubungan kedatangan SBY dengan hujan mungkin sama pentingnya dengan fasilitasi standard yang dipersiapkan selain masalah keamanan.

Masyarakat sangat berharap agar SBY tetap datang dan hadir ke kota Parapat. Masalah hujan tergantung teknis menyediakan ”payung”. Masyarakat juga berharap agar panitia dapat membagi-bagikan payung sebelum hujan. Namun kerelaan masyarakat  untuk melihat presidennya pasti lebih mendorong. Siswa-siswi dari sejumlah sekolah ikut tergiring untuk keramaian penutupan PDT. Mudah-mudahan besoknya mereka diliburkan ke sekolah.

Kehadiran SBY dalam penutupan PDT  2008 benar-benar disambut ribuan masyarakat. Melalui pidatonya SBY mendorong  pengembangan wisata Danau Toba menjadi objek andalan nusantara dan kebanggaan dunia. Kepercayaan mengelola danau hasil tekto-vulkanik ribuan tahun itu disampaikan kepada gubernur dan para bupati sekitar Danau Toba. SBY mengakui, tidak banyak pesona alam di dunia ini yang memiliki kekhasan seperti Danau Toba. Keindahan alam, nilai sejarah, pesona seni dan budaya, dan ekosistem Danau Toba perlu dilestarikan.

Anjuran SBY tidak mungkin sekedar dalam pidato, apalagi kunjungannya dalam penutupan ini adalah yang kedua kali. Keramba-keramba yang mulai mengganggu perairan Danau Toba pasti terkait dengan masalah ekosistem. Eceng gondok selalu menggangu keindahan alamnya. Sampah-sampah yang terbuang ke Danau Toba tak lagi terhitung jumlahnya. Namun masuknya perusahaan keramba dan ternak yang mengotori ekosistem Danau Toba konon diizinkan dari Jakarta. Sehingga seni dan budaya yang bernilai tinggi di sekitar Danau Toba semakin sepi dari kunjungan wisata. Termasuk selama PDT 2008. Padahal dana yang telah dikeluarkan mencapai Rp. 4,5 Milyar. Wisata sekitar Danau Toba memang seperti menghadapi keramba-keramba itu. Bapak Presiden belum melarangnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Published in: on Juli 24, 2008 at 8:23 am  Comments (4)  

Alister Nainggolan dan Zulkaidah Harahap:

 

PENERIMA TUNJANGAN MAESTRO 2007

Oleh: Thompson Hs

 

Alister Nainggolan dan Zulkaidah boru Harahap merasa sangat senang ketika Opera Batak mulai dibangkitkan kembali. Maklum, mereka berdua pernah sama-sama menjadi pemain Opera Batak Serindo pimpinan almarhum Tilhang Oberlin Gultom. Itulah salah satu alasan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Pematangsiantar pada 17 Maret 2007 lalu untuk mengajukan keduanya dapat menerima Tunjangan Maestro dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Tunjangan Maestro itu merupakan program yang diwujudkan oleh Mukhlis PaEni, Dirjen Nilai Seni, Budaya, dan Film (NSF)  sejak 2007 untuk para seniman tradisi berusia di atas 50 tahun, dengan pendapatan ekonominya yang memprihatinkan, produktif, dan serta merta dapat melakukan regenerasi. Hasil seleksi terhadap dari 54 calon maestro diumumkan 28 Desember 2007 lalu. Dua dari antara 27 Maestro yang lolos seleksi adalah Alister Nainggolan dan Zulkaidah Harahap. Hasil Seleksi itu tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.48/KU.209?MPK.2007 tentang Pemberian Santunan kepada Seniman Senior Indonesia Tahun 2007. Dana tunjangan untuk setengah tahun pertama 2007 telah diterima pada bulan juni 2008 lalu. susulan dana berikutnya dari pihak kementerian diharapkan menyusul segera.

 

Alister Nainggolan, 70 Tahun.

Bergabung ke Serindo pada tahun 1965, sewaktu ada pementasan Serindo di tempat kelahirannya Sungai Loba, Tanjungbalai dengan menjadi tukang angkat barang-barang dan tenaga keamanan. Kebetulan waktu itu juga Alister baru putus sekolah dari bangku kelas dua SMA. Pada  awal masuknya ke Serindo, Alister mengisi waktu luangnya belajar alat-alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Opera Batak, seperti sulim, sarune (etek & bolon), hasapi, garantung, dan taganing. Kemampuannya menguasai sejumlah alat musik itu, termasuk gamelan Jawa kemudian, meningkatkan karirnya menjadi pemain musik meskipun awal-awalnya hanya untuk menggantikan pemusik yang berhalangan atau keluar dari Serindo.  Minat menjadi pelakon cerita juga dimiliki oleh Alister. Di Serindo Alister pertama kali menjadi pelakon parbaringin, pendeta ritual agama Batak dalam lakon cerita Sisingamangaraja.

Alister bertahan di Serindo sampai tahun 1970 sebelum empat tahun kemudian mendirikan grup Tiurma Opera bersama Erliana boru Silaban, sang istri yang juga pemain dan penyanyi di Serindo. Nama Tiurma Opera sendiri diadopsi dari anak ketiga mereka yang bernama Tiurma. Dengan grup itulah Alister melakukan pentas Opera Batak secara keliling dengan banyak kesulitannya. Sebagai tauke Opera Batak, Alister harus mampu memimpin dan menggaji 40-an pemainnya. Sementara izin, hasil, dan pungutan atas semua pertunjukan yang dilakukan sering tidak seimbang dengan kebutuhan utama para pemain. Akhirnya tahun 1984 Grup Tiurma Opera juga terpaksa dibubarkan, ditambah karena desakan media hiburan terbaru seperti televisi dan filem.

            Beralih dari pentas Opera Batak, Alister tidak berhenti dengan alat musiknya. Sambil menerima kerja informal, Alister mulai mengajari anak- anaknya bermain musik dan bernyanyi. Sampai mempunyai delapan anak, jejak kepintaran Alister bermain musik diikuti. Bahkan dua tiga orang cucunya diajarinya juga pada keahlian tertentu dalam permainan Opera Batak.

Berani berkeliling lagi, mereka membawa musik tradisional Batak ke berbagai tempat di Tapanuli dengan nama Nainggolan Bersaudara. Di Sidikalang (Dairi) pada tahun 1994 empat orang anaknya tampil dengan masing-masing kemampuan memainkan alat musik. Tamrin, si anak sulung menjadi pemain hasapi, Lamtiar menjadi penyanyi bersama ibu, dan dua anak putri lainnya memainkan taganing dan odap. Dalam berbagai kesempatan putri-putri Alister yang bermain taganing menjadi perhatian khusus dan daya tarik penampilan Nainggolan Bersaudara.

Nasib baik memang terkadang mendongkrak popularitas Alister. Pada Oktober 1994 Alister diajak sebuah grup kesenian dari Medan untuk penampilan ke Seicie, Jepang. Di lingkungan grup itulah beberapa bulan beliau sempat menyalurkan kepiawaiannya, terlebih setelah dari Jepang. Namun dorongan berpindah-pindah tempat juga bukan keinginannya. Tahun 1995 Alister ditawarkan seorang temannya bekerja di PT. Mujur Timber Sibolga sebagai mandor pertamanan, sekaligus pemain musik dari grup binaan perusahaan itu untuk setiap kesempatan menghibur muspida. Lima tahun bekerja di perusahaan itu dengan ekonomi yang mulai membaik, Alister merasakan ada yang kurang. Apalagi perusahan itu juga mulai menjadi sorotan publik. Dia mencoba kembali ke Medan untuk bermain musik di pesta-pesta adat dan sesekali pulang ke Sibolga. Tahun 2002 diputuskan bersama keluarga kembali ke Medan dengan menunggu panggilan bermain musik ke pesta-pesta adat.

Tahun 2002 Opera Batak mulai dibangkitkan kembali. Sosok Alister sebagai pemain Opera Batak muncul ketika pentas rekonstruksi lakon Guru Saman di dua tempat (kampus Universitas Sumatera Utara dan Taman Budaya Sumatera Utara). Alister kebetulan mendapat pelakon Jakobus, pemilik kedai tuak yang lugu dan sangat lucu. Gaya bermain musiknya juga tidak kalah menarik dari seorang pemain yang lebih dikenal  oleh publik selama ini. Namun sikapnya dalam kelompok itu masih kelihatan seperti tertekan. Di kemudian hari diketahui kalau Alister selalu tidak cocok dengan gaya displin  para pemain di luar Serindo. Di luar Serindo, Opera Batak terdahulu mencapai 30-an grup dan sering dicap sebagai paropera Sigiring-giring. Beberapa episode terlibat dalam program Opera Batak Metropolitan di TVRI Medan tahun 2004, gaya bermain Alister semakin mendongkrak popularitasnya dengan nama pemeranan Fort de Kock. Nama pemeranan itu sengaja diformat Ben Pasaribu sebagai penggagas program yang inovatif dan pemuat teks-teks terbaru bersama Thompson Hs.

Program di TVRI tidak berlanjut. Sehingga Alister minta dilibatkan dalam pentas Grup Opera Silindung (GOS), sebuah grup percontohan yang mengawali kebangkitan kembali Opera Batak di Tarutung atas dukungan Pemkab Taput waktu itu. Sejak pentas keliling GOS pada Januari 2005, semangat Alister bermain Opera Batak menggebu kembali. Dengan sikap terbukanya berbagai pengetahuan dan teknik permainan diberikan kepada pemain-pemain muda di GOS. Alister juga tidak sungkan-sungkan menawarkan istri dan anak-anaknya untuk terlibat setiap diajak pementasan. Dedikasi dan loyalitas untuk menyalurkan pengetahuannya kepada orang muda selalu ditunjukkan Alister setiap dipanggil untuk pementasan Opera Batak.

 

Zulkaidah Boru Harahap, 61 Tahun.

Zulkaidah muncul belakangan setelah Opera Batak dibangkitkan kembali. Namun aktivitasnya dalam kesenian Opera Batak sudah cukup malang melintang. Sejak usia 15 tahun, tepatnya pada 25 Juni 1963, kelahiran Bungabondar Sipirok ini tertarik masuk Serindo sewaktu pementasan di Sipirok (Tapsel). Menurut pengakuannya, awal masuk ke Serindo menjadi tukang masak selama tiga bulan dan penjaga anak-anak para pemain sebelum dilatih oleh Tilhang Gultom menjadi penari, penyanyi, menjiwai cerita sejarah serta bermain musik. Dari pemain Opera Batak terdahulu Zulkaidah kelihatan satu-satunya sebagai pemain perempuan yang  pintar main seruling dan serunai kecil. Ciri khas vokalnya yang dapat melengking membuatnya juga laris. Itulah yang membuat Zulkaidah sempat mempergelangkan emas di leher, tangan serta kaki. Lagu-lagu Opera Batak yang sering dinyanyikannya dalam setiap pementasan bahkan direkam kemudian ke dalam kaset audio sekitar tahun 1968, beberapa saat setelah berumah tangga. Namun perkembangan beberapa album lagu-lagu yang masih beredar di pasaran saat ini tidak pernah diketahuinya lagi. Nampaknya Zulkaidah sudah terbiasa menerima janji-janji dari produser kaset dan para agen.

Dari tahun 1982 Zulkaidah sempat memimpin Grup Serindo setelah teringat pesan Tilhang Gultom sebelum meninggal dunia pada tahun 1972. Itupun terpaksa dia terima karena Gustafa Gultom, anak kandung abangnya Tilhang mulai sakit-sakitan di Jakarta  Sementara dari keturunan keluarga Tilhang yang tinggal di kampung tak ada yang bersedia menjalankan grup itu. Rapat keluarga Tilhang malahan sempat memutuskan agar usaha Serindo dimasukkan saja ke kolong rumah yang ada di Sitamiang (Samosir), desa tempat kelahiran Tilhang Gultom. Berani dan bertanggung jawab untuk memimpin Serindo, Zulkaidah terpaksa menggadaikan sawah dan semua perhiasannya. Ada 70 orang anggota Serindo yang harus dihidupinya waktu itu. Namun pada tahun 1985 Serindo benar-benar bangkrut sewaktu pentas keliling di Tapsel. Masyarakat di sana juga mulai kurang menyukai tontonan Opera Batak dan kalah bersaing dengan sirkus. Kebangkrutan itu sempat membuat Zulkaidah berniat bunuh diri. Uang sepeser pun tak ada untuk keluar dari Tapsel.

Menyadari semua itu Zulkaidah meratap sampai mengundang orang-orang berdatangan. Sekilas dalam keramaian itu dia pun dapat inspirasi dengan mengatakan uangnya hilang dan mau kembali ke Jakarta. Serindo memang sudah sempat hijrah ke Jakarta tahun 1974 dan dipimpin Gustafa Gultom. Bahkan di Jakarta tahun 1981 Zulkaidah sudah terlibat dalam pementasan Tarombo Siraja Lontung yang diadakan di TIM. Mungkin pengalaman “marjakarta” itulah Zulkaidah mendapat inspirasi agar dapat sedikit berbohong waktu itu. Ternyata orang-orang di keramaian itupun benar-benar membantunya. Dua jam setelah meratap itu, mereka membantu Zulkaidah ke bus ALS yang kebetulan lewat menuju Jakarta.

Di Jakarta Zulkaidah kembali menjumpai AWK Samosir, pimpinan Serindo cabang Jakarta yang beralamat di pintu II Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Beberapa bulan menumpang di rumah AWK Samosir Zulkaidah pulang ke kampung suami di Tigadolok, Simalungun. Sejak tahun 1985 itu Zulkaidah berpikir untuk berusaha sendiri untuk mempertahankan keluarga. Dia pun mulai bolak-balik berjualan kacang dan tuak ke pesta-pesta adat di Simalungun dan Samosir. Sambil menunggu jualan habis, Zulkaidah menarik seruling dari kantungannya. Tiupan serulingnya itu sering mengusik orang-orang di setiap keramaian pesta.

Entah karena tertarik atau iba, jualannya pun laris keras. Bahkan suatu ketika jualannya  terpaksa diborong pehajat pesta sebelum menyuruhnya tak usah lagi main seruling di pesta itu. Namun disuruh pulang saja karena setiap dia datang berjualan, serulingnya lebih memancing orang ramai mendekat ke sekitarnya.

Terakhir Zulkaidah tak lagi berjualan secara keliling. Di Lumbanri, Tigadolok ada sebuah kedai gorengan. Orang mengenalnya tenda biru karena atap kedai gorengan itu dilapisi dengan plastik berwarna biru. Kalau tak musim ke sawah, Zulkaidah hanya berjualan goreng dan minuman manis bagi orang-orang yang lalu lalang.  Masuk ke Tigadolok dari arah Siantar, tenda biru itu terletak kira-kira tigaratus meter dari Simpang Kawat dan di pinggir jalan. Awal Maret  2006 PLOt mengajak Zulkaidah boru Harahap untuk pementasan Sipurba Goring-Goring di Balige. Lengkingan suaranya menyanyikan lagu-lagu Opera Batak belum berubah jauh terdengar dari album-albumnya yang sudah “dibajak” itu. Meskipun Zulkaidah tidak kelihatan lelah dengan nyanyian dan tiupan serulingnya, sejenak dia melepaskannya dengan sebatang rokok di luar panggung. 

Pernah semua harapannya disampaikan setelah menyerahkan kopian dokumen-dokumen perjalanan dan pertunjukan ke Eropa dan Amerika  tahun 1990 dan 1991. Harapan utamanya adalah: dapat dihargai selain  dibuatkan rekaman dirinya menyanyikan kembali lagu-lagu Opera Batak. Ketika istri Pontas Gultom alias Zulkarnaen ini semakin sering diajak terlibat ke pentas Opera Batak harapan itu tak lagi disinggung-singgung. Kebiasaan Zulkaidah dalam proses latihan Opera Batak rupanya lebih banyak memperhatikan dan mendengarkan orang lain.

Ketika mendengar  pengumuman dan membaca surat keputusan Maestro itu, Zulkaidah kembali berjanji tak mungkin lagi meninggalkan kesenian Opera Batak. Pada 5 – 7 April dan 12 – 13 April 2008 lalu Zulkaidah ikut tampil bersama Alister dalam pertunjukan Opera Danau Toba (ODT) di Batam, Kepulauan Riau dan Pematangsiantar. Kedua maestro ini memang sudah sangat dikenal orang karena permainannya di atas panggung. Selama ini mereka sudah sangat sering mendapat tepukan penonton saja.

Published in: on Juli 5, 2008 at 12:12 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

sajak-sajak: thompson hs

sajak berjalan di keramaian

seperti kucing sebrangi

jalan

kakinya bisa ditabrak

orang yang belajar

naik sepeda motor

atau

mobil koruptor

yang pura-pura

dikejar

(260608)

 

sajak rasa yang tak terucap

rasakanlah rasa

yang tak terucap

apakah itu marah yang

tak ramah atau cuma

dendam rindu

cobalah diamkan

rasa itu tanpa

canggih kata

(180608)

 

sajak negara yang tergenang

horeee, hujan

datang lagi!

panas debu jalan

lalu mengendap

air hulu dan hilir

bersorak:yuk

kita buat banjir!

rumah-rumah

jadi kolam

(020208)

 

sajak menjangkau suatu kesedihan

apakah engkau

lihat, ada yang

bersedih di dalam

diriku? Aku sendiri

tak tahu siapa

yang titipkan itu

semalam aku

gembira saja!

(220907)

 

sajak yang sakitkan kepala

leherku seperti

magma dan di

kepalaku ada

gunung berapi

karna belum bisa

meletus dan puas jadi

air belerang

aku suka lihat

televisi 

(150807)

 

sajak yang diusir oleh hujan

seandainya jadi kambing

hujanpun akan bikin aku

semakin mengembik: mheeeeh!

begitulah

hujanpun turun

tadi

lalu kita masuk

ke sini

(300707)

sajak memburu segala hari

mataku pun

keduanya seakan

lelah; pelupuknya

ciut dan

luar bolanya merah

mungkin terlalu banyak

yang dilihatnya

walaupun waktu

rehat

(131206)

 

sajak kota tak beradab

andaikanlah semua jalan

milikmu

mungkin lampu-lampu

padam telah rugikan

langkahmu; kakimu

bisa terantuk!

(071106)

 

sajak mata dan telinga hati

andaikan hatimu akan

bersedih

mungkin aku tak selalu

melihatnya lagi

andaikan hati akan menangis

kita mungkin

cuma bisa

rintih

 

(190706)

 

Published in: on Juli 5, 2008 at 11:36 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

OMPU BORNOK DAN REGENERASI OPERA BATAK DI SEMINARI MENENGAH*

Oleh: Thompson Hs**            

Kalangan Katolik yang berasal dari Tanah Batak atau khususnya Samosir, tidak akan terlalu sulit mengenal Ompu Bornok. Sebelum nama ini terkenal di kalangan Katolik, bisa saja diduga kalau yang disebut Ompu Bornok hanya sebuah gelar alami dan khusus menurut tradisi Batak atau karena nama cucu sulungnya kebetulan bernama si Bornok. Namun sosok Ompu Bornok yang dimaksud dalam catatan ini adalah Diego van den Biggelaar, seorang pastor kelahiran Liempde (Negeri Belanda) yang tiba di Tanah Batak pada bulan Januari 1935 untuk melakukan tugas misi lewat Ordo Kapusin. Setelah menginjakkan kaki di Balige pada tahun itu juga, beliau langsung belajar bahasa dan adat Batak. Kemudian pada Maret 1936 mulai memasuki daerah Samosir serta mengawali pos tinggalnya di Huta Simbolon.           

Waktu itu kunjungan dan keliling masih dilakukan di Samosir dengan berjalan kaki. Selama perjalanan kaki menuju desa-desa, cuaca harus ditembus. Hujan dan panas matahari dibayangkan dapat membasahi badan. Mungkin demikian juga pengalaman Pastor Diego van den Biggelaar. Basah keringat dari perjalanan kaki itu diperkirakan menjadi awal sebutan Ompu Bornok bagi Pastor Diego van den Biggelaar. Mungkin penduduk yang menyambutnya selalu melihat pastor itu sampai di desa mereka dalam keadaan basah oleh keringat. Merujuk pada kata bornok (dalam bahasa Batak Toba) yang berarti berair, lembab, basah, lengas, tergenang, maka latar belakang sebutan Ompu Bornok itu bersifat alami dan khusus. Namun menurut catatan Pastor Leo Joosten (2005 : 165), sebutan Ompu Bornok merupakan gelar kehormatan yang diberikan masyarakat Samosir karena peristiwa hujan turun setelah kemarau panjang. Hujan turun lebat dan lama setelah sepuluh menit selesai doa dipanjatkan sang pastor. Pastor itu memang sangat pandai berbahasa Batak dan menjadi Batak bersama orang Batak (R. Kurris, SJ., 2006 : 49)           

 Lantas, apa hubungan Ompu Bornok dengan Opera Batak? Tentu saja hal ini menjadi bagian yang menarik setelah Opera Batak digali kembali. Penggalian kembali Opera Batak dilakukan di Tarutung sejak akhir Agustus 2002. Metode penggalian itu melalui sebuah pelatihan yang diikuti 20 peserta dari generasi muda yang sama sekali tidak mengenal bentuk seni pertunjukan ini. Seminggu waktu pelatihan diisi dengan jadwal yang padat mulai pagi hari sampai menjelang tengah malam. Sehingga dapat menghasilkan pertunjukan simulasi dengan membawa teks cerita “Siboru Tumbaga”. Garapan dan cerita itu kemudian mendorong munculnya grup percontohan bernama Grup Opera Silindung (GOS) yang sempat melakukan sejumlah pementasan Opera Batak di beberapa tempat seperti (Tarutung, Laguboti, Medan, dan Jakarta). Dengan pementasan-pementasan GOS, Opera Batak diperkirakan sudah mulai bangkit kembali. Pementasan di beberapa tempat lain pun mulai terpicu. Hingga TVRI Sumut pada tahun 2004 terpancing membuat suatu program Opera Batak Metropolitan sampai 33 episode dengan cerita-cerita terbaru dan melibatkan sejumlah mantan pemain Opera Batak terdahulu.            

Kebetulan saya terlibat membuat beberapa judul cerita dalam garapan TVRI itu, di samping menjadi pelatih dan pengarah artistik untuk persiapan syuting. Di luar kesibukan syuting-studio, saya sempat bikin wawancara dengan para mantan pemain itu. Di antara mereka ada yang bernama Alister Nainggolan, Meri Silalahi, Martua Sitohang, Marsius Sitohang, Erlina Silaban, dan suatu ketika Rosmala Sitohang. Dari Nama terakhir itulah saya mendapatkan informasi kalau Opera Batak terkait dengan Ompu Bornok. Menurut pengakuan Rosmala Sitohang, penamaan Opera Batak berasal dari seorang pastor yang namanya tidak begitu jelas pengucapannya. Namun nadanya hampir mirip dengan “:Biggelaar”. Setelah ditanya soal tahun penamaannya, Rosmala memberi gambaran sekitar tahun 1930-an   semasa aktif ayahnya, almahum  Dahri Uhum Sitohang. Katanya, Dahri Uhum Sitohang langsung mendengar ucapan Opera Batak dari sang pastor sebagai gambaran kesan untuk bentuk pertunjukan yang muncul ketika itu. Memang di Samosir sejak tahun 1920-an sudah mulai muncul nama Tilhang Parhasapi dengan perkembangan bentuk pertunjukan kelilingnya. Tilhang Parhasapi ini terkait dengan nama Tilhang Gultom, kelahiran Sitamiang Samosir dan pimpinan Seni Ragam Indonesia (Serindo) yang populer sampai tahun 1970-an.           

Mungkin Pastor “Ompu Bornok” Diego van den Biggelar beberapa kali sudah memperhatikan bentuk pertunjukan keliling itu selama bertugas dua tahun di Samosir. Lalu beliau mengaitkan istilah opera yang ada di Eropa karena unsur gabungan musik dan tarian serta ditambah lakon cerita  dalam pertunjukan keliling berciri khas Batak. Maka lengkaplah kesan itu dengan penamaan Opera Batak. Namun maksudnya mungkin hanya “Opera Gaya Batak”.Yang dimaksud dengan opera di daratan Eropa adalah drama yang dinyanyikan. Pemain opera memainkan sebuah drama setelah digarap secara musikal dan gaya tarian. Keterkaitan musik/nyanyian, tarian, dan lakon dalam keseluruhan pertunjukan selalu terkait dan menyatu. Bukan sebaliknya, seperti yang terjadi dalam Opera Batak. Unsur-unsur yang dimainkan dalam Opera Batak tidak terkait satu sama lain. Masing-masing dapat dianggap berdiri sendiri dari sisi penceritaan atau alur. Namun ada kalanya lagu-lagu tertentu dicipta untuk menguatkan cerita, seperti yang pernah ada dalam pertunjukan “Siboru Tumbaga”.            

Kenyataan kemudian menyangkut penamaan Opera Batak sempat menjadi termin belaka. Masuknya penjajahan Jepang mengubah bentuk pertunjukan itu dengan penamaan Tonil Asia. Namun penamaan itu diperkirakan untuk mendukung penguatan kepada pihak Nippon. Bentuk pertunjukan itu juga diisukan menjadi alat propaganda melawan kolonialis Belanda. Bahkan semua yang berbau Belanda pada masa Jepang berusaha “diinternirkan”. Setelah kolonial Jepang hengkang penamaan Opera Batak itu ternyata digunakan lagi sebagai suatu arus utama (mainstream) bagi pertunjukan serupa dengan variasi-variasi grup Opera Batak yang muncul mencapai 30-an nama selain Serindo. Sampai awal tahun 1980-an semua grup Opera Batak masih sempat bertahan meskipun kapasitas pertunjukannya sudah mulai tergeser oleh faktor-faktor seperti pertarungan media, masalah regenerasi, dan faktor politik/budaya/sosial/ekonomi. 

Opera Batak Singgah ke Seminari Menengah           

Penggalian dan Regenerasi Opera Batak melalui Grup Opera Silindung sudah menjadi tanggungjawab Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara. Sebagai kabupaten induk, yang pernah mencakup wilayah kultur kebatakan, Tapanuli Utara mendapat rekor sebagai pemicu penggalian sebelum diikuti Kabupaten Tobasa dan Samosir. Untuk meneruskan program penggalian, Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) diadakan di Siantar sejak September 2005. Beberapa produksi pertunjukan Opera Batak sudah dilakukan dan difasilitasi PLOt, di antaranya: Sipiso Somalim, Sipurba Goring-goring, Srikandi Boru Lopian, dan cerita-cerita terbaru lainnya. Sekretariat PLOt yang terletak di Jalan Lingga No.1 Siantar tidak sulit untuk dijangkau. Dipilihnya tempat itu agar proses lanjutan penggalian dapat didukung berbagai pihak. Namun pada Oktober 2006 pihak Seminari Menengah mulai mengetahui perihal itu. Awalnya saya diminta menjadi pelatih ekstra drama setiap hari Jumat sore. Sejak itu saya membagi perhatian dan penyesuaian di luar pengoperasian PLOt kepada Seminari Menengah dan jadwal-jadwal melatih  di beberapa tempat dan kesempatan lainnya. Dua produksi pertunjukan drama di Seminari Menengah merupakan buah perhatian dan penyesuaian itu sebelum bulan Februari 2007 direncanakan satu produksi Opera Batak dengan pilihan kepada cerita “Guru Saman”. Sebelumnya ada tawaran agar cerita “Siboru Tumbaga” yang dipersiapkan.           

Pilihan terhadap cerita “Guru Saman” didasarkan pada dua hal. Pertama, potensi pemeranan dan situasi siswa-siswa seminari menengah. Potensi pemeranan  “Guru Saman” membutuhkan pemain laki-laki. Jadi, pas dengan potensi di Seminari Menengah. Cerita “Guru Saman” sekaligus menjadi nama salah satu tokoh utama dalam garapan ini. Dia adalah seorang turunan Lau Balang (Tanah Karo), yang mendapat ilmu hitam, kebal, dan ilmu silat dari seorang guru kebatinan. Semua ilmunya itu menjadi modal pergi ke mana-mana untuk membunuh manusia yang dipesankan atau tidak disukainya. Selain membunuh didukung dengah hobby main judi dan ke kedai tuak. Setelah beberapa waktu pergi ke Sipahutar, daerah Tapanuli Utara, dia lakukan juga pembunuhan kepada seorang pelayan gereja yang bernama Guru Martin, sekaligus dengan Klara, istri yang sedang berbadan dua. Pembunuhan dilakukan atas desakan Hermanus, kepala desa Sipahutar dan bekas murid Guru Saman. Seminggu sebelumnya Hermanus sekeluarga sempat menyerang Guru Martin saat pasca ibadah gereja. Hermanus merasa tersinggung karena uang pembangunan gereja yang digunakan selama ini disinggung tiba-tiba dalam pertemuan itu. Ketersinggungan itu akhirnya dibawa pulang ke rumah dan menjadi motif kemarahan Guru Saman dan rencana pembunuhan tepat pada Sabtu malam.           

Hal kedua, potensi penceritaan “Guru Saman” yang tidak lagi menyulitkan secara teknis penyutradaran. Dua kali setelah program penggalian Opera Batak, saya sudah terlibat mengarahkan produksi “Guru Saman” yang dimainkan secara gabungan oleh sejumlah pemain pemain Opera Batak terdahulu dengan aktor-aktor Padang Bulan Teater. Namun kesulitan awalnya mungkin bagi siswa-siswa seminari menengah adalah dialog cerita yang 80 persen menggunakan Bahasa Batak dan dialek Toba. Meskipun Guru Saman berasal dari Tanah Karo, nampaknya dialek Toba itu sungguh dikuasainya. Sisa hitungan persen dialog itu menggunakan Bahasa Indonesia dan cuilan kata-kata tertentu dari Bahasa Karo. Menghafal dan memahami dialog-dialog dalam cerita “Guru Saman” menjadi perjuangan utama bagi semua pemain yang mendapat peran masing-masing. Dari hampir 30 pemain utama dalam garapan ini, 10 pemain perempuan berasal dari SMA RK Bintang Timur. Pengenalan dan pelibatan mereka atas permainan Opera Batak baru kali ini. Awal proses produksi sampai Agustus 2007 mereka masih terbentur dengan dialog-dialog yang berdialek Toba itu. Pengalaman itu terkait dengan pemahaman atas arti dan cara mengucapkan kata-kata tertentu dan sudah jarang digunakan. Sebagian pemain yang berasal dari daerah Toba menjadi prasyarat mendapatkan peran tertentu. Namun potensi bahasa Bataknya juga tidak lagi selalu memadai. Jadwal-jadwal latihan pun harus ditambah di luar jam ekstra drama yang hanya 1,5 jam. Hasilnya pun semakin meningkat. Waktu untuk ekstra dan jam tambahan menjadi waktu untuk produksi Opera Batak “Guru Saman”. Semua pemain benar-benar serius dan mendapat pengalaman baru dalam bermain drama. Setiap jadwal latihan, saya pun selalu mulai terbayang dengan Ompu Bornok.     

*Tulisan ini dipersiapkan sebagai catatan penyutradaraan untuk pentas Seminari Menengah Pematangsiantar, di Gedung Aula Universitas HKBP Nomensen Siantar28 Oktober 2007 dan di Balai Tiara Medan 25 November 2007.

**Dramaturg, dan saat ini menjadi Direktur Artistik PLOt.

Published in: on Maret 22, 2008 at 3:34 pm  Comments (3)  

MEMBANGUN OPERA BATAK BERSAMA PLOt

Oleh: Thompson Hs*

Orang Batak di wilayah Sumatera Utara sejak 1920-an sampai akhir 1980-an pasti masih mengenal seni pertunjukan Opera Batak. Gaya seni pertunjukan ini muncul dalam situasi transisi kebudayaan yang ditandai oleh upaya mempertahankan tradisi dan masuknya pengaruh dari luar. Unsur-unsur tradisi dalam Opera Batak dapat dikenal melalui instrumen musikal seperti taganing, ogung, hasapi, sarune, dan hesek. Ensambel musikal ini secara umum dikenal dengan gondang. Namun sebutan gondang itu juga dapat merujuk kepada suasana ritual dan jenis repertoar yang dimainkan. Apabila dikaitkan lagi dengan konteks ritualnya, gondang terbagi menjadi gondang sabangunan dan gondang uning-uningan. Gondang terakhir kelihatannya lebih menonjol penggunaannya dalam pertunjukan Opera Batak ditambah dengan seruling yang bernada diatonis dan tidak bisa dianggap sebagai bagian dari tradisi asli Batak.

Selain instrumen musikal, tarian Batak dengan sebutan tortor, juga masih ditemukan dalam Opera Batak. Pola gerak tarian Batak biasanya bersifat minimalis dan perkembangan secara maksimal dikenal melalui tumba. Tortor dan tumba dapat mengawali, mengantarai, dan mengakhiri alur pertunjukan dengan iringan musikal atau vokal. Khusus mengenai vokal dalam tradisi Batak dapat diketahui jenisnya melalui istilah andung dan ende. Andung biasanya dilakukan tanpa iringan instrumen musikal dan dipahami sebagai bentuk ratapan. Sedangkan ende merupakan lagu atau nyanyian yang bersifat hiburan dan cerminan untuk berbagai suasana tertentu. Di dalam Opera Batak, lirik-lirik ende terkadang masih disertai dengan pantun-pantun Batak dan perumpamaan yang bernama umpasa dan umpama. Satu lagu berjudul Oli-Oli Tumba dapat dikutip salah satu liriknya: lelengma di parlelengan lalapma diparlalapan/ndang sahat tu tujuan sai diporalang-alangan/arian sai marsak borngin i marangan-angan/nang di rondang ni bulan martukkol isang di alaman/ oli-oli tumba, ito…. (betapa lama di ruang waktu betapa larut di kelarutan/tak sampai-sampai ke tujuan dan selalu berhalangan/siang hari selalu bersedih malam hari berangan-angan/juga waktu purnama bertopang dagu di pekarangan/oli-oli tumba, ito….)

Unsur-unsur tradisi tersebut agaknya hanya dapat disalurkan melalui kemunculan Opera Batak. Pertunjukan ritual seperti horja bius dan bentuk-bentuk tradisi lainnya, seperti sigale-gale dan hoda-hoda, yang diiringi gondang bersama tortor sudah mulai surut dengan kedatangan kolonial, ditambah pelarangan-pelarangan kolaboratifnya. Pelaksanaan gondang di luar izin kolonialisme dianggap sebagai semangat untuk melawan atau mempertahankan situasi kekafiran. Orang Batak tidak mungkin lagi secara total dapat mempertahankan semua unsur tradisi karena ruang lama semakin dipersempit. Datangnya pengaruh-pengaruh tambahan akhirnya mendorong migrasi orang Batak ke daerah perkebunan. Dari daerah perkebunan itulah dimungkinkan masuknya pengaruh bentuk seni pertunjukan yang datang dari luar. Totalitas seni pertunjukan Opera Batak kemudian dilengkapi dengan lakon cerita dengan variasi realismenya. Dugaan mengenai aspek lakon yang melengkapi Opera Batak dipengaruhi oleh teater bangsawan di daerah Deli dan semenanjung Malaya. Grup-grup pertunjukan teater bangsawan itu juga diduga mendapat pengaruh dari wayang Parsi. Namun aspek lakon yang diserap itu disesuaikan dengan bahasa dan latar setempat. Demikian halnya dalam cerita-cerita lakon Opera Batak yang dibuat judul-judulnya seperti Siboru Tumbaga, Guru Saman, Sisingamangaraja, dan Raja Lontung untuk menyebut beberapa.

Pengaruh luar lainnya secara khusus juga sudah mulai ditunjukkan oleh penamaan Opera Batak itu sendiri. Istilah opera dikenal asalnya di daratan Eropa, terutama Italia. Opera diartikan sebagai drama yang dinyanyikan dengan gerak tariannya. Jadi keterkaitan musik/nyanyian, tarian, dan lakon dalam keseluruhan pertunjukan merupakan senyawa dan menyatu. Bukan sebaliknya, seperti yang terjadi dalam Opera Batak. Unsur-unsur yang dimainkan dalam Opera Batak tidak terkait satu sama lain. Masing-masing dapat dianggap berdiri sendiri dari sisi dramaturgi. Terkadang Opera Batak itu terkesan hanya pertunjukan variatif. Sesungguhnya penamaan Opera Batak mengandung maksud yang jelas kalau disebut dengan Opera Gaya Batak. Maksud-maksud serupa kiranya terjadi untuk Opera Peking atau yang lebih terakhir melalui idiom Opera Jawa dan Opera Melayu. Penggalian Opera Batak

Opera Batak sudah dilakukan penggaliannya beberapa kali. Namun penggalian beberapa kali itu cenderung untuk memperkuat kesan musikalnya. Ada anggapan yang terlanjur kalau pemain Opera Batak adalah para pemain musik yang menguasai intrumen musik tradisi. Sehingga para pemain yang berperan melalui aspek lakon dan tarian mendapat catatan minus. Tahun 2002 penggalian ulang dilakukan untuk semua aspek pendukungnya. Awalnya melalui kerjasama dengan pihak Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta dan Pemkab Tapanuli Utara untuk memberikan pelatihan terhadap 20 orang generasi muda di Tarutung. Dari hasil pelatihan itulah sempat muncul satu grup percontohan yang dikenal dengan nama Grup Opera Silindung (GOS) dan sudah sempat melakukan pementasan Opera Batak di sejumlah tempat seperti Tarutung, Sipoholon, Medan, Jakarta, Laguboti, dan Siantar.

Tahun 2005 dilakukan pengembangan revitalisasi itu dengan ide membuka Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematangsiantar. Ide ini mulai dilaksanakan sejak 12 September 2005 atas dorongan Sitor Situmorang (Apeldoorn, Belanda) dan Lena Simanjuntak (Koeln, Jerman). Awal operasional PLOt terutama memberikan fasilitas tempat latihan, manajemen, pelatihan, kerjasama produksi, dan motivasi penggalian budaya. Sampai tulisan ini dibuat kegiatan-kegiatan yang terkait dengan PLOt adalah sebagai berikut.

a. Pelatihan Akting bersama Azuzan ZG, November 2005.

b. Pentas Opera Batak Sipiso Somalim di Balige, 27 Desember 2005 kerjasama dengan Bainfokom Sumatera Utara.

c. Pentas Opera Batak Sipurba Goring-Goring di Balige, 11 Maret 2006 kerjasama dengan Pemkab Tobasa.

d. Memfasilitasi Pentas Keliling “Black Box” Teater Prung Bandung di tiga Tempat (Medan, Siantar, Tuktuk Samosir), 26 Mei – 3 Juni 2006

e. Diskusi dan Pra Pementasan Peringatan 100 Tahun Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII bersama Sitor Situmorang, Barbara Brouwer (Belanda) dan Lena Simanjuntak (Jerman) di Pematangsiantar, 16 – 17 Juli 2006

f. Diskusi dan Pembacaan Koreografi Antologi Puisi “TULIS!” Saut Sitompul (almarhum) di Siantar, 12 September 2006

.g. Memfasilitasi Perayaan Anti Korupsi bersama JAK-SS di Pematangsiantar, Sabtu 9 Desember 2006

h. Diskusi Hak dan Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam Temu Seni dan Budaya Siantar bersama Prof. Dr. Peter Jaszi (USA), Dr Jane Anderson (Australia), Ignatius Haryanto (LPS – Jakarta), dan Riyaldi Siagian (Jakarta) di Pematangsiantar, 31 Januari 2007

i. Pentas Mini Opera Batak “Paima marmutik Kopi” dalam Pembukaan Pameran Karya Togu Sinambela di Galeri Tondi Medan, 7 April 2007

j. Pentas “Si Purba Goring-Goring” pada Malam Budaya dalam Perayaan Peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan 2 Juni 2007

k. Pentas Keliling Opera Batak “Srikandi Boru Lopian” pada Perayaan Peringatan 100 Tahun Gugurnya Raja Sisingamangaraja XII di Pangururan (Samosir), Salak (Pakpak Bharat) dan Balige (Tobasa), 9 – 16 Juni 2007

l. Refleksi Peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII dan Pentas Opera Batak “Sri Kandi Boru Lopian” bersama Sitor Situmorang di Pematangsiantar, 18 Juni 2007

m. Pentas Titik Nol bersama W. S. Irawan (Seniman pengayuh Sepeda dari Mataram), kerjasama PLOt dengan Suluh dan GSM di Pematangsiantar, 30 Juli 2007

n. Pentas Monolog Reading dan Ngobrol tentang “Bangsat” di Pematangsiantar, Jumat 12 Oktober 2007.

o. Memberi database dan sutradara Pentas Opera Batak “Guru Saman”, Pematangsiantar 28 Oktober 2007 dan Medan 25 November 2007.

Rencana tiga tahun pertama operasi PLOt di Pematangsiantar membuka fasilitasi untuk upaya regenerasi. Tahun-tahun berikutnya dipersiapkan sekaligus untuk penggalian budaya Batak dengan sejumlah program kategorial seperti pelatihan, produksi, pendidikan dan pemberdayaan, media, produksi, dan penghargaan. Untuk mewujudkan rencana ini PLOt membuka kerjasama profesional kepada berbagai pihak dan pribadi agar langkah program dapat dioperasikan melalui statusnya terlebih dahulu menjadi sebuah yayasan. Sitor Situmorang, Prof. Dr. Rainer Carle. Karl Mertes, Dr. Pudentia MPSS, Dolorosa Sinaga, Prof. Dr. Riris K. Toha Sarumpaet merupakan beberapa nama yang sudah terencana melengkapi status tersebut. Selain fasilitasi di atas PLOt melakukan aktivitas kecil sehari-hari menyangkut administrasi dan pembuatan klipping di ruang sekretariatnya yang berada di Jalan Lingga No. 1 Pematangsiantar (e-mail: plot_indonesia@hotmail.com).

*Penulis adalah Direktur Artistik PLOt

Published in: on Maret 22, 2008 at 2:52 pm  Comments (2)  

Pasca Temu Sastrawan Sumatera 2007: YUK KE BATAM, ADA TARMIZI DAN RUMAHHITAM

Oleh: Thompson Hs            

28 – 30 Desember 2007 lalu berlangsung Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara di Medan. Dari tiga peserta yang hadir dari luar propinsi Sumatera Utara adalah Tarmizi, pendiri Komunitas Rumahhitam Batam. Dua perwakilan lainnya datang dari Nanggroe Aceh Darussalam (D. Kemalawati) dan Propinsi Bangka Belitung (Ira Esmiralda). Kalau tak salah, baru dua kali Tarmizi datang ke Medan untuk mengikuti acara sastra. Melalui kesempatan dua kali itulah terjadi pertemuan langsung menyambung kontak-kontak selama ini melalui alat komunikasi seperti ponsel dan e-mail. Sebelum acara Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara, 21 Juli 2007 lalu Tarmizi masih sempat melaksanakan Pentas Penyair 7 Propinsi di Sumatera bersamaan dengan peresmian ruang rumah baca Raja Ali Kelana di Rumahhitam, komunitas yang didirikannya pada April 2000. 15 Penyair dari tujuh propinsi di Sumatera tercantum dalam undangan acara itu. Ketujuh propinsi itu adalah Kepri (Ramon Damora, Abdul Kadir Ibrahim, Tusiran Suseno, Ayah Sultan, Hj. Aida Ismeth Abdullah, Machzoumi Dawood, Hasan Aspahani), Sumbar (Romi Zarman dan Iyut Fitra), Riau (Hang Kafrawi dan Marhalim Zaini), Sumsel (Anwar Putra Bayu), Jambi (M. Husairi), Lampung (Isbedi Stiawan), dan Sumut (Thompson Hs, yang kemudian merekomendasikan Hasan Al Banna). Bisa jadi kemudian panitia Temu Sastrawan Sumatera di Medan terpicu lagi dengan pelaksanaan acara yang di Batam itu atau karena acara lain, Sebenarnya sudah dua kali Sumatera Utara ditunjuk sebagai pelaksana pertemuan level sastra wilayah Sumatera, yakni Temu Sastrawan se-Sumatera di Bandaaceh pada tahun 1999 serta Temu dan Dialog Penyair se-Sumatera di Padang pada tahun 2003. Namun tampaknya pengorganisasian acara sastra di Sumatera Utara masih tergantung oleh suatu tawar-menawar politis antar lembaga-lembaga tertentu.Sehari sebelum pembukaan acara Temu Sastrawan Sumatera Tarmizi memberitahu dirinya kalau sudah sampai di Medan dan bertanya kapan datang untuk bergabung dengan teman-teman. Acara Temu Sastrawan Sumatera ini akhirnya masih bisa dilaksanakan atas nama Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU) dengan dana hanya  Rp. 12 Juta (Sumut Pos, 30/12) serta mengundang 71 sastrawan Sumatera Utara dan 11 sastrawan dari propinsi lain plus Hamsad Rangkuti dari Jakarta. Namun sampai pembukaan acara itu berlangsung pada malam 28 Desember 2007 sastrawan dan hadirin yang muncul hanya 50 orang (Kompas, 29/12), termasuk Tarmizi.  Tarmizi dalam agenda yang dibuka Shafwan Hadi Umri itu mewakili Propinsi Kepulauan Riau (Kepri) dan sekaligus menjadi pembicara melalui catatannya yang berjudul: Menyibak Konstelasi Sastra di Kepulauan Riau (Panitia Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara, 2007 : 287-293). Sekedar menyinggung catatan Tarmizi, dihantar kejayaan sastra lisan dan tulisan pada masa silam di Kepulauan Riau melalui peranan penulis awal dalam Kerajaan Melayu dan sejumlah nama seperti Raja Ali Haji, Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, Raja Ali Kelana dengan Rusdiah Klabnya yang menghimpun banyak penulis produktif seperti Raja Khalid Hitam, Raja Aisyah Sulaiman, Raja Abdullah, Raja Haji Umar, Raja Ahmad Tabib, Raja Haji Muhammad Said serta Raja Haji Muhammad Yunus Ahmadi. Selain nama-nama tersebut ada juga beberapa pengarang wanita, seperti Khadijah Terung, Salamah Binti Ambar, dan Badarian Muhammad Taher. Namun kejayaan sastra Melayu dalam keterkaitan nama-nama itu menjadi semacam beban sejarah bagi penulis generasi baru di Riau dan Kepri. Dengan mengandalkan buku Teks dan Pengarang di Riau oleh UU Hamidy (Cindai Wangi Publishing House, 2003) Tarmizi dalam catatannya kembali menekankan perihal kegemilangan para penulis Melayu tersokong oleh faktor kekuasaan waktu itu hingga naskah-naskah mereka terpelihara dengan baik dan menjadi manuskrip yang bernilai tinggi. Mereka sangat jauh berhasil dan belum tertandingi oleh para penulis Riau dan Kepri pada zaman modern ini.Terkait dengan konstelasi bersastra saat ini di Kepri, fasilitasi lembaga-lembaga legal belum memadai untuk mendukung para penulis. Di Kepri sendiri ada sejumlah nama yang cukup mencuat  ke permukaan dan konsisten sejak tahun 1990-an, di antaranya: Hasan Aspahani, Tusiran Suseno, Huesnizar Hood, Mazoumi Dawood, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, Abdul Kadir Ibrahim, Junewal Lawen Muchtar, Liza Ang, Nuraini, Nurul F. Huda, Aisyah Sulaiman, Hj. Suryatati A. Manan. Namun belum ada karya monumental yang dianggap lahir dari keterwakilan para penulis di Kepri.  

Tarmizi dan Rumahhitam

            Lanjutan Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara ditawarkan pelaksanaannya ke Batam dan Pematangsiantar atau Padangsidimpuan (Tapsel) untuk tahun 2008. Kelihatannya dalam bincang-bincang informal, Tarmizi tidak keberatan menerima rekomendasi itu meskipun sempat merasa keterwakilan propinsi yang tidak hadir perlu untuk keputusan itu.  Apakah keterwakilan empat (4) propinsi yang ada dalam Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara sudah bisa memutuskan kelanjutan agenda di tempat lain? Mungkin demikian pertanyaannya. Hal lain nampaknya perlu diketahui menyangkut jebakan tafsir Sumatera sebagai geopolitik sastra atau hanya sekedar regio kreativitas. Selesai tafsir itu juga masih mungkin muncul tumpang tindih lain dengan agenda seperti Temu Penyair se-Sumatera, Jawa, dan Bali yang pernah terlaksanakan di Lampung tahun 1996. Satu jadwal lagi adalah pelaksanaan Temu Sastra Indonesia, diputuskan melalui Forum Sastra Festival Kesenian Yogya (FKY) XIX/2007 yang akan berlangsung di Propinsi Jambi tahun 2008 ini. Namun sampai tulisan ini dibuat, jadwal keputusan di Jambi belum dikabarkan. Malahan yang sudah lebih dulu adalah undangan Panitia Kongres Komunitas Sastra Indonesia yang berlangsung di Kudus, Jawa Tengah 19 – 21 Januari 2008.Lanjutan Temu Sastrawan Sumatera itu benar-benar direkomendasikan ke Batam dan Temu Sastrawan Sumatera Utara ke Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan (Metro Tapanuli, 8/1). Menurut Tarmizi kelanjutan itu direncanakan akan berlangsung pada 1 – 7 April 2008 bersamaan dengan pelaksanaan acara Batam Art Festival yang sudah diadakan sejak 2004.  Maksud tulisan ini pada awalnya bukan untuk mengusut persiapan pelaksanaan acara itu, kecuali hanya ingin menduga semangat Tarmizi dan Komunitas Rumahhitam yang terus berkembang dalam pimpinannya. Dugaan ini ternyata tidak cukup dengan dua kali pertemuan langsung di Medan. Ada tiga sumber yang digunakan untuk konstruksi dugaan itu, yakni terbitan panitia Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara, 2007. Kemudian salah satu tulisan A. Rahim Qahar yang pernah dimuat di Harian Medan Bisnis dengan judul: Rumah Baca di Rumahhitam serta buku Pasar Seni Batam (4 tahun komunitas seni rumah hitam dan sejumlah sajak) terbitan Yayasan Pusaka Riau, Pekanbaru 2004.             

Tarmizi dengan Komunitas Rumahhitam-nya merupakan senyawa yang sudah sejak 1994 mengidentifikasi perlunya kehidupan seni di Batam. Seperti dalam catatan Hasan Aspahani, “tarmizi adalah rumahhitam, rumahhitam adalah tarmizi.” Kelahiran kota Rumbai 21 Juli 1973 ini adalah alumnus Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Padang tahun 1993 dan berangkat ke Batam setahun kemudian untuk memasuki dunia kerja. Namun dari ribuan perusahaan di Batam tak satupun menerima ajuan lamarannya. Sehingga sempat menjadi pekerja bangunan, jualan asongan, jualan es buah sampai membuka usaha kerajian dan lukisan di Pasar Sungai Harapan, Sekupang Batam. Namun perhatiannya terhadap seni dan kebudayaan tidak dikesampingkan dalam hijrah pertamanya itu ke Batam. Diakui kalau pernah bergabung dengan Sanggar Seni Parak Tingga, Sangga Garminah sebelum minatnya muncul untuk melanjut ke Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang; meskipun hanya satu tahun (1998-1999). Setelah itu Tarmizi berani kembali ke Batam dengan intergritas yang baru untuk mewujudkan mimpinya dengan melakukan kunjungan dan dialog terhadap sejumlah penggiat seni di Batam. Dengan hijrah keduanya inilah Tarmizi merasa enteng melakukan gerakan kesenian di Batam dari menggagas munculnya Dewan Kesenian Batam (DKB) dengan Perkemahan Seniman Batam (PSB) sebagai pemicunya dan Perkampungan Bulang 2000 sebagai tanda sambutan kongkret terhadap dirinya di Batam.           

 Dalam hitungan tahun 2000 itu jugalah muncul upaya untuk membuat komunitas yang terkait dengan situasi urban di Batam. Sebuah Komunitas Rumahhitam didirikan awalnya di daerah Batuaji Batam pada April 2000. Namun karena tempat itu merupakan lokasi Perumahan Binnah Ummah yang didirikan kemudian akhirnya komunitasnya tergusur seperti rumah-rumah liar dan dianggap illegal waktu itu di Batam. Kemudian Tarmizi mencoba menyewa rumah di kawasan Bukit Beruntung. Di kawasan terakhir inilah Tarmizi seperti memperoleh keberuntungan dari Drs. H. Ismeth Abdullah, waktu itu pimpinan Otorita Batam dengan memberikan hak pakai tanah kurang lebih 3 hektar. Dari kesempatan inilah Tarmizi dapat mengembangkan Komunitas Rumahhitam hingga saat ini tanpa gangguan lahan bersama teman seperti Faisal Amri. Lokasi komunitas itu tepatnya terletak di Jalan RE Martadinata, Sekupang atau depan Gedung Beringin Batam. Sejumlah program dan kegiatan, dari rutin sampai tahunan, diakui semakin leluasa dilakukan  setelah komunitas mulai mendapat bantuan fasilitas dan hibah dari Otorita Batan dan Pemerintah Propinsi Kepri; termasuk tradisi Rumahhitam Award dan Batam Art Festival yang akan berlangsung kembali bersama agenda Temu Sastrawan se-Sumatera 2008.                        

 *Penulis, sutradara teater, dan Direktur Artistik PLOt Siantar.

Published in: on Maret 22, 2008 at 2:29 pm  Comments (1)  

SIBORU DEAK PARUJAR*

Oleh: Thompson Hs            

Ktuk… ktuk… ktukktuk! Tiba-tiba Siboru Deak Parujar menghentikan alat tenunnya. Pekerjaan sehari-hari Siboru Deak Parujar memang lebih banyak bertenun. Selain bertenun, terkadang merasa lelah karena duduk berlama-lama menyelesaikan tenunannya. Namun untuk melepaskan rasa lelah dia pergi ke bawah  pohon Tumburjati. Pohon kehidupan itu terasa rindang bagi semua penghuni Banua Ginjang atau kahyangan. Letaknya dari beberapa hunian di kahyangan tidaklah sesunyi Porlak Sisoding, taman tersembunyi yang menyimpan hal-hal rahasia. Pohon Tumburjati kelihatan selalu ramai seperti ranting dan daunnya. Di sanalah mereka mendapat pengetahuan atas berbagai hal, termasuk kodrat masing-masing. Kalau daun Tumburjati gugur, semua penghuni kahyangan langsung dapat mengartikannya. Daun-daunnya yang menangkup ke lapis langit pertama dan tertinggi seakan memohon agar tidak gugur sebelum waktunya. Namun ada kalanya dari daun termuda terpaksa jatuh bersama ranting yang patah.           

Di puncak ketinggian pohon kehidupan itu hinggap seekor unggas bernama Manuk Hulambujati. Tidak terbayangkan ketinggian pohon kehidupan itu. Sehingga ada kalanya nama pohon itu disebut Hariara Sundung di Langit, yang artinya beringin yang condong di langit. Manuk Hulambujati tentu selalu hinggap di puncaknya pada waktu-waktu tertentu; di suruh atau tidak. Namun unggas itu adalah induk tiga telur besar yang pernah mengandung Batara Guru serta dua dewa lain yang bernama Debata Sori dan Mangalabulan. Suatu ketika juga Manuk Hulambujati bersedia mengeramkan tiga telur lagi; kelak yang dikandungnya adalah pasangan ketiga sang dewa. Siboru Parmeme menjadi pasangan Batara Guru, Siboru Parorot untuk Debata Sori, dan Siboru Panuturi untuk Mangalabulan. Siboru Deak Parujar adalah putri bungsu Batara Guru           

Berkali-kali pergi ke bawah rindang Tumburjati, Siboru Deak Parujar selalu sempat melihat Manuk Hulambujati bertengger. Cara hinggap unggas itu seperti cahaya bintang-bintang yang berkejaran. Moncongnya berpalang besi, kukunya bergelang kuningan, dan sosoknya sebesar kupu-kupu raksasa nan berkilau. Terkadang tanpa perduli Siboru Deak Parujar menghalau unggas itu agar berkenan turun dan mau bercengkerama dengan dia.           

“Wahai, Manuk Hulambujati. Mengapa engkau tak mau turun untuk bersamaku di sini?  ” Terketus ucapan itu dari Siboru Deak Parujar karena sang unggas tak pernah turun dari puncak pohon. Sebenarnya dia tidak perlu mengeluarkan ucapan serupa karena ada larangan dari Batara Guru. Manuk Hulambujati benar-benar bukan sembarang unggas. Tidak ada yang dapat menyuruh Manuk Hulambujati turun dari puncak pohon, kecuali Ompung Mulajadi Nabolon. Ompung Mulajadi Nabolon, sebagai Sang Pemula Akbar dari segala yang ada, telah mencipta dan menetapkan kodrat tertentu bagi Manuk Hulambujati. Unggas itu merupakan salah satu suruhan Mulajadi Nabolon, di samping nama lain seperti Leang-leang Mandi, Leang-leang Nagurasta, dan Untung-untung Nabolon. Masing-masing diciptakan Mulajadi Nabolon sebelum Tumburjati dan sesuai dengan fungsinya. Leang-leang Mandi  atau layang-layang mandi menjadi pelayan inti dan penyampai pesan kalau Manuk Hulambujati membutuhkan bantuan Mulajadi Nabolon. Demikian kelak perannya bagi siapa yang membutuhkan bantuan dari Mulajadi Nabolon. Sedangkan Leang-leang Nagurasta hanya sahabat Leang-leang Mandi. Manuk Hulambujati ada kalanya mirip dengan Untung-untung Nabolon. Manuk Hulambujati bagi semua penghuni kahyangan cukuplah dipandang saja dari jauh dan saat bertengger karena fungsinya sudah selesai mengawali kehidupan manusia di Banua Ginjang.           

 “Ibunda,” tiba-tiba Siboru Deak Parujar mendekat pada ibunya. “Mohonlah terangkan mengapa daku tak bisa mengajak Manuk Hulambujati bercengkerama.” Keingintahuannya masih bernada memaksa. Namun jawaban dari Siboru Parmeme tetap seturut pesan yang mereka terima bersama Batara Guru. “Jangan. Pantang. Awas terlanjur!” Itulah pesan keramat yang diterima untuk menghormati Manuk Hulambujati.            

Akhirnya Siboru Deak Parujar tak lagi memaksa diri. Pasti dia tahu suatu waktu soal Manuk Hulambujati. Setiap kali kembali ke bawah rindang Tumburjati, diam-diam dia mendengar cerita yang bisa muncul di situ. Diapun lama-lama menjadi seperti penghuni yang lain di lapis kedua Banua Ginjang. “Lebih baik kunikmati saja kebahagiaan seperti apa adanya di kahyangan ini,” pikirnya. Perhatiannya pun  semakin biasa memperhatikan keturunan dewa lain. Maklum, Siboru Deak Parujar mulai remaja.           

Suatu ketika dia terdorong kembali ke bawah pohon Tumburjati. Namun tidak sendirian. Dia sengaja mengajak Siboru Sorbajati. “Ayolah, kakakku. Temani aku menikmati suasana di bawah pohon Tumburjati.”           

 “Baiklah, adinda,” jawab si putri sulung atau anak kedua Batara Guru itu. “Akupun sudah agak lama tidak ke sana.” Sebelum beranjak, mereka berdua tak lupa merapikan letak hulhulan, penggulungan besar untuk benang tenunan. Nampaknya mereka berdua sama-sama kurang bersemangat mempersiapkan tenunan baru. Sebelum tiba di sekitar pohon Tumburjati, mereka mulai memperbincangkan kelak pasangannya. Siboru Deak Parujar tidak berani menunjuk siapa gerangan yang menarik hati dari antara keturunan dewa.           

“Kita semua di lapis kedua kahyangan ini keturunan dewa. Siapapun yang menjadi pasanganku nanti, lebih baik daripada tidak ada.” Begitulah kata Siboru Sorbajati dan meneruskan: “Seandainya ayah kita berkenan juga menjodohkan aku dengan Siraja Odap-odap, aku akan turut juga.”           

Perkataan terakhir bagi Siboru Deak Parujar terasa menyindir. Sudah lama nama tersebut ingin disingkirkannya. Namun Mulajadi Nabolon  sudah mengatur semua kalau keturunan ketiga dewa mengambil pasangan dari antara mereka. Keturunan laki-laki Batara Guru mendapat pasangan dari putri Debata Sori. Anak laki-laki Debata Sori dari Putri Mangalabulan. Sedangkan anak Mangalabulan harus mendapatkan pasangannya dari putri Batara Guru.           

 “Ah, berpapasan saja aku tidak akan mau dengan anak Mangalabulan itu!”  Siboru Deak Parujar melepaskan ketakutannya berpasangan dengan Siraja Odap-odap. Siboru Sorbajati sebenarnya sudah pernah ditawarkan perjodohan itu. Namun dia merasa lebih baik melompat dari balkon rumah dan ingin menjadi batang enau daripada melihat wajah Siraja Odap-odap. Tadinya dia memang hanya ingin mengetahui perasaan adiknya.           

 “Baiklah kita tidak meneruskan langkah ke sekitar Tumburjati. Mungkin Siraja Odap-odap sedang menunggu kita di sana.”           

Mereka pun kembali meneruskan gulungan benang tenunnya sampai memulai tenunan baru. Ktuk… ktuk… Ktukktukktuk! Ktuk… ktuk… ktukktukktuk…. Berhari-hari dan berbulan-bulan.           

 Batara Guru dari bagian biliknya nampak tidak sabar lagi untuk mendesak salah satu putrinya untuk dipersunting Siraja Odap-odap. “Kemarilah kalian berdua,” panggil Batara Guru.           

“Aku masih meneruskan tenunanku!” Sahut Siboru Deak Parujar. Siboru Sorbajati akhirnya melangkah sendiri memenuhi panggilan Batara Guru. Namun sebelum bertemu muka dengan sang ayah, dia sudah mendengar suara-suara yang menanti di halaman rumah. Pikirnya, pasti mereka itu keluarga Mangalabulan sambil menghantar Siraja Odap-odap. Lalu tanpa perlu ketemu lagi dengan Batara Guru, Siboru Sorbajati benar-benar melakukan niatnya dengan melompat dari balkon rumah sambil menyumpahi diri agar menjadi batang enau saja.            

Kejadian itu mengejutkan keluarga Mangalabulan. Namun mereka masih berharap dengan satu lagi putri Batara Guru.   

 “Siboru Sorbajati lebih suka mengutuk dirinya daripada patuh kepada ajar. Satu lagi putri kakanda yang sangat turut pada ajar, pastilah itu Siboru Deak Parujar.” Begitulah Mangalabulan menyampaikan harapan kepada Batara Guru agar segera meresmikan perjodohan dengan anaknya, Siraja Odap-odap. Mendengar harapan itu  Batara Guru segera memanggil Siboru Deak Parujar.           

“Tidak, ayahanda. Lagi pula tenunanku belum selesai,” begitulah selalu reaksi Siboru Deak Parujar setiap kali Batara Guru mendesaknya. Sampai-sampai Batara Guru mulai merasa malu kepada keluarga Mangalabulan. “Selesai atau tidak tenunanmu,” tegasnya ke arah Siboru Deak Parujar, “engkau harus bersedia menerima Siraja Odap-odap. Engkau tak perlu melihat rupa dan mencari alasan.” Perkataan Batara Guru itu membuat Siboru Deak Parujar mulai gemetar. Berkali-kali dia mencari alasan dengan tenunan yang belum selesai. Besok hari sebelum matahari terbit Batara Guru memaksanya menikah dengan Siraja Odap-odap.            

“Ah!” desahnya dalam hati. “Simuka kadal itu dijodohkan jadi suamiku?” Benar-benar dia tak mau terima. Lalu tekanan itu mendorong dia merencanakan sesuatu. “Biarlah aku terjun seperti kakakku Siboru Sorbajati.” Demikian dalam hatinya. Namun dia masih tetap berpikir ke mana akan terjun. Sebelum ditemukan caranya untuk menyingkir besok hari, Siboru Deak Parujar mengalihkan perhatian kembali pada tenunannya. Ktuk… ktuk…ktukktukktuk….            

Sampai menjelang pagi dia mengeluarkan bunyi alat tenunnya itu sambil menikmati. Tiba-tiba dia terpikir melemparkan hasoli, salah satu dari alat tenunnya. Di dalam hasoli itu masih tergulung benang yang dipindah dari hulhulan. Sebelum matahari terbit benar-benar akan dilemparkannya  ke arah tempat gelap.           

Semalaman Batara Guru tetap berjaga agar putrinya tidak melarikan diri. Tiba-tiba bunyi alat tenun Siboru Deak Parujar didengarnya mulai berhenti. “Putriku, Deak Parujar!” Dicoba dari biliknnya memanggili. Namun sekali saja Siboru Deak Parujar menyahut panggilan Batara Guru, dia sudah bergayut pada benang yang menjulur entah sampai ke mana. Perlahan dia semakin turun, nampaknya dunia bawah tidak jelas dan sangat gelap. Angin kencang dan lebih dahsyat kacaunya dari sebelum penciptaan kahyangan. Angin kencang itu membuatnya terayun-ayun dan hampir terlempar. Sampai terang matahari sedikit menyinari bawah kahyangan itu, dia melihat semuanya nun di bawah tanpa tempat berpijak.            “Leang-leang Mandi, Untung-untung Nabolon…!” Dipanggilnya pesuruh Mulajadi Nabolon itu sambil berteriak. “Kumohonkan agar engkau meminta sekepul tanah untuk tempatku berpijak di bawah sana! Aku tak mau kembali ke Banua Ginjang.” Mulajadi Nabolon tidak menolak permintaan Siboru Deak Parujar karena tidak ingin menghukum. Namun ketika sekepul tanah yang dikirimkan Mulajadi Nabolon ditekuk Siboru Deak Parujar, langsung terhamparlah tempat berpijak yang sangat luas dan menjadi awal terjadinya bumi atau yang disebut Banua Tonga.           

 Belum sempat merasakan keberhasilan melarikan diri dari Banua Ginjang dan mencipta Banua Tonga, Siboru Deak Parujar tiba-tiba merasa oleng dan terlempar ke bumi yang dipijaknya. Dia merasa tanah yang ditekuknya itu cukup tipis dan tidak kukuh. Dia ingin memanggil Leang-leang Mandi. Namun suaranya tertahan karena guncangan besar. Guncangan itu menghancurkan bumi yang ditekuknya. Seekor raksasa besar bernama Naga Padoha ternyata si pelaku guncangan besar itu. Entah bagaimana caranya Naga Padoha sekonyong-konyong dapat berada di bawah tanah sebelum melakukan guncangan besar. Konon Naga Padoha dianggap masih dari garis Mangalabulan dan pernah frustrasi disebabkan jodohnya tak pernah berhasil dengan Nai Rudang Ulubegu. Mungkin juga Naga Padoha merasa lebih baik melamar Siboru Deak Parujar.           

“Ompung Mulajadi Nabolon, mohon kirimkan kembali sekepul tanah lewat pesuruhmu Leang-leang Mandi!” Permohonannya itu tidak lama sampai untuk ditekuk kembali, lengkap dengan sebilah pedang dan tutup kepala. Tutup kepala itu untuk dipakai Siboru Deak Parujar menghindari terik delapan matahari yang diciptakan Mulajadi Nabolon untuk sementara mengeringkan banjir air di Banua Tonga. Sedangkan sebilah pedang itu digunakan untuk menaklukkan Naga Padoha.kalau guncangan besar masih selalu dilakukan. Pedang itu sempat ditancapkanya ke bagian kepala Naga Padoha ketika tekukan kedua itu beberapa saat masih diganggu.           

Bumi sudah tercipta oleh Siboru Deak Parujar. Naga Padoha pun sudah ditaklukkan. Begitupun, sesekali Naga Padoha masih akan mengguncang dari Banua Toru, tempat segala kegelapan, kejahatan, dan kematian yang dikuasai iblis itu. Namun penangkal untuknya sudah cukup dilakukan oleh Siboru Deak Parujar dengan cukup menyerukan: “Suhul! Suhul!” Artinya meneriakkan gagang pedang itu saja Naga Padoha akan merasa takut dan segera menghentikan guncangan.             

Terciptanya Banua Tonga oleh Siboru Deak Parujar membutuhkan jenis-jenis kehidupan lain. Lalu dia masih melakukan permintaan kepada Mulajadi Nabolon agar mengirimkan bibit-bibit tumbuhan dan hewan. Mulajadi Nabolon memasukkan semua bibit itu ke dalam potongan batang bambu sebelum Leang-leang Mandi melemparkan ke hadapan Siboru Deak Parujar. Namun satu hal di antara segala jenis bibit itu, Siboru Deak Parujar tidak mengetahui satu hal. Dia baru tahu kemudian setelah semua jenis bibit itu disebar ke seluruh penjuru, di antaranya bercampur jasad Siraja Odap-odap yang dicincang teramat kecilnya. Menunggu tiba waktu dan rasa kesepian muncul dalam diri Siboru Deak Parujar, jasad Siraja Odap-odap yang terberai itu menyatu kembali atas perkenan Mulajadi Nabolon. Dihampirinya Siboru Deak Parujar di sebuah pancuran yang dihalangi rimbun tetumbuhan. “Ohhh!” Siboru Deak Parujar hanya terkejut sejenak.           

 Pertemuan Siboru Deak Parujar dengan Siraja Odap-odap di Banua Tonga tak bisa lagi ditolak. Mulajadi Nabolon memberkati mereka hingga melahirkan manusia pertama di bumi. Manusia pertama itu adalah Raja Ihat Manusia dan pasangannya bernama Itam Manusia. Setelah melahirkan manusia itu Siboru Deak Parujar dan Siraja Odap-odap harus kembali ke Banua Ginjang. Mereka naik ke Banua Ginjang melalui seutas benang. Sempat manusia di bumi itu terikut menaiki benang. Namun kemudian terputus. Perpisahan ini sungguh menyedihkan. Namun Siboru Deak Parujar masih berujar kepada Raja Ihat Manisia: “Kalau kalian rindu kepadaku, terawanglah purnama bulan. Di situlah aku kelihatan kembali bertenun.”  

* diambil dari beberapa referensi         

Published in: on Maret 22, 2008 at 2:17 pm  Comments (1)