cerita “si jonaha”

SIJONAHA PENIPU ULUNG*

Oleh: Thompson Hs
Ada seorang anak yatim piatu bernama Jonaha. Di Tanah Karo namanya sering disebut-sebut Jinaka. Sejak kecil dia sudah yatim piatu. Sehingga salah seorang dari pamannya terpaksa mengasuhnya. Dikatakan terpaksa karena paman Jinaka tidak begitu suka dengan keluguan Jinaka. Pamannya juga menganggap dia bodoh untuk dibawa kemana-mana. Paman Jinaka adalah seorang pemain judi dan mencari lawan bermain judi ke berbagai kuta atau kampung. Sifat pamannya yang juga suka memerintah menganggap Jinaka terlalu lamban. Namun ada juga kalanya Jinaka seperti orang jenaka. Kalau pamannya minta dibangunkan lebih pagi dia akan lebih dulu meniru suara ayam berkokok. Lalu pamannya benar-benar bangun
“Jinaka!” Panggil Pamannya suatu kali sebelum berangkat bermain judi. Jinaka belum bangun ketika itu. Lalu berulang-ulang pamannya memanggil, Jinaka baru terbangun. “Kai, Mama? Apa, paman?” Jawab Jinaka sambil malas-malas menggerakkan tubuhnya. “Medak kam, bangun kamu!” Sambung pamannya. “Aku enggo medak, paman,” sambung Jinaka lagi sambil mengusap sesuatu dari hidungnya. “Hayolah, cepat. Pedasken!” Mendengar suruhan pamannya, Jinaka segera berlari entah ke mana. Lalu pamannya menambahi: “Segera siapkan kudaku.”
Beberapa saat Jinaka harus segera mempersiapkan kuda pamannya. Mereka pergi ke tempat berjudi. Namun Jinaka selalu tidak boleh mendekat ke tempat perjudian itu. Dia selalu menunggu perintah pamannya. “Jinaka, kujenda kam. Ke sini kamu,” Pamannya memanggil untuk meminta tempat sirihnya. Paman Jinaka rupanya suka makan sirih. “Mari ke sini tempat sirihku,” pinta pamannya. Namun Jinaka menjawab dengan lugu. “Tadi kulihat terjatuh sewaktu di perjalanan, Mama.”
“Ihhh, kenapa tak kamu ambil kalau sudah lihat terjatuh?” Bentak pamannya.
“Paman tak ada menyuruhku sebelumnya untuk mengambil,” Jinaka cukup menjawabnya sedemikian. Akhirnya dia kena bentak. Di lain kali Jinaka diingatkan untuk mengambilnya kalau terjatuh dari kuda. “Bukan hanya tempat sirihku saja yang harus kamu ambil kalau terjatuh dari kuda,” pesan pamannya. Lalu dengan enteng pamannya tak risau lagi dengan tempat sirih baru yang menggantikan yang hilang itu. Dari tempat perjudian juga pamannya memanggil Jinaka dengan suara keras. “Jinaka, bawa ke sini tempat sirihku!”
Jinaka tergesa-gesa menyerahkan tempat sirih pamannya. Namun tiba-tiba pamannya mencium sesuatu yang bau. “Apa ini, Jinaka?” Pamannya memperhatikan isi tempat sirihnya yang ternyata sudah berisi tai kuda. “Tai kuda, Mama,” jawab Jinaka. Pamannya dengan setengah marah hampir menampar Jinaka dan bertanya-tanya: “Kenapa kamu masukkan tai kuda ke tempat sirihku, Jinaka?” Lalu dengan enteng pula Jinaka menjawab: “Tapi Paman suruh aku mengambil apa saja kalau terjatuh dari kuda kan? Kulihat juga tai kuda itu berjatuhan, ya kuambillah!”
Paman Jinaka tak habis pikir dengan kebodohan bre atau keponakannya itu. Lalu suatu pagi si paman menyuruh Jinaka tinggal saja dengan kuda. “Aku mau jalan sendirian tanpa kamu dan kuda,” kata paman. Namun Jinaka bersikeras tak mau ditinggal. “Kamu tak bisa ikut. Tapi kalau kamu tak berbuat kesalahan lagi bisalah ikut.”
Jinaka berjanji tak akan berbuat kesalahan. Lalu pamannya sedikit tenang dan berpesan kembali. “Nanti kamu tambatkan kudaku di tempat yang hijau dan subur ya.” Jinaka merasa mengerti kalau kuda pamannya cukup ditambatkan sesuai dengan apa yang didengarnya. Kebetulan dia teringat dengan suatu tempat yang luas yang agak jauh dari tempat perjudian. Tempat yang luas itu sedang menghijau dan kelihatan subur. Tak terpikir oleh Jinaka kalau tempat itu adalah sawah. Di sanalah kuda pamannya ditambatkan. Setelah ditambatkannya dia merebahkan diri di bawah sebuah pohon.
Setengah tertidur, Jinaka seperti kena tampar. “Hayo, bangun! Kudamu sudah merusak sawahku.” Seorang ibu kemudian menjewernya. “Itu bukan kudaku. Tapi kuda pamanku,” Jawab Jinaka terkejut. Ibu itupun menarik-narik sebelah kuping Jinaka ke tempat perjudian. “Yang mana mamamu, tunjukkan!” Di tempat perjudian itu ada beberapa orang pria berkumis. Salah seorang adalah paman Jinaka. “Kenakai, Jinaka? Kenapa, Jinaka?” pamannya spontan berdiri. Ibu itu langsung memberondong tuntutannya ke arah paman Jinaka. “Sawahku dirusak. Aku mau minta ganti rugi!” Benar yang dipikir pamannya kalau Jinaka berbuat kesalahan lagi. Sewaktu dia mencoba memanggil Jinaka, si Ibu itu tak henti-henti melancarkan tuntutannya. Jinaka pun merasa ketakutan setelah mengatakan: “Bukan aku yang merusak sawah itu, Mama. Tapi kuuudaaa.” Demikianlah Jinaka mulai menunjukkan rasa takutnya setelah tak mampu tak mengulangi kesalahan. Namun pamannya harus membayar ganti rugi dengan sisa uang dari 200 ringgit untuk modal judi. Untuk melanjutkan permainan judinya paman Jinaka sudah sering meminjam uang. Saat itu juga dipinjamnya uang dari seorang pembeli manusia yang turut berjudi di tempat itu. “Silih, aku tak bisa meminjamkan uangku lagi kepadamu tanpa boroh,” kata pembeli manusia itu. “Tak usah minta boroh. Aku mau langsung menjual Jinaka kepadamu.” Begitulah akhirnya kekesalan paman Jinaka berpuncak. Lalu pembeli manusia itu menyerahkan tambahan 250 ringgit sebelum membawa Jinaka ke kampungnya.
Pembeli manusia itu membeli manusia untuk dijadikan budak-budak. Suatu kali Jinaka dibawanya mencari manusia lain untuk dibeli. “Hei, Jinaka. Apakah kamu akan lari kalau kutinggalkan sebentar di sini?” Pembeli manusia itu bertanya karena selintas dari pandangannya melihat seekor rusa. Jinaka menjawab saja dengan: “Ya, aku akan lari kalau ada kesempatan!” Tangan Pembeli Manusia langsung melayang ke wajah Jinaka mendengar reaksi itu. Kemudian Jinaka diikatkan di bawah pohon sebelum Pembeli Manusia mencari rusa.
Tidak kebetulan pula lewatlah seorang pemburu dari tempat Jinaka diikatkan. “Eh, eh. Kuakap belkih kepe jelme. Kukira rusa rupanya manusia. Hei, anak singuda. Ise gelarndu?” Jinaka merasa mendapat inspirasi mendengar ucapan pemburu rusa itu. Lalu dia berpura-pura menangis. “Eh, eh, anak muda. Siapa namamu? Jangan menangis dulu,” semakin kalimat itu diulangi Jinaka pura-pura menambah tangisannya. “Tolonglah aku,”kata Jinaka. “Aku menolak dijodohkan pamanku dengan putrinya. Kalau aku mau pasti tidak diikatkan di sini.” Mendengar pengakuan Jinaka seperti itu si pemburu rusa agak heran. “Kenapa kamu tak mau dengan putri pamanmu?” Jinaka mencari-cari jawaban yang bisa menarik perhatian si pemburu rusa itu. Akhirnya si pemburu rusa itu mau menggantikan Jinaka diikatkan sampai pembeli manusia muncul kembali.
Jinaka melarikan diri ke Simalungun. Di sana namanya digantikan menjadi Jonaha. “Dob dua bulan ham i Simalungun on, Jonaha. Sinjah pe ham naroh ijonma iananmu tading. Sudah dua bulan kamu di Simalungun ini. Dari manapun kamu datang di sinilah tempatmu tinggal,” begitulah ibu angkat Jonaha di Simalungun meyakinkan agar Jonaha baik-baik membantunya di sawah. Sejak di Simalungun sebuah kecapi dimiliki oleh Jonaha. Sewaktu dia asyik memainkan kecapi, ibu angkatnya menyuruh dia pergi membersihkan sawah. “Sawah kita akan bersih dari rumput-rumput selagi kumainkan kecapi ini, inang,” begitu Jonaha menanggapi suruhan ibu angkatnya. “Percayalah, inang,” tambah Jonaha karena ibu angkatnya benar-benar tak percaya. Namun entah karena apa ibu angkat itu mencoba memeriksa rumput-rumput di sawah.”Jonaha, sudah kulihat juma kita. Benar yang kamu bilang. Sawah kita memang sudah bersih dari rumput-rumput.” Sambil berteriak gembira Jonaha semakin memainkan kecapinya. Dengan alat yang satu itu dia pergi berkeliling ke berbagai kampung untuk meyakinkan banyak orang kalau kecapi itu benar-benar sakti.
Kabar kesaktian kecapi Jonaha tedengar pula ke telinga si pemalas. Dengan segera dijumpainya Jonaha. “Lawe, aku ingin memiliki husapimu.” Jonaha langsung pura-pura menolak. Namun di dalam hatinya ada niat akan memberi kecapi itu kalau si pemalas dapat mengeluarkan emas simpanan istrinya. “Baiklah, lawe. Aku berani menyerahkan emas ini kepadamu,” si pemalas pasrah menyerahkan emas yang dijemputnya dari rumah dan bersemangat menerima kecapi Jonaha. “Tapi tunggu dulu,” potong Jonaha sambil menarik kecapi itu sementara dari tangan si pemalas. “Untuk memainkan kecapi ini ada tiga syaratnya. Pertama, harus diletakkan di atas para-para di rumah. Yang kedua, kecapi ini baru bisa dimainkan setelah tiga hari tiga malam disimpan.”
“Dan syarat ketiga?”
“Jaga kecapi ini agar jangan dimainkan oleh anak-anak,” lanjut Jonaha. Si pemalas dengan bersemangat menerima kecapi itu setelah dibungkus Jonaha dengan potongan kain berwarna merah. Dua hari kemudian Jonaha mencoba jalan-jalan ke tempat mangkal si pemalas di sebuah kedai. Si pemalas kelihatan sedang bermain catur. Namun tiba-tiba kedengaran suara kecapi dengan bunyi yang tidak teratur. “Suara husapi siapa itu, lawe?” tanya Jonaha. Si pemalas sempat mengira kalau itu bukan bunyi kecapinya. “Belum waktunya kecapiku itu berbunyi. Ini belum tiga hari,” kata si pemalas sambil curiga mendengar bunyi kecapi yang semakin serampangan. Tiba-tiba si pemalas berlari ke arah rumahnya. Dari arah rumahnya kemudian dia berteriak kalau kecapinya itu sudah dibunyikan anak-anaknya. “Lawe, kecapiku sudah dibunyikan anak-anakku. Malahan sudah dirusak!” Teriakan si pemalas itu pertanda keberhasilan tipuan Jonaha. Anak-anak si pemalas awalnya penasaran dengan bungkusan kain merah dan mengira isinya kue.
Si pemalas masih terus berteriak-teriak marah sambil mengejar anak-anaknya. Lalu Jonaha berpikir kalau kemarahan si pemalas bisa merembes kepadanya. “Lebih baik aku pindah ke kampung lain,” Jonaha memutuskan seketika. Di kampung lain dia melihat banyak orang sedang bermain judi. Lalu dia berambisi menjadi orang kaya seperti pamannya. Dengan hasil tukar emas yang diterimanya dari si pemalas dia mulai melakukan kebiasaan bermain judi. Permainan judi itulah yang menjadi kebiasaan Jonaha selain menipu. Jonaha bukanlah petarung yang pernah menang di setiap gelanggang judi. Kekalahannya selalu membuat dia berhutang kepada penduduk kampung terbarunya. Di kampung terbarunya itu pula dia mendapatkan jodoh. “Istriku, siapa di kampung ini yang berbaik hati untuk dapat meminjamkan uang kepada kita?” Pertanyaan ini tidak terlalu sulit untuk dijawab istri Jonaha. “Kukira amang Pandorap dapatmeminjamkan uang kepada kita.”
Tak berapa lama mereka pergi ke rumah Pandorap setelah istrinya mencoba terlebih dahulu. Istri Jonaha memohon kepada Pandorap agar meminjamkan uang beberapa ringgit. “Tapi tiga atau empat hari kamu harus membayar hutangmu ya, Jonaha.” Pandorap langsung mengingatkan Jonaha karena tak biasa dia meminjamkan uang berlama-lama kepada siapapun. “Tolu aripe taho, amang. Tiga haripun jadi, pak,” janji Jonaha agar Pandorap segera memberikan uangnya.
Tiga hari kemudian Pandorap benar-benar datang ke rumah Jonaha. Sebelum mendekat ke pintu rumah, Pandorap sudah berseru. “Horas, lae Jonaha. Nunga ro ahu. Aku sudah datang, lae Jonaha.” Mendengar suara Pandorap dari luar, seketika Jonaha berpikiran agar pembayaran hutang ke Pandorap dapat diselesaikan dengan cara khusus. “Tu bagasma, hamu amang. Masuklah kalian, pak,” dibukakan pintu rumah untuk Pandorap. “Pembayaran hutangku sudah tersedia, amang. Tapi tak enak kalau aku harus langsung membayarnya. Aku ingin pergi ke hutan dulu memburu burung untuk kita makan berdua.” Jonaha mencoba pura-pura sopan. Dia sudah tahu kebiasaan Pandorap yang doyan makan daging apa saja tanpa memperhatikannya. “Kukira amang dapat bersabar sampai aku pulang dari hutan.” Mendengarnya Pandorap tentu tak sabar dengan menawarkan diri ikut ke hutan. Sebelum berangkat Jonaha masih sempat membisikkan sesuatu kepada istrinya. “Tolong masakkan enam ekor ayam remaja untuk kami makan nanti sepulang dari hutan.”
Tidak berapa lama mereka sampai di hutan yang penuh dengan suara-suara burung. Dengan gayanya Jonaha mengeluarkan sebuah sumpit dari balik punggungnya. “Amang, sumpit inilah satu-satunya yang membantu aku dan istriku untuk mendapatkan daging.” Pandorap masih diam saja mendengar pengakuan Jonaha. Tiba-tiba Jonaha melompat dan mengarahkan anak sumpitnya ke seekor burung di antara pohonan tinggi. Namun anak sumpit itu kelihatan tidak kena sasaran. Malahan burung itu terbang tiba-tiba entah kemana. “Hei, burung. Segeralah engkau terbang ke rumah dan masuk ke kuali istriku.” Ucapan itu agak mengejutkan Pandorap. Sampai enam kali Jonaha mengarahkan anak sumpitnya ke arah burung yang hinggap, Jonaha selalu mengulangi ucapan yang serupa di atas. “Amang, enam ekor burung sudah kuperintah setelah mengarahkan sumpitku ini. Marilah pulang karna kita akan menyantap keenam burung itu.” Pandorap tetap diam tanpa komentar karena yang penting baginya adalah pembayaran hutang Jonaha dan tawaran makan.
Di rumah Jonaha, bau daging bersantan menyambut dekat pintu. Istri Jonaha rupanya sudah menyajikan masakannya di atas tikar. “Lihatlah, amang. Kita tinggal bersantap.” Rasa heran Pandorap tiba-tiba muncul dengan sajian itu. Dia langsung mengira yang tersedia itu adalah keenam burung yang diarahkan dari hutan. “Sekarang baru tau kalau sumpit ini luar biasa.” Pandorap tak mampu menahan rasa kagumnya. Lalu dia meminta Jonaha menyerahkan sumpit itu kepadanya. Pikir-pikir dengan sumpit itu Pandorap setiap saat gampang mendapatkan burung dari hutan. “Begini saja, Jonaha.” Pandorap kelihatan semakin serius untuk memiliki sumpit itu. “Asal sumpit ini menjadi milikku, semua hutangmu tak perlu dibayar lagi.” Mendengar kalimat seperti ini Jonaha merasa gembira di dalam hatinya. Kegembiraan itu bukan sekedar karena hutang lunas. Namun tipuannya tak pernah gagal.
Di balik tipuan itu, Jonaha juga tetap punya rasa takut. Setiap tipuannya berhasil dia selalu segera pindah ke daerah lain. Seorang ahli judi bernama si Altup juga pernah ditipunya. Awalnya Jonaha minta diajari agar selalu menang bermain judi. “Satu ilmu untuk menang bermain judi harus kamu bayar satu ringgit.” Itulah syarat yang diterima Jonaha dari si Altup. “Saya akan membayar berapa ilmu yang disampaikan kepada saya. Namun karena saat ini saya belum punya uang, genapkanlah hutang saya menjadi tiga ringgit dengan meminjamkan dua ringgit lagi. Saya akan membayarnya setelah menang bermain judi.” Jonaha meminta kepada si Altup. Dua hari sebelumnya Jonaha sudah meminjam uang dari tiga sekawan bernama si Togop, si Tukuk, dan si Tohang. Uang yang dipinjam Jonaha juga untuk modal judi. Ketiga sekawan ini termasuk jago pukul. Apalagi si Tukuk yang orangnya bisu. Dengan kepalan tangan, Tukuk mengancam Jonaha kalau tidak membayar hutangnya.
Si Altup juga termasuk yang suka memaksa kehendak. Sesuai dengan waktu yang dijanjikan dia menjumpai orang yang berhutang kepadanya.”Jonaha, ini sudah empat hari. Waktunya kamu membayar hutangmu.” Waktu itu Jonaha sedang berada di dapur sebelum menyambut kedatangan si Altup. “Jolo hundul majo hita, lae. Alangkah baiknya kita duduk dulu, lae.” Begitu awal sopan santun yang ditunjukkan Jonaha kepada si Altup. Di rumah Jonaha kelihatan sepi tanpa istri. “Di mana istrimu, Jonaha?” Si Altup mencoba bertanya. Lalu Jonaha menjawab kalau istrinya sudah seminggu membantu pengambilan panen padi Raja Kampung. “Seminggu aku terpaksa masak dengan apa adanya di rumah ini, lae.” Kata Jonaha tanpa mengira kalimat itu muncul dari mana. Kalimat berikutnya semakin lancar diucapkan. ”Seandainya istriku di sini aku akan menyuruhnya memasakkan daging lezat. Setiap hari aku selalu mendapatkan sekerat daging kalau aku mengasah pisau ke batu asahan yang diwariskan almarhum ibuku kepadaku.”
“Aneh bin ajaib. Selama ini aku tak pernah mendengar sebuah batu asahan dapat memberi sepotong daging kalau pisau diasah di atasnya,” reaksi si Altup. Dengan air muka yang dibuat-buat Jonaha semakin menemukan kata-kata jitu untuk meyakinkan. “Hanya batu asahan inilah yang diwariskan ibuku kepadaku. Sebenarnya ini sebuah rahasia. Baru kepada lae aku mengungkapkannya. Sebentar lae tunggu di sini,” Jonaha mengeluarkan sebuah gaya baru dan pergi ke dapur. Dari dapur dia kedengaran mengasah pisau dan menguc apkan kata daging berulang-ulang. “Inilah daging yang muncul dari batu asahan itu, lae. Lae bisa bawa daging ini karena saya tidak pintar memasaknya.”
Si Altup berpikir-pikir. “Kenapa tidak?” Namun dicoba keraguannya dengan menanya ulang Jonaha yang semakin pintar menyampaikan sebuah jawaban. “Aduh, lae. Tak mungkin batu asahan ini kuserahkan kepada lae untuk menebus hutang. Masalah utama bukan tidak berani memberi. Tapi kukira lae dapat lupa akan melangkahi batu asahan ini suatu saat.” Entah setan apa yang membuat si Altup bertahan ingin memiliki batu asahan itu, Jonaha semakin melancarkan ucapan dan gaya tipuan barunya. “Begini saja. Lae bisa membawa batu asahan ini dengan syarat tak bisa terlangkahi. Kalau terlangkahi, kesaktiannya kan hilang.” Si Altup semakin kesetanan setelah mendapatkan batu asahan itu dan melepaskan semua hutang Jonaha.
Beberapa saat Jonaha bergembira dalam hati karena berhasil menipu si Altup. Belum sepenuhnya kegembiraan itu tumpah dalam ketawanya, tiga sekawan sudah dating menyusul. Jonaha dianggap sudah gila karena terbahak-bahak. “Mungkin dia sudah gila karena hutangnya terlalu banyak,” kata si Tohang. “Sebelum lari mari kita tangkap dan ikat.” Ketiganya lalu mengikat Jonaha pada sebilah papan panjang sebelum menyuruhnya berjalan. “Mana mungkin aku bisa jalan dengan terikat begini,” jawab Jonaha. “Sebaiknya kalian lepaskan saja aku agar bisa berjalan ke tempat yang kalian inginkan.” Ketiga sekawan itu sudah sepakat untuk menjual Jonaha. Mereka tak mau melepaskan Jonaha dari papan ikatan itu. “Kalau begitu kalian angkat saja aku ke tempat penjualan manusia biar aku benar-benar tak bisa lari,” lanjut Jonaha. Ketiganya pun terpaksa mengangkat Jonaha. Namun di tengah jalan ketiganya terasa capek dan kehausan. Mereka menurunkan Jonaha dan mengikatnya ke batang pohon sebelum mencari-cari sumber air. Senyum kembali mulai muncul dari wajah Jonaha. Seorang penduduk kampung bernama si Bindoran melihat Jonaha terikat. Lalu Jonaha didekati. “Kenapa kau terikat di sini, Jonaha?” Lalu Jonaha dengan lihai berpura-pura sedih. “Aku tidak tahu bagaimana caranya lari dari sini. Tiga pesuruh raja mengikatkan aku di sini karena aku tak mau menikah dengan putrid raja. Seperti yang engkau tahu aku sudah punya istri. Tak mungkin aku mempunyai dua istri.”
Si Bindoran adalah seorang duda yang sudah lama ditinggal mati istrinya. Bagi dia pengakuan Jonaha menjadi semacam jalan terang. Dia tanpa bertanya-tanya bersedia menggantikan Jonaha diikatkan. “Aku harap lae dapat berbahagia dengan putri raja dan menggantikan aku. Namun aku masih berharap agar lae memberi beberapa ringgit untuk modalku pergi dari kampung ini.” Si Bindoran tidak susah-susah menyerahkan ringgit yang dimilikinya. Sejak itu Jonaha pergi ke daerah lain yang menurutnya aman dan melancarkan kebiasaannya bermain judi serta menipu.
Kabar terakhir Jonaha sudah menjadi seorang tuan tanah di sebuah kampung. Semua tanah yang dimilikinya terkait dengan penipuannya. Dengan kekayaan dia bisa memerintah orang. Suatu ketika pada musim durian, beberapa penduduk diperintahkan jangan terlalu subuh memungut durian-durian yang terjatuh dari pokoknya. “Semalam saya bermimpi bertemu dengan harimau. Harimau itu berpesan kepadaku agar kalian jangan melakukan seperti yang kuperintahkan barusan.” Beberapa hari penduduk itu melaksanakan perintah Jonaha. Beberapa hari kemudian mengabaikan larangan itu mencari durian pada subuh hari. Apa yang diperintahkan Jonaha mulai mereka langgar. “Kita tak pernah lagi menemukan sebiji durian setelah subuh.” Penduduk sangat geram mengeluarkan kegelisahannya. Subuh hari setelah beberapa hari mereka ramai-ramai mengendap ke sekitar pokok durian itu. Mereka perhatikan ada bunyi langkah dengan perlahan. “Ssst, mungkin itu bunyi langkah harimau. Hati-hati.” Mereka saling mengingatkan. Semakin mereka perhatikan bunyi langkah itu semakin terasa seperti langkah manusia. Seseorang mencoba memastikan. Rupanya orang yang melangkah itu kelihatan seperti Jonaha. Jonaha mulai memunguti durian-durian yang berjatuhan. Tidak seberapa lama ada pula bunyi langkah yang agak aneh. Tiba-tiba suara teriakan Jonaha meledak. “Tolong, tolong! Aku diterkam harimau!” Semua penduduk di sekitar pohon durian itu mendengar suara Jonaha dengan jelas. Harimau benar-benar menerkamnya. Penduduk sebagian berlari ke kampung dan sebagian lagi mencoba bersembunyi sampai yakin kalau harimau itu sudah pergi. Keluar dari persembunyian mereka mendekat ke arah mayat Jonaha. Kepala Jonaha hampir lepas karena bagian tengkuknya tepat menjadi sasaran utama harimau. Kabar itu tersebar ke seluruh pelosok kampung. Jonaha penipu ulung itu akhirnya mendapat ganjarannya dengan terkaman harimau.
*Ditulis berdasarkan sejumlah versi (Karo, Simalungun, Toba) dan sudah dicoba menjadi sample cerita untuk Simulasi Pelatihan Opera Batak oleh PLOt di Siantar, 31 Nopember 2008. Cerita dikonstruksi berdasarkan teks pertunjukan terbaru.

Published in: on Mei 22, 2009 at 5:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://thompsonhs.wordpress.com/2009/05/22/cerita-si-jonaha/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: