OMPU BORNOK DAN REGENERASI OPERA BATAK DI SEMINARI MENENGAH*

Oleh: Thompson Hs**            

Kalangan Katolik yang berasal dari Tanah Batak atau khususnya Samosir, tidak akan terlalu sulit mengenal Ompu Bornok. Sebelum nama ini terkenal di kalangan Katolik, bisa saja diduga kalau yang disebut Ompu Bornok hanya sebuah gelar alami dan khusus menurut tradisi Batak atau karena nama cucu sulungnya kebetulan bernama si Bornok. Namun sosok Ompu Bornok yang dimaksud dalam catatan ini adalah Diego van den Biggelaar, seorang pastor kelahiran Liempde (Negeri Belanda) yang tiba di Tanah Batak pada bulan Januari 1935 untuk melakukan tugas misi lewat Ordo Kapusin. Setelah menginjakkan kaki di Balige pada tahun itu juga, beliau langsung belajar bahasa dan adat Batak. Kemudian pada Maret 1936 mulai memasuki daerah Samosir serta mengawali pos tinggalnya di Huta Simbolon.           

Waktu itu kunjungan dan keliling masih dilakukan di Samosir dengan berjalan kaki. Selama perjalanan kaki menuju desa-desa, cuaca harus ditembus. Hujan dan panas matahari dibayangkan dapat membasahi badan. Mungkin demikian juga pengalaman Pastor Diego van den Biggelaar. Basah keringat dari perjalanan kaki itu diperkirakan menjadi awal sebutan Ompu Bornok bagi Pastor Diego van den Biggelaar. Mungkin penduduk yang menyambutnya selalu melihat pastor itu sampai di desa mereka dalam keadaan basah oleh keringat. Merujuk pada kata bornok (dalam bahasa Batak Toba) yang berarti berair, lembab, basah, lengas, tergenang, maka latar belakang sebutan Ompu Bornok itu bersifat alami dan khusus. Namun menurut catatan Pastor Leo Joosten (2005 : 165), sebutan Ompu Bornok merupakan gelar kehormatan yang diberikan masyarakat Samosir karena peristiwa hujan turun setelah kemarau panjang. Hujan turun lebat dan lama setelah sepuluh menit selesai doa dipanjatkan sang pastor. Pastor itu memang sangat pandai berbahasa Batak dan menjadi Batak bersama orang Batak (R. Kurris, SJ., 2006 : 49)           

 Lantas, apa hubungan Ompu Bornok dengan Opera Batak? Tentu saja hal ini menjadi bagian yang menarik setelah Opera Batak digali kembali. Penggalian kembali Opera Batak dilakukan di Tarutung sejak akhir Agustus 2002. Metode penggalian itu melalui sebuah pelatihan yang diikuti 20 peserta dari generasi muda yang sama sekali tidak mengenal bentuk seni pertunjukan ini. Seminggu waktu pelatihan diisi dengan jadwal yang padat mulai pagi hari sampai menjelang tengah malam. Sehingga dapat menghasilkan pertunjukan simulasi dengan membawa teks cerita “Siboru Tumbaga”. Garapan dan cerita itu kemudian mendorong munculnya grup percontohan bernama Grup Opera Silindung (GOS) yang sempat melakukan sejumlah pementasan Opera Batak di beberapa tempat seperti (Tarutung, Laguboti, Medan, dan Jakarta). Dengan pementasan-pementasan GOS, Opera Batak diperkirakan sudah mulai bangkit kembali. Pementasan di beberapa tempat lain pun mulai terpicu. Hingga TVRI Sumut pada tahun 2004 terpancing membuat suatu program Opera Batak Metropolitan sampai 33 episode dengan cerita-cerita terbaru dan melibatkan sejumlah mantan pemain Opera Batak terdahulu.            

Kebetulan saya terlibat membuat beberapa judul cerita dalam garapan TVRI itu, di samping menjadi pelatih dan pengarah artistik untuk persiapan syuting. Di luar kesibukan syuting-studio, saya sempat bikin wawancara dengan para mantan pemain itu. Di antara mereka ada yang bernama Alister Nainggolan, Meri Silalahi, Martua Sitohang, Marsius Sitohang, Erlina Silaban, dan suatu ketika Rosmala Sitohang. Dari Nama terakhir itulah saya mendapatkan informasi kalau Opera Batak terkait dengan Ompu Bornok. Menurut pengakuan Rosmala Sitohang, penamaan Opera Batak berasal dari seorang pastor yang namanya tidak begitu jelas pengucapannya. Namun nadanya hampir mirip dengan “:Biggelaar”. Setelah ditanya soal tahun penamaannya, Rosmala memberi gambaran sekitar tahun 1930-an   semasa aktif ayahnya, almahum  Dahri Uhum Sitohang. Katanya, Dahri Uhum Sitohang langsung mendengar ucapan Opera Batak dari sang pastor sebagai gambaran kesan untuk bentuk pertunjukan yang muncul ketika itu. Memang di Samosir sejak tahun 1920-an sudah mulai muncul nama Tilhang Parhasapi dengan perkembangan bentuk pertunjukan kelilingnya. Tilhang Parhasapi ini terkait dengan nama Tilhang Gultom, kelahiran Sitamiang Samosir dan pimpinan Seni Ragam Indonesia (Serindo) yang populer sampai tahun 1970-an.           

Mungkin Pastor “Ompu Bornok” Diego van den Biggelar beberapa kali sudah memperhatikan bentuk pertunjukan keliling itu selama bertugas dua tahun di Samosir. Lalu beliau mengaitkan istilah opera yang ada di Eropa karena unsur gabungan musik dan tarian serta ditambah lakon cerita  dalam pertunjukan keliling berciri khas Batak. Maka lengkaplah kesan itu dengan penamaan Opera Batak. Namun maksudnya mungkin hanya “Opera Gaya Batak”.Yang dimaksud dengan opera di daratan Eropa adalah drama yang dinyanyikan. Pemain opera memainkan sebuah drama setelah digarap secara musikal dan gaya tarian. Keterkaitan musik/nyanyian, tarian, dan lakon dalam keseluruhan pertunjukan selalu terkait dan menyatu. Bukan sebaliknya, seperti yang terjadi dalam Opera Batak. Unsur-unsur yang dimainkan dalam Opera Batak tidak terkait satu sama lain. Masing-masing dapat dianggap berdiri sendiri dari sisi penceritaan atau alur. Namun ada kalanya lagu-lagu tertentu dicipta untuk menguatkan cerita, seperti yang pernah ada dalam pertunjukan “Siboru Tumbaga”.            

Kenyataan kemudian menyangkut penamaan Opera Batak sempat menjadi termin belaka. Masuknya penjajahan Jepang mengubah bentuk pertunjukan itu dengan penamaan Tonil Asia. Namun penamaan itu diperkirakan untuk mendukung penguatan kepada pihak Nippon. Bentuk pertunjukan itu juga diisukan menjadi alat propaganda melawan kolonialis Belanda. Bahkan semua yang berbau Belanda pada masa Jepang berusaha “diinternirkan”. Setelah kolonial Jepang hengkang penamaan Opera Batak itu ternyata digunakan lagi sebagai suatu arus utama (mainstream) bagi pertunjukan serupa dengan variasi-variasi grup Opera Batak yang muncul mencapai 30-an nama selain Serindo. Sampai awal tahun 1980-an semua grup Opera Batak masih sempat bertahan meskipun kapasitas pertunjukannya sudah mulai tergeser oleh faktor-faktor seperti pertarungan media, masalah regenerasi, dan faktor politik/budaya/sosial/ekonomi. 

Opera Batak Singgah ke Seminari Menengah           

Penggalian dan Regenerasi Opera Batak melalui Grup Opera Silindung sudah menjadi tanggungjawab Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara. Sebagai kabupaten induk, yang pernah mencakup wilayah kultur kebatakan, Tapanuli Utara mendapat rekor sebagai pemicu penggalian sebelum diikuti Kabupaten Tobasa dan Samosir. Untuk meneruskan program penggalian, Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) diadakan di Siantar sejak September 2005. Beberapa produksi pertunjukan Opera Batak sudah dilakukan dan difasilitasi PLOt, di antaranya: Sipiso Somalim, Sipurba Goring-goring, Srikandi Boru Lopian, dan cerita-cerita terbaru lainnya. Sekretariat PLOt yang terletak di Jalan Lingga No.1 Siantar tidak sulit untuk dijangkau. Dipilihnya tempat itu agar proses lanjutan penggalian dapat didukung berbagai pihak. Namun pada Oktober 2006 pihak Seminari Menengah mulai mengetahui perihal itu. Awalnya saya diminta menjadi pelatih ekstra drama setiap hari Jumat sore. Sejak itu saya membagi perhatian dan penyesuaian di luar pengoperasian PLOt kepada Seminari Menengah dan jadwal-jadwal melatih  di beberapa tempat dan kesempatan lainnya. Dua produksi pertunjukan drama di Seminari Menengah merupakan buah perhatian dan penyesuaian itu sebelum bulan Februari 2007 direncanakan satu produksi Opera Batak dengan pilihan kepada cerita “Guru Saman”. Sebelumnya ada tawaran agar cerita “Siboru Tumbaga” yang dipersiapkan.           

Pilihan terhadap cerita “Guru Saman” didasarkan pada dua hal. Pertama, potensi pemeranan dan situasi siswa-siswa seminari menengah. Potensi pemeranan  “Guru Saman” membutuhkan pemain laki-laki. Jadi, pas dengan potensi di Seminari Menengah. Cerita “Guru Saman” sekaligus menjadi nama salah satu tokoh utama dalam garapan ini. Dia adalah seorang turunan Lau Balang (Tanah Karo), yang mendapat ilmu hitam, kebal, dan ilmu silat dari seorang guru kebatinan. Semua ilmunya itu menjadi modal pergi ke mana-mana untuk membunuh manusia yang dipesankan atau tidak disukainya. Selain membunuh didukung dengah hobby main judi dan ke kedai tuak. Setelah beberapa waktu pergi ke Sipahutar, daerah Tapanuli Utara, dia lakukan juga pembunuhan kepada seorang pelayan gereja yang bernama Guru Martin, sekaligus dengan Klara, istri yang sedang berbadan dua. Pembunuhan dilakukan atas desakan Hermanus, kepala desa Sipahutar dan bekas murid Guru Saman. Seminggu sebelumnya Hermanus sekeluarga sempat menyerang Guru Martin saat pasca ibadah gereja. Hermanus merasa tersinggung karena uang pembangunan gereja yang digunakan selama ini disinggung tiba-tiba dalam pertemuan itu. Ketersinggungan itu akhirnya dibawa pulang ke rumah dan menjadi motif kemarahan Guru Saman dan rencana pembunuhan tepat pada Sabtu malam.           

Hal kedua, potensi penceritaan “Guru Saman” yang tidak lagi menyulitkan secara teknis penyutradaran. Dua kali setelah program penggalian Opera Batak, saya sudah terlibat mengarahkan produksi “Guru Saman” yang dimainkan secara gabungan oleh sejumlah pemain pemain Opera Batak terdahulu dengan aktor-aktor Padang Bulan Teater. Namun kesulitan awalnya mungkin bagi siswa-siswa seminari menengah adalah dialog cerita yang 80 persen menggunakan Bahasa Batak dan dialek Toba. Meskipun Guru Saman berasal dari Tanah Karo, nampaknya dialek Toba itu sungguh dikuasainya. Sisa hitungan persen dialog itu menggunakan Bahasa Indonesia dan cuilan kata-kata tertentu dari Bahasa Karo. Menghafal dan memahami dialog-dialog dalam cerita “Guru Saman” menjadi perjuangan utama bagi semua pemain yang mendapat peran masing-masing. Dari hampir 30 pemain utama dalam garapan ini, 10 pemain perempuan berasal dari SMA RK Bintang Timur. Pengenalan dan pelibatan mereka atas permainan Opera Batak baru kali ini. Awal proses produksi sampai Agustus 2007 mereka masih terbentur dengan dialog-dialog yang berdialek Toba itu. Pengalaman itu terkait dengan pemahaman atas arti dan cara mengucapkan kata-kata tertentu dan sudah jarang digunakan. Sebagian pemain yang berasal dari daerah Toba menjadi prasyarat mendapatkan peran tertentu. Namun potensi bahasa Bataknya juga tidak lagi selalu memadai. Jadwal-jadwal latihan pun harus ditambah di luar jam ekstra drama yang hanya 1,5 jam. Hasilnya pun semakin meningkat. Waktu untuk ekstra dan jam tambahan menjadi waktu untuk produksi Opera Batak “Guru Saman”. Semua pemain benar-benar serius dan mendapat pengalaman baru dalam bermain drama. Setiap jadwal latihan, saya pun selalu mulai terbayang dengan Ompu Bornok.     

*Tulisan ini dipersiapkan sebagai catatan penyutradaraan untuk pentas Seminari Menengah Pematangsiantar, di Gedung Aula Universitas HKBP Nomensen Siantar28 Oktober 2007 dan di Balai Tiara Medan 25 November 2007.

**Dramaturg, dan saat ini menjadi Direktur Artistik PLOt.

Published in: on Maret 22, 2008 at 3:34 pm  Comments (3)  

The URI to TrackBack this entry is: https://thompsonhs.wordpress.com/2008/03/22/ompu-bornok-dan-regenerasi-opera-batak-di-seminari-menengah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Horasss! apa kabar, bung?

  2. Informasi dari rektor seminari dan kesaksian beberapa teman yang menyaksikan secara langsung, penampilan opera “Guru Saman” mendapat apresiasi yang luar biasa baik di Siantar maupun di Medan. Aku juga mendapatkan recordingnya dalam bentuk CD.

    Suatu usaha yang luar biasa di negara yang serba instan ini.

  3. Pak Thompson, saya sebagai orang Batak sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak karena meskipun bukan orang Batak, Bapak begitu mencintai kebudayaan kami dengan mau berlelah-lelah merevitalisasi opera batak. Saya berharap semua orang muda batak, termotivasi oleh hal itu untuk mencintai budayanya dengan tulus dan tidak tercabut dari akarnya, dimulai dengan satu hal sederhana, yaitu tidak malu mencantumkan marganya!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: