PERUPA MELUKIS BERSAMA DI DANAU TOBA

Oleh: Thompson Hs*

(e-mail: thompsonhs@ymail.com)

Seniman Indonesia Anti Narkoba atau SIAN cabang Sumatera Utara mewujudkan satu program dengan aksi Melukis Bersama di Danau Toba. 30 perupa Sumatera Utara dipersiapkan dan difasilitasi untuk bisa terjun ke sekitar Danau Toba selama dua hari, tepatnya 9 – 10 Mei 2009 lalu. “Transportasi, penginapan, dan konsumsi ditanggung oleh SIAN,” kata Togu Sinambela, salah seorang perupa dan kordinator melukis bersama itu. Semua perupa yang terlibat berangkat dari Medan pada 9 Mei pukul 06.00 WIB bersama beberapa pengurus SIAN dengan angkutan bus travel yang disewa pulang-pergi. Di Tuktuk Samosir mereka tiba sekitar pukul 10 pagi hari dan langsung ke tempat dan penginapan di Samosir Cottage. Melukis bersama nampaknya dimulai langsung oleh beberapa pelukis. Menurut Edi Siswanto, salah seorang dari pengurus SIAN, 30 perupa itu diharapkan bisa hadir. Sampai konfirmasi di Samosir Cottage 18 perupa sudah hadir. Yang lainnya akan menyusul. Beberapa nama perupa yang sudah sangat dikenal selain Togu Sinambela adalah Reins Asmara, Yos Rizal, Kuntara DM, Popy, Faridah, Jonson Pasaribu, Yatim, Budi Siagian, Panji Sutrisno, dan Andi. Namun dengan mengenal nama-nama tersebut, perupa atau pelukis lainnya sama sekali tak ingin diabaikan. Lagi pula dalam tulisan ini semua nama yang tersebut dan belum sangat dikenal tidak menjadi bagian pembicaraan khusus. Yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah soal melukis bersama itu dalam konteks Danau Toba dan sekitarnya. Berdasarkan pengamatan, para perupa yang difasilitasi SIAN Sumatera Utara ini cukup tertarik dan serius melakukan aksi melukis bersama itu. Dari sejumlah lukisan yang selesai dan tidak dirampungkan di tempat, ketertarikan dan keseriusan para perupa itu menjadi salah satu sudut pandang keperdulian atas lapis-lapis objek sekitar atau mengenai Danau Tioba, baik kultur di sekitarnya maupun objek alaminya yang sangat indah. Semua perupa yang ditemui di sekitar penginapan memiliki spirit mendekati, memilih, memastikan, atau menjadikan sekitar sebagai stimulan bagi bayangan objek yang ingin dilukis dan dibawa selama perjalanan dari Medan. Operasi spirit itu juga berbeda-beda. Ada yang melukis dengan objek terdekat, terjauh, yang tidak ada di sekitar, bahkan yang mengundang penafsiran dan dasar cerita legendaris. Objek terdekat misalnya oleh Reins Asmara dengan melukis sebuah pohon Jawi (jabi-jabi dalam istilah Batak) yang termasuk tua dan tumbuh di balik tembok pembatas penginapan dengan pinggir Danau Toba. Lukisan atas objek itu dirampungkan beberapa jam sebelum melukis objek lain yang hampir mirip menampilkan sebuah pohon. Dua pelukis dekat Reins Asmara, salah satu adalah Yatim, melukis objek awan dan pemandangan gemunung dan gelombang air danau ke arah Utara. Pemandangan gemunung dan awan itu tepatnya di bagian daerah Simalungun dan pemandangan itu nampak seperti objek terjauh dari posisi pelukisnya. Jonson Pasaribu juga melakukan hal yang sama dengan cara menyamping melukis objeknya. Tiga orang pelukis , salah satu Togu Sinambela, dekat posisinya dan di dalam tempat berteduh memandang jauh dan menariknya dengan kuas ke dalam kanvas. Salah satu terkadang harus dibantu dengan memotret objek terjauh tersebut. Pemandangan itu antara teluk Samosir dan daerah pegunungan ke arah Tigaras dan Haranggaol. Salah satu pegunungan antara Seribudolok dan Merek tampang dari tempat berteduh itu, meskipun agak samar. Salah satu dari tiga pelukis itu sampai esok hari menampilkan pemandangan terjauh itu dengan kesan-kesan fenomena yang tidak cerah, bahkan kelihatan murung. Mungkin dia melihat Danau Toba dan sekitarnya tidak lagi indah dan mulai meneyedihkan. Di pelataran atas penginapan ada dua tiga pelukis beraksi untuk objek masing-masing, baik pemandangan yang masish terjauh maupun sosok-sosok karakteristik purba dan simbolis. Rampung tidaknya lukisan mereka kesan-kesan khusus tentang objek yang dilukis menunjukkan spirit itu. Kembali ke posisi terdekat Reins Asmara sewaktu membuat lukisannya yang pertama. Ada lukisan dengan lanskap rumah Batak. Gambaran rumah Batak itu polos dan tanpa ukiran atau elemen-elemen arsitekturalnya. Nampaknya lukisan tersebut ingin menampilkan suatu keadaan di tengah situasi alamnya, entah dekat sungai yang masih dilari air atau sudah kering. Saya belum bisa membayangkan langsung arah lanskap itu ke situasi ekologis sekitar Danau Toba atau sikap keperdulian pemilik rumah Batak atas alam sekitarnya. Terus mengamati semua perilaku selama aksi melukis bersama itu ada sesuatu energi yang murni yang ingin ditunjukkan semua perupa. Energi yang murni itu terkadang bisa membingungkan kepada orang lain dan sekitar penginapan. Untuk mengetahui ada tidaknya kebingungan itu semua hasil lukisan yang rampung atau tidak diharapkan bisa dipamerkan dan dikembangkan dalam pembicaraan. Mungkin aksi pertama melukis bersama itu menjadi pemahaman baru atas kemungkinan-kemungkinan banyak kegiatan untuk sekitar Danau Toba. Meskipun melukis bersama oleh 30 perupa menjadi pertama oleh fasilitasi SIAN, aksi melukis bersama ini dapat menyambung perhatian menyeluruh dalam sikap perduli pada Danau Toba. Apakah yang perlu diperdulikan untuk Danau Toba? Danau Toba Sekitarnya Danau Toba sekitarnya dikelola oleh tujuh (7) kabupaten, yakni Simalungun, Karo, Dairi, Humbahas, Taput, Tobasa, dan Samosir dengan masing-masing proyek pemberdayaan lokasi untuk bisnis, pariwisata, kerambah, hotel, hutan, pertanian, tempat tinggal dan ladang/sawah penduduk, dan pasar-pasar tradisional. Poin-poin tersebut mungkin saja ada dalam khayalan para perupa untuk dijadikan lukisan yang mendatangkan uang kembali atau disumbangkan sama sekali. Namun pikiran tersebut tidak ingin digambarkan ada atau tidak dari semua perupa yang hadir dalam melukis bersama itu. Dari segi etisnya, semua para perupa itu bisa hadir melukis bersama di Danau Toba disebabkan eksistensi dan kesiapan SIAN. Andai ketujuh kabupaten itu terpikir dan melakukannya mungkin koneksi etis dan teknis dapat menampilkan kapasitas keperdulian itu semakin berkembang. Namun karena pengandaian hanya bersifat untuk memicu kesadaran, siapa saja bisa melakukan aksi melukis bersama di Danau Toba dan sekitarnya. Untuk menyebarkan informasi adanya melukis bersama ini, dalih pameran dan ngobrol-ngobrol secara prinsip sudah dibuka pihak SIAN. Penyebaran informasi untuk itu disebarkan ke sejumlah organiser kegiatan di Parapat dan Samosir. Selain penyebaran informasi di hari pertama jauh hari sudah dilakukan semacam sosialisasi dengan teknik berbagi informasi lewat ponsel dan face book. Ada beberapa orang yang mendapat informasi hadir pada Minggu, 10 Mei 2009 itu. Meskipun para pelukis sebagian sudah mengemas lukisannya karena pengaruh check- out acara ngobrol-ngobrol berlangsung antara beberapa pelukis dengan penduduk setempat. Penduduk setempat menceritakan situasi sekitar karakter kepariwisataan itu masih dalam tarar tidak profesional dan jujur. Beberapa pelukis yang terlibat dalam obrolan itu masih sangat tertarik untuk melukis di sekitar Danau Toba. Namun mereka harus difasilitasi seperti sekian perupa atau seniman yang pernah difasilitasi pemerintah kolonial Belanda untuk menaikkan Bali, kebudayaan dan pariwisatanya ke seluruh dunia. Bali yang surplus saat ini adalah hasil promosi melalui karya seni pada zaman kolonial Belanda. Belanda melakukan perjanjian dengan para seniman seperti pelukis dan musikus Jerman Walter Spies, komponis Kanada Colin Mcphee, Novelis Vicki Baum, dan lain-lain yang mempengaruhi kedatangan seniman-seniman Eropa lainnya hingga menjadikan Bali sempat terkesan seperti pulau para Seniman (Michel Picard, 1992 : 42). Tentu berbagai cara sudah dilakukan untuk promosi keindahan Danau Toba dan kultur di sekitarnya. Namun akhir-akhir ini promosi itu nampaknya lebih dilakukan dengan mengabaikan pariwisata yang indah, ekologis, penguatan kultur yang jujur dan melayani. Mungkin di sekitar Danau Toba sudah terjadi satu format yang hanya membutuhkan uang dan servis. Semoga tidak demikian.Pasti masih ada orang baik dan jujur agar Danau Toba tidak hancur karena kerambah, pengrusakan hutan, pembuangan limbah, atau proyek debit air. *Berprofesi sebagai penulis dan sutradara. Direktur Artistik PLOt Siantar.

Published in: on Mei 29, 2009 at 4:57 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://thompsonhs.wordpress.com/2009/05/29/perupa-melukis-bersama-di-danau-toba/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: