Gondang Naposo di Jakarta

Malam 26 Januari 2008 lalu berlangsung sebuah acara di Lapangan Baseball Gelanggang Olahraga Rawamangun (Vellodrome) Jakarta dengan bertajuk: Seni Pertunjukan Musik Tradisi Batak Toba GONDANG NAPOSO. Acara ini berlangsung atas persembahan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dengan Perkumpulan Komunitas Batak Toba Sejabodetabek dan dipersiapkan sejak beberapa bulan.  Di tempat acara tersebut berdiri sebuah panggung besar dan tinggi dengan sentuhan ornamen Batak Toba seperti ukiran.Sejumlah peralatan musik tradisional seperti taganing dan musik modern mengisi sebagian panggung, ditambah tiang-tiang mikrofon yang kelihatan hendak melengkapi  latar belakang panggung dan layar filem (sreen). Malam sebelumnya tempat-tempat penonton utama dan panggung itu mulai didirikan oleh sejumlah kru yang diarahkan oleh Tongclay Siahaan, salah seorang dari seksi program acara. Stan-stan penjualan di sekitar ada juga. Acara itupun dicoba mulai menjelang maghrib dengan penampilan kelompok Viky Sianipar. Namun sewaktu lagu Nommensen belum tuntas dilantunkan Tongam Sirait acara terhenti beberapa saat; mungkin karena suara azan atau sekaligus masalah teknis.           

 Para pengunjung semakin bertambah dan memadati areal di depan panggung. Kebanyakan dari pengunjung dipastikan datang dari wilayah Jakarta Timur. Namun ada juga yang sengaja datang dari Bandung. Kelihatannya orang-orang muda Batak benar-benar sangat antusias melihat acara itu karena baru pertama kali diadakan di Jakarta. Memang itulah yang disampaikan oleh Cerman Simamora, ketua panitia sebelum acara secara resmi dibuka utusan Pemkab Taput. Acara yang berlangsung sampai tengah malam itu juga diselingi berbagai penampilan seperti dari kelompok Tarzan Simamora yang membawa garapan Opera Batak Siboru Napinaksa, karya koreografi Seven Sibarani, Trio Ampapaga, dan Toba Dream 3 Viky Sianipar. Meskipun pelaksanaan acara ini masih cenderung memberikan ruang lebih kepada semua penampilan di atas, acara dianggap positif dan akan dipersiapkan menjadi acara tetap di Jakarta.            

 Berikut ini adalah sebuah catatan dasar pelaksanaan acara yang sebelumnya diminta oleh pihak panitia.           

Gondang Naposo adalah sebuah tradisi pelaksanaan gondang Batak Toba untuk konteks muda-mudi. Pengertian gondang dimaksudkan sebagai acara yang bersifat ritual, alat musik itu sendiri, dan jenis-jenis repertoar yang dimainkan selama acara berlangsung. Naposo diartikan sebagai muda-mudi yang belum berkeluarga dan sekaligus secara simbolis sedang belajar praktis dalam beberapa materi acara. Di beberapa tempat sub etnik Batak  tradisi untuk muda-mudi ini dikenal baik, seperti di tanah Karo dengan Guro-guro Aron dan di Simalungun dengan Rondang Bintang.          

  Pelaksanakan Gondang Naposo pada zaman dahulu dilaksanakan seusai musim panen pertanian, seperti padi dan ditentukan dengan alasan-alasan pentingnya seperti mencari pasangan hidup atau internalisasi hubungan yang ada sebelumnya. Karena media pertemuan dalam Gondang Naposo itu dilengkapi dengan perilaku tortor (tarian Batak), lawan jenis tertentu dapat mengukur layak tidaknya seseorang menjadi pasangan hidup. Seseorang yang pintar menari pada zaman dahulu menjadi perhatian penting dalam acara itu. Ekspresi tarian Batak yang cenderung minimalis nampaknya berakar pada suatu gerak di dalam perasaan penarinya. Namun ada kalanya varian tarian lain seperti tumba yang keluar dari pola minimalis menjadi ekspresi kegembiraan bersama muda-mudi. Selama acara berlangsung tetua kampung atau konfederasi kampung menjadi fasilitator, sekaligus pengamat semua perilaku yang terjadi di arena acara itu.          

Alat musik untuk Gondang Naposo zaman dahulu dapat dengan instrumen gondang sabangunan dan uning-uningan. Karakter gondang sabangunan berkesan serius. Sedangkan uning-uningan berkesan menghibur.           

 Acara Gondang Naposo sudah sangat jarang dilakukan karena perubahan zaman. Namun pola pelaksanaannya mengikuti tradisi pelaksanaan acara gondang secara umum, ditambah dengan variasi lainnya untuk menghibur muda-mudi. Sebelum acara Gondang Naposo dilaksanakan ada tahap-tahap menghadirkan pargonsi (pemain gendang Batak) untuk acara tersebut. Tahap Pertama disebut Manggalang Pargonsi. Kurang lebih pengertian tahap ini merupakan ajakan secara adat kepada pemain musik. Setelah pargonsi sudah bersedia maka pada Tahap Kedua disebut Panjujuron Gondang, yakni layak tidaknya atau ricek jadwal acara menurut kalender waktu itu atau sekedar intuisi dari pargonsi. Setelah disepakati, Tahap Ketiga dalam pelaksanaan acara disebut Mambuat Tua ni Gondang. Fasilitator membuka acara dengan mengawali permintaan gondang.           

Ada aturan-aturan tertentu untuk meminta repertoar gondang kepada pargonsi. Si peminta adalah orang yang fasih meminta gondang, terutama dengan pengetahuan atas musik awal, permintaan khusus, dan musik gondang penutup. Si peminta sering disebut paminta gondang. Selain mampu meminta repertoar gondang itu, kemampuan lain adalah caranya meminta dengan kemampuan menyampaikan umpasa, pantun Batak. Ada kalanya paminta gondang adalah orang tua untuk sekaligus memberi contoh. Setelah fasilitator membuka permintaan gondang itu, kelompok muda-mudi yang dipersiapkan antri berdasarkan asal kampungnya. Ada kalanya acara ini berlangsung sampai tiga hari tiga malam karena antrian yang banyak atau diisi kelompok muda-mudi dari konfederasi kampung. Antrian tentu dilaksanakan karena muda-mudi yang datang dari kampung terjauh tidak sampai kecewa. Mereka datang dari mana-mana dengan jalan kaki dan ingin menemukan jodohnya lewat acara itu. Setiap kelompok muda-mudi yang mendaftar juga ada kalanya menggiring paminta gondangnya yang handal di kampungnya.            Berakhirnya acara Gondang Naposo juga ditutup oleh tetua atau fasilitator. 

Arketipe Perkampungan Batak untuk Gondang Naposo           

Pelaksanaan Gondang Naposo biasanya berlangsung di tempat yang luas. Situasi pelaksanaan itu tentu seperti suasana hiburan di lapangan terbuka (Outdoor).  Zaman dahulu pelaksanaan acara gondang terkadang di halaman rumah Batak. Pargonsi ditempatkan di bagian balkon rumah Batak. Bagian balkon itu biasa disebut halangan gordang. Nampaknya bagian itu sengaja dibuat untuk pargonsi pada musim acara tertentu dan tempat santai pemimpin rumah itu. Namun di beberapa tempat fungsi balkon itu difungsikan untuk tempat gantungan hasil pertanian karena tidak digunakan sebagai pusat wilayah acara ritual.           

 Tempat acara lainnya adalah di parbiusan,  lapangan tempat musyawarah raja-raja dan kampung yang dapat berfungsi sebagai pusat keramaian dan onan, pekan pada hari lainnnya. Jika areal tertentu di situ –yang bernama toguan—tidak bisa dijadikan sebagai tempat pargonsi, maka harus dibangun tempat khusus yang bernama pansa-pansa. Tempat itu menyerupai panggung dengan ornamen-ornamen kebatakannya. Konstruksinya dibuat agak tinggi agar bisa dilihat dari kejauhan, termasuk partiga-tiga, para pedagang makanan dan minuman. Makanan dan minuman Batak yang umum dijual di tempat ramai adalah lampet, ombus-ombus, mie gomak, sendor, tuak, dan makanan utama seperti naniarsik, natinombur, dan lain-lain.           

Gondang Naposo untuk Zaman Modern           

Kemungkinan Gondang Naposo dilaksanakan pada zaman modern diawali oleh suatu kerinduan atas cara berinteraksi zaman dahulu.  Meskipun pengetahuan praktis atas acara ini dapat berubah namun hal-hal penting yang perlu dipertahankan dapat didasarkan kepada:

  1. Menentukan fasilitator; panitia pelaksana, tokoh adat, pengamat budaya Batak untuk menentukan pelaksanaan acara, proses, dan materi-materinya (batasan gondang, hand property, kostum, dll). Jika perlu dilakukan pertemuan (atau seminar) untuk memberi pengetahuan umum tentang pelaksanaan acara gondang untuk semua kelompok muda-mudi sebelum acara dilaksanakan.
  2. Memastikan jumlah kelompok muda-mudi yang akan meminta dan atau menari di arena
  3. Mempersiapkan penari-penari utama  untuk menyambut antrian kelompok muda-mudi yang membawa persembahannya dengan simbol beras di dalam wadah tertentu (biasanya piring), uang kertas, dan sirih. Ada kalanya uang kertas diselipkan di ranting kayu.
  4. Kepastian tentang pargonsi  yang masih fasih membangun suasana permainan untuk konteks muda-mudi
  5. Hal-hal lain menyangkut keamanan dan makna politis kebudayaannya.

 Selingan untuk Gondang Naposo           

Selingan untuk Gondang Naposo terdahulu belum diketahui persisnya. Namun pada pelaksanaan Gondang Naposo untuk zaman modern dilakukan variasi selingannya melalui potensi musikal dan pertunjukan repertoar musik uning-uningan. Faktor modernitas di setiap tempat mempengaruhi selingan yang dibutuhkan. Namun kalau faktor kerinduan sebagai satu hal penting ada beberapa jenis pertunjukan dan perkembangan entitas kebatakan yang perlu diperkenalkan dalam acara Gondang Naposo untuk zaman modern.

  1. Repertoar uning-uningan murni
  2. Pertunjukan Sigale-gale
  3. Opera Batak secara mini; bisa dengan gaya pakter tuak
  4. Kolaborasi musik etnik dan modern

         *  Penulis adalah freelance writer, sutradara, dan direktur Pusat Latihan Opera Batak (PLOt)                      Pematangsiantar.

Telah Terbit on Maret 22, 2008 at 1:49 pm  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://thompsonhs.wordpress.com/gondang-naposo-di-jakarta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mauliate Lae …
    Lam tamba parbinotoan ni iba.

  2. Jogi hian antong suraton muna on ampara ! Ambal ni hata tahe, ai diboto hamuna do personal contact ni master naposo Jeffar Lumbangaol?
    Nunnga mansai leleng ahu mangalului i dabo, paboa jolo molo dapot ate?
    Mauliate! Molo maol dipasahat nasida ni blog on, boima di email tu jiwabatara@yahoo.com

    mauliate!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: