Pasca Temu Sastrawan Sumatera 2007: YUK KE BATAM, ADA TARMIZI DAN RUMAHHITAM

Oleh: Thompson Hs            

28 – 30 Desember 2007 lalu berlangsung Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara di Medan. Dari tiga peserta yang hadir dari luar propinsi Sumatera Utara adalah Tarmizi, pendiri Komunitas Rumahhitam Batam. Dua perwakilan lainnya datang dari Nanggroe Aceh Darussalam (D. Kemalawati) dan Propinsi Bangka Belitung (Ira Esmiralda). Kalau tak salah, baru dua kali Tarmizi datang ke Medan untuk mengikuti acara sastra. Melalui kesempatan dua kali itulah terjadi pertemuan langsung menyambung kontak-kontak selama ini melalui alat komunikasi seperti ponsel dan e-mail. Sebelum acara Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara, 21 Juli 2007 lalu Tarmizi masih sempat melaksanakan Pentas Penyair 7 Propinsi di Sumatera bersamaan dengan peresmian ruang rumah baca Raja Ali Kelana di Rumahhitam, komunitas yang didirikannya pada April 2000. 15 Penyair dari tujuh propinsi di Sumatera tercantum dalam undangan acara itu. Ketujuh propinsi itu adalah Kepri (Ramon Damora, Abdul Kadir Ibrahim, Tusiran Suseno, Ayah Sultan, Hj. Aida Ismeth Abdullah, Machzoumi Dawood, Hasan Aspahani), Sumbar (Romi Zarman dan Iyut Fitra), Riau (Hang Kafrawi dan Marhalim Zaini), Sumsel (Anwar Putra Bayu), Jambi (M. Husairi), Lampung (Isbedi Stiawan), dan Sumut (Thompson Hs, yang kemudian merekomendasikan Hasan Al Banna). Bisa jadi kemudian panitia Temu Sastrawan Sumatera di Medan terpicu lagi dengan pelaksanaan acara yang di Batam itu atau karena acara lain, Sebenarnya sudah dua kali Sumatera Utara ditunjuk sebagai pelaksana pertemuan level sastra wilayah Sumatera, yakni Temu Sastrawan se-Sumatera di Bandaaceh pada tahun 1999 serta Temu dan Dialog Penyair se-Sumatera di Padang pada tahun 2003. Namun tampaknya pengorganisasian acara sastra di Sumatera Utara masih tergantung oleh suatu tawar-menawar politis antar lembaga-lembaga tertentu.Sehari sebelum pembukaan acara Temu Sastrawan Sumatera Tarmizi memberitahu dirinya kalau sudah sampai di Medan dan bertanya kapan datang untuk bergabung dengan teman-teman. Acara Temu Sastrawan Sumatera ini akhirnya masih bisa dilaksanakan atas nama Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU) dengan dana hanya  Rp. 12 Juta (Sumut Pos, 30/12) serta mengundang 71 sastrawan Sumatera Utara dan 11 sastrawan dari propinsi lain plus Hamsad Rangkuti dari Jakarta. Namun sampai pembukaan acara itu berlangsung pada malam 28 Desember 2007 sastrawan dan hadirin yang muncul hanya 50 orang (Kompas, 29/12), termasuk Tarmizi.  Tarmizi dalam agenda yang dibuka Shafwan Hadi Umri itu mewakili Propinsi Kepulauan Riau (Kepri) dan sekaligus menjadi pembicara melalui catatannya yang berjudul: Menyibak Konstelasi Sastra di Kepulauan Riau (Panitia Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara, 2007 : 287-293). Sekedar menyinggung catatan Tarmizi, dihantar kejayaan sastra lisan dan tulisan pada masa silam di Kepulauan Riau melalui peranan penulis awal dalam Kerajaan Melayu dan sejumlah nama seperti Raja Ali Haji, Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, Raja Ali Kelana dengan Rusdiah Klabnya yang menghimpun banyak penulis produktif seperti Raja Khalid Hitam, Raja Aisyah Sulaiman, Raja Abdullah, Raja Haji Umar, Raja Ahmad Tabib, Raja Haji Muhammad Said serta Raja Haji Muhammad Yunus Ahmadi. Selain nama-nama tersebut ada juga beberapa pengarang wanita, seperti Khadijah Terung, Salamah Binti Ambar, dan Badarian Muhammad Taher. Namun kejayaan sastra Melayu dalam keterkaitan nama-nama itu menjadi semacam beban sejarah bagi penulis generasi baru di Riau dan Kepri. Dengan mengandalkan buku Teks dan Pengarang di Riau oleh UU Hamidy (Cindai Wangi Publishing House, 2003) Tarmizi dalam catatannya kembali menekankan perihal kegemilangan para penulis Melayu tersokong oleh faktor kekuasaan waktu itu hingga naskah-naskah mereka terpelihara dengan baik dan menjadi manuskrip yang bernilai tinggi. Mereka sangat jauh berhasil dan belum tertandingi oleh para penulis Riau dan Kepri pada zaman modern ini.Terkait dengan konstelasi bersastra saat ini di Kepri, fasilitasi lembaga-lembaga legal belum memadai untuk mendukung para penulis. Di Kepri sendiri ada sejumlah nama yang cukup mencuat  ke permukaan dan konsisten sejak tahun 1990-an, di antaranya: Hasan Aspahani, Tusiran Suseno, Huesnizar Hood, Mazoumi Dawood, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, Abdul Kadir Ibrahim, Junewal Lawen Muchtar, Liza Ang, Nuraini, Nurul F. Huda, Aisyah Sulaiman, Hj. Suryatati A. Manan. Namun belum ada karya monumental yang dianggap lahir dari keterwakilan para penulis di Kepri.  

Tarmizi dan Rumahhitam

            Lanjutan Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara ditawarkan pelaksanaannya ke Batam dan Pematangsiantar atau Padangsidimpuan (Tapsel) untuk tahun 2008. Kelihatannya dalam bincang-bincang informal, Tarmizi tidak keberatan menerima rekomendasi itu meskipun sempat merasa keterwakilan propinsi yang tidak hadir perlu untuk keputusan itu.  Apakah keterwakilan empat (4) propinsi yang ada dalam Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara sudah bisa memutuskan kelanjutan agenda di tempat lain? Mungkin demikian pertanyaannya. Hal lain nampaknya perlu diketahui menyangkut jebakan tafsir Sumatera sebagai geopolitik sastra atau hanya sekedar regio kreativitas. Selesai tafsir itu juga masih mungkin muncul tumpang tindih lain dengan agenda seperti Temu Penyair se-Sumatera, Jawa, dan Bali yang pernah terlaksanakan di Lampung tahun 1996. Satu jadwal lagi adalah pelaksanaan Temu Sastra Indonesia, diputuskan melalui Forum Sastra Festival Kesenian Yogya (FKY) XIX/2007 yang akan berlangsung di Propinsi Jambi tahun 2008 ini. Namun sampai tulisan ini dibuat, jadwal keputusan di Jambi belum dikabarkan. Malahan yang sudah lebih dulu adalah undangan Panitia Kongres Komunitas Sastra Indonesia yang berlangsung di Kudus, Jawa Tengah 19 – 21 Januari 2008.Lanjutan Temu Sastrawan Sumatera itu benar-benar direkomendasikan ke Batam dan Temu Sastrawan Sumatera Utara ke Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan (Metro Tapanuli, 8/1). Menurut Tarmizi kelanjutan itu direncanakan akan berlangsung pada 1 – 7 April 2008 bersamaan dengan pelaksanaan acara Batam Art Festival yang sudah diadakan sejak 2004.  Maksud tulisan ini pada awalnya bukan untuk mengusut persiapan pelaksanaan acara itu, kecuali hanya ingin menduga semangat Tarmizi dan Komunitas Rumahhitam yang terus berkembang dalam pimpinannya. Dugaan ini ternyata tidak cukup dengan dua kali pertemuan langsung di Medan. Ada tiga sumber yang digunakan untuk konstruksi dugaan itu, yakni terbitan panitia Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara, 2007. Kemudian salah satu tulisan A. Rahim Qahar yang pernah dimuat di Harian Medan Bisnis dengan judul: Rumah Baca di Rumahhitam serta buku Pasar Seni Batam (4 tahun komunitas seni rumah hitam dan sejumlah sajak) terbitan Yayasan Pusaka Riau, Pekanbaru 2004.             

Tarmizi dengan Komunitas Rumahhitam-nya merupakan senyawa yang sudah sejak 1994 mengidentifikasi perlunya kehidupan seni di Batam. Seperti dalam catatan Hasan Aspahani, “tarmizi adalah rumahhitam, rumahhitam adalah tarmizi.” Kelahiran kota Rumbai 21 Juli 1973 ini adalah alumnus Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Padang tahun 1993 dan berangkat ke Batam setahun kemudian untuk memasuki dunia kerja. Namun dari ribuan perusahaan di Batam tak satupun menerima ajuan lamarannya. Sehingga sempat menjadi pekerja bangunan, jualan asongan, jualan es buah sampai membuka usaha kerajian dan lukisan di Pasar Sungai Harapan, Sekupang Batam. Namun perhatiannya terhadap seni dan kebudayaan tidak dikesampingkan dalam hijrah pertamanya itu ke Batam. Diakui kalau pernah bergabung dengan Sanggar Seni Parak Tingga, Sangga Garminah sebelum minatnya muncul untuk melanjut ke Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang; meskipun hanya satu tahun (1998-1999). Setelah itu Tarmizi berani kembali ke Batam dengan intergritas yang baru untuk mewujudkan mimpinya dengan melakukan kunjungan dan dialog terhadap sejumlah penggiat seni di Batam. Dengan hijrah keduanya inilah Tarmizi merasa enteng melakukan gerakan kesenian di Batam dari menggagas munculnya Dewan Kesenian Batam (DKB) dengan Perkemahan Seniman Batam (PSB) sebagai pemicunya dan Perkampungan Bulang 2000 sebagai tanda sambutan kongkret terhadap dirinya di Batam.           

 Dalam hitungan tahun 2000 itu jugalah muncul upaya untuk membuat komunitas yang terkait dengan situasi urban di Batam. Sebuah Komunitas Rumahhitam didirikan awalnya di daerah Batuaji Batam pada April 2000. Namun karena tempat itu merupakan lokasi Perumahan Binnah Ummah yang didirikan kemudian akhirnya komunitasnya tergusur seperti rumah-rumah liar dan dianggap illegal waktu itu di Batam. Kemudian Tarmizi mencoba menyewa rumah di kawasan Bukit Beruntung. Di kawasan terakhir inilah Tarmizi seperti memperoleh keberuntungan dari Drs. H. Ismeth Abdullah, waktu itu pimpinan Otorita Batam dengan memberikan hak pakai tanah kurang lebih 3 hektar. Dari kesempatan inilah Tarmizi dapat mengembangkan Komunitas Rumahhitam hingga saat ini tanpa gangguan lahan bersama teman seperti Faisal Amri. Lokasi komunitas itu tepatnya terletak di Jalan RE Martadinata, Sekupang atau depan Gedung Beringin Batam. Sejumlah program dan kegiatan, dari rutin sampai tahunan, diakui semakin leluasa dilakukan  setelah komunitas mulai mendapat bantuan fasilitas dan hibah dari Otorita Batan dan Pemerintah Propinsi Kepri; termasuk tradisi Rumahhitam Award dan Batam Art Festival yang akan berlangsung kembali bersama agenda Temu Sastrawan se-Sumatera 2008.                        

 *Penulis, sutradara teater, dan Direktur Artistik PLOt Siantar.

Published in: on Maret 22, 2008 at 2:29 pm  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://thompsonhs.wordpress.com/2008/03/22/pasca-temu-sastrawan-sumatera-2007-yuk-ke-batam-ada-tarmizi-dan-rumahhitam/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Hallo Thomson apa kabarmu? Aku mampir baca-baca. Salam buat kawan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: