Alister Nainggolan dan Zulkaidah Harahap:

 

PENERIMA TUNJANGAN MAESTRO 2007

Oleh: Thompson Hs

 

Alister Nainggolan dan Zulkaidah boru Harahap merasa sangat senang ketika Opera Batak mulai dibangkitkan kembali. Maklum, mereka berdua pernah sama-sama menjadi pemain Opera Batak Serindo pimpinan almarhum Tilhang Oberlin Gultom. Itulah salah satu alasan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Pematangsiantar pada 17 Maret 2007 lalu untuk mengajukan keduanya dapat menerima Tunjangan Maestro dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Tunjangan Maestro itu merupakan program yang diwujudkan oleh Mukhlis PaEni, Dirjen Nilai Seni, Budaya, dan Film (NSF)  sejak 2007 untuk para seniman tradisi berusia di atas 50 tahun, dengan pendapatan ekonominya yang memprihatinkan, produktif, dan serta merta dapat melakukan regenerasi. Hasil seleksi terhadap dari 54 calon maestro diumumkan 28 Desember 2007 lalu. Dua dari antara 27 Maestro yang lolos seleksi adalah Alister Nainggolan dan Zulkaidah Harahap. Hasil Seleksi itu tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.48/KU.209?MPK.2007 tentang Pemberian Santunan kepada Seniman Senior Indonesia Tahun 2007. Dana tunjangan untuk setengah tahun pertama 2007 telah diterima pada bulan juni 2008 lalu. susulan dana berikutnya dari pihak kementerian diharapkan menyusul segera.

 

Alister Nainggolan, 70 Tahun.

Bergabung ke Serindo pada tahun 1965, sewaktu ada pementasan Serindo di tempat kelahirannya Sungai Loba, Tanjungbalai dengan menjadi tukang angkat barang-barang dan tenaga keamanan. Kebetulan waktu itu juga Alister baru putus sekolah dari bangku kelas dua SMA. Pada  awal masuknya ke Serindo, Alister mengisi waktu luangnya belajar alat-alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Opera Batak, seperti sulim, sarune (etek & bolon), hasapi, garantung, dan taganing. Kemampuannya menguasai sejumlah alat musik itu, termasuk gamelan Jawa kemudian, meningkatkan karirnya menjadi pemain musik meskipun awal-awalnya hanya untuk menggantikan pemusik yang berhalangan atau keluar dari Serindo.  Minat menjadi pelakon cerita juga dimiliki oleh Alister. Di Serindo Alister pertama kali menjadi pelakon parbaringin, pendeta ritual agama Batak dalam lakon cerita Sisingamangaraja.

Alister bertahan di Serindo sampai tahun 1970 sebelum empat tahun kemudian mendirikan grup Tiurma Opera bersama Erliana boru Silaban, sang istri yang juga pemain dan penyanyi di Serindo. Nama Tiurma Opera sendiri diadopsi dari anak ketiga mereka yang bernama Tiurma. Dengan grup itulah Alister melakukan pentas Opera Batak secara keliling dengan banyak kesulitannya. Sebagai tauke Opera Batak, Alister harus mampu memimpin dan menggaji 40-an pemainnya. Sementara izin, hasil, dan pungutan atas semua pertunjukan yang dilakukan sering tidak seimbang dengan kebutuhan utama para pemain. Akhirnya tahun 1984 Grup Tiurma Opera juga terpaksa dibubarkan, ditambah karena desakan media hiburan terbaru seperti televisi dan filem.

            Beralih dari pentas Opera Batak, Alister tidak berhenti dengan alat musiknya. Sambil menerima kerja informal, Alister mulai mengajari anak- anaknya bermain musik dan bernyanyi. Sampai mempunyai delapan anak, jejak kepintaran Alister bermain musik diikuti. Bahkan dua tiga orang cucunya diajarinya juga pada keahlian tertentu dalam permainan Opera Batak.

Berani berkeliling lagi, mereka membawa musik tradisional Batak ke berbagai tempat di Tapanuli dengan nama Nainggolan Bersaudara. Di Sidikalang (Dairi) pada tahun 1994 empat orang anaknya tampil dengan masing-masing kemampuan memainkan alat musik. Tamrin, si anak sulung menjadi pemain hasapi, Lamtiar menjadi penyanyi bersama ibu, dan dua anak putri lainnya memainkan taganing dan odap. Dalam berbagai kesempatan putri-putri Alister yang bermain taganing menjadi perhatian khusus dan daya tarik penampilan Nainggolan Bersaudara.

Nasib baik memang terkadang mendongkrak popularitas Alister. Pada Oktober 1994 Alister diajak sebuah grup kesenian dari Medan untuk penampilan ke Seicie, Jepang. Di lingkungan grup itulah beberapa bulan beliau sempat menyalurkan kepiawaiannya, terlebih setelah dari Jepang. Namun dorongan berpindah-pindah tempat juga bukan keinginannya. Tahun 1995 Alister ditawarkan seorang temannya bekerja di PT. Mujur Timber Sibolga sebagai mandor pertamanan, sekaligus pemain musik dari grup binaan perusahaan itu untuk setiap kesempatan menghibur muspida. Lima tahun bekerja di perusahaan itu dengan ekonomi yang mulai membaik, Alister merasakan ada yang kurang. Apalagi perusahan itu juga mulai menjadi sorotan publik. Dia mencoba kembali ke Medan untuk bermain musik di pesta-pesta adat dan sesekali pulang ke Sibolga. Tahun 2002 diputuskan bersama keluarga kembali ke Medan dengan menunggu panggilan bermain musik ke pesta-pesta adat.

Tahun 2002 Opera Batak mulai dibangkitkan kembali. Sosok Alister sebagai pemain Opera Batak muncul ketika pentas rekonstruksi lakon Guru Saman di dua tempat (kampus Universitas Sumatera Utara dan Taman Budaya Sumatera Utara). Alister kebetulan mendapat pelakon Jakobus, pemilik kedai tuak yang lugu dan sangat lucu. Gaya bermain musiknya juga tidak kalah menarik dari seorang pemain yang lebih dikenal  oleh publik selama ini. Namun sikapnya dalam kelompok itu masih kelihatan seperti tertekan. Di kemudian hari diketahui kalau Alister selalu tidak cocok dengan gaya displin  para pemain di luar Serindo. Di luar Serindo, Opera Batak terdahulu mencapai 30-an grup dan sering dicap sebagai paropera Sigiring-giring. Beberapa episode terlibat dalam program Opera Batak Metropolitan di TVRI Medan tahun 2004, gaya bermain Alister semakin mendongkrak popularitasnya dengan nama pemeranan Fort de Kock. Nama pemeranan itu sengaja diformat Ben Pasaribu sebagai penggagas program yang inovatif dan pemuat teks-teks terbaru bersama Thompson Hs.

Program di TVRI tidak berlanjut. Sehingga Alister minta dilibatkan dalam pentas Grup Opera Silindung (GOS), sebuah grup percontohan yang mengawali kebangkitan kembali Opera Batak di Tarutung atas dukungan Pemkab Taput waktu itu. Sejak pentas keliling GOS pada Januari 2005, semangat Alister bermain Opera Batak menggebu kembali. Dengan sikap terbukanya berbagai pengetahuan dan teknik permainan diberikan kepada pemain-pemain muda di GOS. Alister juga tidak sungkan-sungkan menawarkan istri dan anak-anaknya untuk terlibat setiap diajak pementasan. Dedikasi dan loyalitas untuk menyalurkan pengetahuannya kepada orang muda selalu ditunjukkan Alister setiap dipanggil untuk pementasan Opera Batak.

 

Zulkaidah Boru Harahap, 61 Tahun.

Zulkaidah muncul belakangan setelah Opera Batak dibangkitkan kembali. Namun aktivitasnya dalam kesenian Opera Batak sudah cukup malang melintang. Sejak usia 15 tahun, tepatnya pada 25 Juni 1963, kelahiran Bungabondar Sipirok ini tertarik masuk Serindo sewaktu pementasan di Sipirok (Tapsel). Menurut pengakuannya, awal masuk ke Serindo menjadi tukang masak selama tiga bulan dan penjaga anak-anak para pemain sebelum dilatih oleh Tilhang Gultom menjadi penari, penyanyi, menjiwai cerita sejarah serta bermain musik. Dari pemain Opera Batak terdahulu Zulkaidah kelihatan satu-satunya sebagai pemain perempuan yang  pintar main seruling dan serunai kecil. Ciri khas vokalnya yang dapat melengking membuatnya juga laris. Itulah yang membuat Zulkaidah sempat mempergelangkan emas di leher, tangan serta kaki. Lagu-lagu Opera Batak yang sering dinyanyikannya dalam setiap pementasan bahkan direkam kemudian ke dalam kaset audio sekitar tahun 1968, beberapa saat setelah berumah tangga. Namun perkembangan beberapa album lagu-lagu yang masih beredar di pasaran saat ini tidak pernah diketahuinya lagi. Nampaknya Zulkaidah sudah terbiasa menerima janji-janji dari produser kaset dan para agen.

Dari tahun 1982 Zulkaidah sempat memimpin Grup Serindo setelah teringat pesan Tilhang Gultom sebelum meninggal dunia pada tahun 1972. Itupun terpaksa dia terima karena Gustafa Gultom, anak kandung abangnya Tilhang mulai sakit-sakitan di Jakarta  Sementara dari keturunan keluarga Tilhang yang tinggal di kampung tak ada yang bersedia menjalankan grup itu. Rapat keluarga Tilhang malahan sempat memutuskan agar usaha Serindo dimasukkan saja ke kolong rumah yang ada di Sitamiang (Samosir), desa tempat kelahiran Tilhang Gultom. Berani dan bertanggung jawab untuk memimpin Serindo, Zulkaidah terpaksa menggadaikan sawah dan semua perhiasannya. Ada 70 orang anggota Serindo yang harus dihidupinya waktu itu. Namun pada tahun 1985 Serindo benar-benar bangkrut sewaktu pentas keliling di Tapsel. Masyarakat di sana juga mulai kurang menyukai tontonan Opera Batak dan kalah bersaing dengan sirkus. Kebangkrutan itu sempat membuat Zulkaidah berniat bunuh diri. Uang sepeser pun tak ada untuk keluar dari Tapsel.

Menyadari semua itu Zulkaidah meratap sampai mengundang orang-orang berdatangan. Sekilas dalam keramaian itu dia pun dapat inspirasi dengan mengatakan uangnya hilang dan mau kembali ke Jakarta. Serindo memang sudah sempat hijrah ke Jakarta tahun 1974 dan dipimpin Gustafa Gultom. Bahkan di Jakarta tahun 1981 Zulkaidah sudah terlibat dalam pementasan Tarombo Siraja Lontung yang diadakan di TIM. Mungkin pengalaman “marjakarta” itulah Zulkaidah mendapat inspirasi agar dapat sedikit berbohong waktu itu. Ternyata orang-orang di keramaian itupun benar-benar membantunya. Dua jam setelah meratap itu, mereka membantu Zulkaidah ke bus ALS yang kebetulan lewat menuju Jakarta.

Di Jakarta Zulkaidah kembali menjumpai AWK Samosir, pimpinan Serindo cabang Jakarta yang beralamat di pintu II Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Beberapa bulan menumpang di rumah AWK Samosir Zulkaidah pulang ke kampung suami di Tigadolok, Simalungun. Sejak tahun 1985 itu Zulkaidah berpikir untuk berusaha sendiri untuk mempertahankan keluarga. Dia pun mulai bolak-balik berjualan kacang dan tuak ke pesta-pesta adat di Simalungun dan Samosir. Sambil menunggu jualan habis, Zulkaidah menarik seruling dari kantungannya. Tiupan serulingnya itu sering mengusik orang-orang di setiap keramaian pesta.

Entah karena tertarik atau iba, jualannya pun laris keras. Bahkan suatu ketika jualannya  terpaksa diborong pehajat pesta sebelum menyuruhnya tak usah lagi main seruling di pesta itu. Namun disuruh pulang saja karena setiap dia datang berjualan, serulingnya lebih memancing orang ramai mendekat ke sekitarnya.

Terakhir Zulkaidah tak lagi berjualan secara keliling. Di Lumbanri, Tigadolok ada sebuah kedai gorengan. Orang mengenalnya tenda biru karena atap kedai gorengan itu dilapisi dengan plastik berwarna biru. Kalau tak musim ke sawah, Zulkaidah hanya berjualan goreng dan minuman manis bagi orang-orang yang lalu lalang.  Masuk ke Tigadolok dari arah Siantar, tenda biru itu terletak kira-kira tigaratus meter dari Simpang Kawat dan di pinggir jalan. Awal Maret  2006 PLOt mengajak Zulkaidah boru Harahap untuk pementasan Sipurba Goring-Goring di Balige. Lengkingan suaranya menyanyikan lagu-lagu Opera Batak belum berubah jauh terdengar dari album-albumnya yang sudah “dibajak” itu. Meskipun Zulkaidah tidak kelihatan lelah dengan nyanyian dan tiupan serulingnya, sejenak dia melepaskannya dengan sebatang rokok di luar panggung. 

Pernah semua harapannya disampaikan setelah menyerahkan kopian dokumen-dokumen perjalanan dan pertunjukan ke Eropa dan Amerika  tahun 1990 dan 1991. Harapan utamanya adalah: dapat dihargai selain  dibuatkan rekaman dirinya menyanyikan kembali lagu-lagu Opera Batak. Ketika istri Pontas Gultom alias Zulkarnaen ini semakin sering diajak terlibat ke pentas Opera Batak harapan itu tak lagi disinggung-singgung. Kebiasaan Zulkaidah dalam proses latihan Opera Batak rupanya lebih banyak memperhatikan dan mendengarkan orang lain.

Ketika mendengar  pengumuman dan membaca surat keputusan Maestro itu, Zulkaidah kembali berjanji tak mungkin lagi meninggalkan kesenian Opera Batak. Pada 5 – 7 April dan 12 – 13 April 2008 lalu Zulkaidah ikut tampil bersama Alister dalam pertunjukan Opera Danau Toba (ODT) di Batam, Kepulauan Riau dan Pematangsiantar. Kedua maestro ini memang sudah sangat dikenal orang karena permainannya di atas panggung. Selama ini mereka sudah sangat sering mendapat tepukan penonton saja.

Published in: on Juli 5, 2008 at 12:12 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://thompsonhs.wordpress.com/2008/07/05/alister-nainggolan-dan-zulkaidah-harahap/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: