ABDULLAH ABDULRAHMAN, MAESTRO TARI ACEH

(Catatan: Thompson Hs)

Abdullah Abdulrahman adalah salah seorang dari sejumlah seniman tari Aceh yang dijuluki Syeh Lah Geunta. Syeh dalam lingkungan masyarakat Aceh dikenal sebagai sebutan khusus bagi pemimpin gerakan pertunjukan tari. Syair atau pantun yang biasa mengiringi tarian di Aceh dimotori oleh seorang syeh hingga pola gerak serta menjadi pemain utama dalam setiap penampilan tari. Ada sejumlah nama dan penampilan tari di Aceh yang sangat dikenal seperti rapa’i, seudati, saman, daboh. Penyebaran tari tersebut meluas hampir ke seluruh wilayah Aceh, ditambah dengan perkembangan jenis khusus untuk rapa’i. Misalnya ada yang disebut rapa’i saman, rapa’i geleng, rapa’i daboh, dan lain-lain. Rapa’i sendiri merupakan instrumen sejenis tamburin dengan bentuknya yang bulat dan berbagai ukuran besarnya . Namun dalam sebutannya ke dalam tarian terkait dengan pola memainkan alat musik itu dengan gerakan-gerakan artistik dan agresif. Instrumen musik lain yang mendampingi rapa’i adalah gendang dan seureune kalee, sejenis serunai. Rapa’i dianggap sebagai tarian yang lebih awal dari seudati. Terkait dengan rapa’i dan seudati ada cerminan budaya Aceh yang terungkap dalam pepatah: puenajoh timphan, piasan seudati rapa’i. (Makanannya kue timphan, pertunjukannya seudati rapa’i).

Syeh Lah Geunta merupakan gelar khusus yang diterima Abdullah Abdulrahman atas kehandalannya bermain seudati. Gelar itu sendiri bersumber dari sastrawan Ali Hasymi pada tahun 1963 sewaktu masih menjabat gubernur Aceh. Pada suatu kesempatan menghibur di malam resepsi peletakan batu pertama gedung SMA Cut Gapu, Bireuen, Abdullah mendapat gelar itu karena kelincahan gerak tubuhnya diumpamakan seperti ulat. Waktu itu kelompok Abdullah merupakan satu-satunya kelompok tari seudati anak-anak di Bireuen. Julukan kepadanya masih dengan Syeh Lah Aneukmit atau Syeh Lah Anak-anak. Namun gaya tari seudati yang dimainkannya sudah menarik perhatian.

Tari seudati memang sungguh khas karena gerakan yang bersumber dari pola dan variasi loncatan, gerak tangan dan keutep jaroe (petik jari), pukulan dada (persis di ujung rusuk) dengan iringan pantun atau syair yang spontan di atas panggung. Jumlah penari seudati minimal delapan orang dan selalu genap; sudah termasuk sang Syeh ditambah dua aneuk cahi atau pelantun syair/pantun. Satu orang penting lainnya dari penari seudati adalah apit syeh yang posisinya sebagai asistensi di sebelah kiri syeh. Selama delapan bagian berurutan (saluem anuek syahi, saluem rakan, bale saman, likok, saman, kisah, cahi panyang, dan lanie) dalam tari seudati dilangsungkan, apit syeh berfungsi menjaga maksud spontanitas gerak syeh. Seudati perempuan disebut seudati inong atau laweut. Pukulan dalam seudati inong dilakukan di bagian pinggul.

Sebagaimana kebiasaan di lingkungan Aceh, Lah diambil dari panggilan singkat nama utamanya, Abdullah. Abdulrahman hanya nama ayah yang kemudian hari baru diketahui seorang penari seudati juga. Sedangkan Geunta, yang artinya genta atau dengung, adalah pemberian dari sang gubernur, di samping tambahan uang saku yang dibagi-bagi waktu itu untuk semua anggota penari. Syeh Lah Geunta mulai belajar tari seudati pada tahun 1962 setelah menonton penampilan Nurdin Daud, seorang penari seudati terbaik di Aceh waktu itu.”Gerakannya agak keras, tapi lembut,” Syeh Lah menyinggung ingatannya atas penampilan Nurdin Daud bersama Syeh Ampu Muda. Padahal anak kelahiran desa Geulanggang Tengoh, Bireuen ini masih kelas empat (4) SR (singkatan Sekolah Rakyat). Halimah, ibu yang melahirkannya nampak mendukung ketertarikan Abdullah kecil terhadap seudati. Sedangkan ayah sempat melarang karena dianggap akan mengganggu pelajaran di sekolah dan saat-saat mengaji. Namun diam-diam tekadnya diwujudkan sambil berlatih di sebuah hutan dekat Bireuen. Penampilan bersama teman-temannya berlatih dilakukan pertama kali di Pasar Malam kota Bireuen hingga sampai ke kota Sigli dan Langsa. Karena benar-benar sudah menyatu dengan seudati, Syeh Lah hanya sempat duduk di kelas 2 SMP. Minatnya yang lain seperti main bola juga ditinggalkan karena pilihan menjadi penari seudati. Abdullah sendiri adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Abangnya bernama Alamsyah (almarhum), juga seorang penari yang pernah bersama dalam kesempatan ke Spanyol dan Amerika.

Syeh Lah Geunta benar-benar ‘berdengung’ dan dikenal di hampir semua wilayah Aceh. Dari 100-an syeh seudati di Aceh, nama dan permainan Syeh Lah Geunta sangat akrab dan selalu ditunggu masyarakat. “Dengung pukulan Syeh Lah terasa beda,” demikian pengakuan Benyamin Siregar alias Ucok, salah seorang penggemar seudati yang tinggal di kota Langsa. Atas pengaruh Syeh Lah, beberapa sanggar seudati dan rapa’i di kota Langsa mulai dihidupkan kembali. Sanggar Pesona dan Sanggar Geunta Suasa adalah dua dari sejumlah sanggar yang didorong perkembangannya oleh Syeh Lah. Beberapa orang mengenal baik Syeh Lah karena tidak pernah menolak orang-orang yang mau belajar seudati dan tarian Aceh lainnya. Beliau selalu bersedia memberi masukan-masukan dan dorongan kepada orang-orang muda tanpa harus dibayar. Bahkan tiga generasi penari seudati di kota Langsa muncul atas perhatian serius Syeh Lah. “Seorang seniman yang sudah menari itu harus bisa memberikan ilmunya kepada orang lain.” Demikian disampaikan beliau ketika diklarifikasi pada 23 – 24 Desember 2007 lalu. Klarifikasi dilakukan dalam rangka calon Maestro Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia yang diprogram mulai tahun 2007.

Seudati sepertinya sudah menjadi aktivitas penting dari kehidupan Abdullah Abdulrahman. Imbalan yang diterima setiap penampilan seudati yang dimainkan tergantung siapa yang mengajak. Terkadang hanya dibayar secukupnya. Ada juga kalanya tak menerima bayaran. Masa-masa sulit dilalui untuk mempertahankan pilihan terhadap seudati. Awal karirnya tahun 60-an dianggap masih menyulitkan karena gestok, untuk menyebut masa G 30 S PKI, ditambah masa-masa konflik bersenjata antara GAM dan TNI yang terpicu mulai tahun 1990. Selama masa-masa konflik itu, Syeh Lah tidak pernah pulang malam ke rumah sehabis main seudati. Dampak lainnya tentu mengganggu perekonomiannya untuk menyekolahkan anak-anak. Karena itu sempat membuka warung nasi di Idi Rayeuk. Namun karena perhatiannya yang sudah terlanjur penuh untuk mengembangkan seudati, usaha warung nasi tidak dilanjutkan.

Situasi konflik di Aceh berubah sewaktu tsunami terjadi menjelang akhir tahun 2004. Dalam rangka memperingati dua tahun bencana tsunami ada sebuah lembaga non-pemerintah yang membayar permainan seudatinya sampai 15 juta rupiah. Bayaran yang diterima selama ini memang digunakan untuk keperluan sekolah anak-anak. Satu di antara anaknya mengikuti jejak sebagai penari hingga berhasil menamatkan kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Yang dimaksud adalah anak ketiga yang bernama Asnawi Abdullah, penari dan koreografer yang cukup dikenal saat ini. Anaknya yang lain hanya mampu disekolahkan sampai tingkat SMA.

Di desa Seuneubok Rambong ada sebuah rumah yang 10 tahun masih terkendala pembangunannya. Maklum, dana untuk menyelesaikan bangunan itu tidak mudah bagi Syeh Lah. Selama ini untuk memenuhi persediaan beras keluarga harus juga menggarap pertanian padi dekat bangunan rumah yang belum selesai itu. Beliau tak pernah meminta-minta kepada pemerintah lokal agar dihargai atas semua jasanya mengharumkan Aceh dan negara dengan seudati. Rumah di desa Seuneubok Rambong menjadi saksi. Satu rumah kayu dan mulai tua di samping rumah yang masih terbengkalai itu menjadi tempat tinggal bersama keluarga sejak menikah tahun 1968. Rafiah, sang istri, anak-anak serta cucu kelihatan tetap setia menyambut Syeh Lah setiap pulang ke rumah dan desa nan sejuk serta 600-an meter ke pantai itu. Desa tersebut terletak di Idi Rayeuk, ibukota kabupaten Aceh Timur (yang baru setahun dipindahkan dari kota Langsa). Perjalanan dari Langsa ke Seuneubok Rambong hampir dua jam dengan bus umum menuju Lhokseumawe dan Aceh. Tempat-tempat tertentu antara kota Langsa dan Idi Rayeuk adalah bekas daerah kontak senjata di wilayah Aceh Timur semasa konflik. Bahkan setelah masa damai masih tak jarang ditakuti dengan suatu modus baru dalam bentuk tindak kriminal, seperti perampokan dari orang-orang yang tidak dikenal.

Meski selama ini berkeliling lewat seudati membawa nama Aceh dan Indonesia, Syeh Lah tak pernah berhenti tanpa penghargaan. “Selama masyarakat masih mau menonton seudati, Syeh Lah akan tetap tampil,” demikian Syeh Lah bersemangat meskipun usianya yang ke 61 lambat laun mulai mengurangi aktivitasnya sebagai penari seudati. “Saya lebih banyak saat ini ke mana-mana untuk memberikan masukan soal seudati dan tari Aceh lainnya,” kata Syeh Lah. Dari sosok tinggi dan tampak kukuh itu terasa sesuatu berdengung seperti ingin mengatakan: Tsunami dapat menghilangkan Aceh. Namun tradisi seudati dan tarian lainnya dari Aceh merupakan satu tanda kegagahan budaya Aceh ke mana-mana.**

Tempat dan Lahir: Bireuen, 1946
Nama Istri: Safiah
Anak
1. Darmawati 4. Iskandar
2. Yusniati 5. Darwinsyah
3. Asnawi 6. Efendy
Cucu: 10 orang
Pentas: Aceh, Medan, Jakarta (1985, 1986, 1994,1997, 2006),
Tokyo (1989), Amerika (1991), Kuala Lumpur (1991), Singapura,
Spanyol (1992), Yogyakarta (2003).

Published in: on Maret 19, 2008 at 6:29 am  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://thompsonhs.wordpress.com/2008/03/19/abdullah-abdulrahman-maestro-tari-aceh/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Asik juga membaca tulisan abang ini, kalau bisa kembangkan lagi bang tulisan tentang sejarah para pendekar batak, atau riwayat riwayat tentang adat batak yang lain, sucses selalu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: