GURU SAMAN DARI LAU BALANG

Oleh: Thompson  Hs

Di tengah sebuah hutan terdengarlah suara yang sumbernya berubah-ubah. Suara itu memanggil-manggil satu nama: Saman! Saman! Saman! Lalu seorang laki-laki entah dari mana seperti ingin menghadapi suara itu. Namun dengan gaya pencak dan satu dua loncat salto, laki-laki itu nampak menyatu dengan irama suara yang memanggil-manggilnya. Laki-laki itu bermata merah, kumis melintang, dada berbulu, dan berambut panjang serta janggut tak beraturan. Dialah Guru Saman yang mengaku dari Lau Balang Tanah Karo.

“Guru…!” Saman dengan lantang menghadap suara itu dan meneruskan isi hatinya. “Ilmu yang kuterima dari Guru sudah kucoba!.”

“Saaamaaan!”

“Guuuru!”

“Tapi ilmu itu pergunakanlah sebaik-baiknya. Ingat, ada tiga syarat ilmu itu.” Suara itu perlahan dan bergema kembali.

“Guuuru!”

“Kau tidak boleh membunuh yang tidak bersalah kepadamu, tidak boleh membunuh anak-anak, dan….”

“Satu lagi, Guuuru!”

“Dan kau tidak boleh membunuh wanita yang sedang berbadan dua!”

            “Baiklah, Guru.” Ketus Saman sebelum beranjak dari tempatnya bersila. Niat lamanya hendak pergi ke daerah Sipahutar tak dapat lagi dipendamnya. Dari hutan itu Saman melewati berbagai tempat dan singgah sebentar-sebentar di keramaian kampung dan pasar. Di Merek dan Saribudolok dia sempat menyantap makanan kesukaannya, yakni anak babi kecil yang dipanggang!

            “Jangan lupa bikin cabenya sebesar anak babi itu juga!” Itu dipesan kepada penduduk yang diancamnya atau kepada penjual makanan di kedai-kedai tertentu. Namun setelah puas menyantap pesanannya, Saman lari dan menghilang seketika. Dia tidak bayar satu sen pun. Begitulah caranya.

Sampailah dia di Sipahutar, melewati Siborong-borong dan Garoga tempatnya menang bermain judi untuk sekian kali. Dia memang suka judi sejak kecil dan itulah caranya mencari uang. Di Sipahutar dia langsung menuju sebuah kedai tuak yang letaknya di sekitar simpang empat. Kedai tuak itu milik Jakobus dan putri satu-satunya yang bernama Marsella. Jakobus dan Marsella dikejutkan oleh Saman dengan melompat dan duduk seenaknya ke atas meja sambil menancapkan belatinya.

Lit lau pola?” pertanyaan ini menimbulkan rasa bingung pemilik kedai. Maklum, di sekitar Sipahutar tak pernah dialek Karo digunakan. Mereka sama sekali tak mengerti cakap Saman yang sebenarnya hanya bertanya: ada tuak?

“Maaf, maaf. Tak ada di sini yang taralit, amangboru!” sambut Marsella dengan lugu dan gemetar lagi memegang lengan ayahnya. Mungkin Marsella mengira Saman seorang dukun pijat yang biasa menyembuhkan orang-orang yang taralit, keseleo. Jakobus juga tak sanggup menelan tambul daging di mulutnya karena terkejut. Sisa tuak di gelasnya segera di teguk. Dari tadi Jakobus mengawali minum tuak, sekedar menimbang  raru, ragi tuak dari jenis pohon tertentu yang rasanya  pahit dan kelat.

Lauuu pooola, kataku!” Saman mulai geram mengulangi permintaannya.

“Oh, maksudnya yang marimpooolaaa…?”

“Diam itu mulutmu. Ini menit, ini detik belati dapat membunuh kalian berdua!” Saman menarik belatinya karena merasa dipermainkan. “Aku minta segera, bikin tuuuwwaaak!”

Tuak pun segera diambil dari poting, tabung tuak dan dituangkan ke cangkir bambu. Sekali dua teguk Saman minum tuak itu seperti kehausan saja. Berkali-kali dia minta tambah, sebanyak itu pula pemilik kedai merasa keberatan.

“Tuaknya sudah habis, Amangboru,” kata Marsella.

“Diam kau! Kalau tak ada lagi tuak, darahmu pun bisa kuminum!” Kalimat seperti itu nadanya pasti mengancam. Sehingga pemilik kedai tak mampu menolak. Seketika tak terhitung tuak yang direguk Saman. Matanya semakin merah dan menakutkan. “Among!” teriak Marsella setelah memperhatikan gaya Saman. “Sebentar kita pasti ditelannya!”

Hari mulai senja. Penduduk pasti mulai pulang dari ladang dan sawah. Namun ada juga yang selalu singgah di kedai tuak. Benar! Hermanus, seorang hampung, kepala desa bersama  ketiga adiknya sudah terbiasa singgah di kedai tuak Jakobus. Mereka pulang dari hutan mencari gelondongan kayu yang dijual untuk bahan bangunan rumah di Tarutung dan Sibolga.

“Tuak, Jakobus!” Permintaan khusus Hermanus sudah dimengerti oleh Jakobus. Namun dibisikkannya kepada Marsella agar tuak untuk Hermanus ditambah saja dengan air beras atau air hujan. Soalnya Hermanus sudah punya tumpukan hutang enam bulan dan belum bisa dilunasi kepada Jakobus. “Rarunya tambahi ya, boru!” pura-pura Jakobus setengah berteriak menyuruh borunya, putrinya. Adik-adik Jakobus nampaknya sudah kehausan juga.

“Jakobus, tambahi tuaknya,” pinta Hermanus sambil memperhatikan seseorang yang menurutnya tidak sopan duduk di meja sebelahnya. Setelah tuak yang dicampur itu ludes juga mulai ditegurnya Saman agar turun dari meja itu. Saman lalu tersentak dan berkata: “Sesukaku saja. Kalau aku suka duduk di atas kepalamu, aku akan duduk. Sekarang apa maumu melarangku?” Mengucapkan kalimat terakhir Saman melompat dan hendak menyerang Hermanus.

“Tunggu dulu,” kata Hermanus seketika. “Kita sudah sama-sama orangtua. Tapi kau kelihatannya tak bisa sopan. Kau mau tunjukkan matamu yang merah di sini? Bagiku mata merah sama saja dengan mata ikan busuk. Juga dengan kumis serammu, bagiku itu seperti misai kambing. Sekarang marilah kita bertaruh!”

Pertaruhan mulai bikin Jakobus dan Marsella kembali ketakutan. Mereka tak berdaya mengusir. Apalagi karena langkah dan jurus-jurus silat menghentak ke sana kemari. Setelah beberapa langkah tiba-tiba Hermanus dan Saman berhenti dalam pertemuan titik pukul yang serupa.

“Bahhh,” Saman merasa heran. “Aku keluarkan jurus silat tertentu, kau ikuti juga begitu.”

“Kau juga meniru jurus pukul yang kukeluarkan,” tandas Hermanus.

“Lantas, kenapa bisa sama? Siapa gerangan gurumu?” Sergah Saman.

“Hmmm,” Hermanus iseng senyum. “Mendengar nama guruku, nanti misaimu bisa turut gemetar. Guruku adalah Guru Saman!”

“Hei, kau tak mengenalku?” Tanya Saman meyakinkan.

“Pweh! Aku tak kenal kau. Beguattuk kau!” Hermanus tak perduli dengan mengatakan begitu: beguattuk, kolera atau sampar. Namun itu akhirnya membuat Saman mulai tertawa.

“Akulah yang kau sebut itu gurumu. Guru Saman!” Seketika mendengarnya Hermanus tunduk dan  memanggil adik-adiknya. Hermanus mengenalkan ulang ketiga adiknya yang dulu masih kecil-kecil waktu Hermanus berguru pada Saman. Satu per satu kembali diingatkan kepada Guru Saman. “O, ini yang namanya Paulus. Ini Sem. Ini Eli, sudah jadi orang baik-baik. Sekarang kita minum tuak lagi.”

Nampaknya tuak benar-benar sudah habis di kedai Jakobus meskipun malam belum larut. Hermanus lalu menyuruh Paulus dan Sem mencari tuak ke tempat lain. Sementara Eli disuruhnya lebih cepat ke rumah agar dapat menyediakan sajian sampai pagi hari untuk Guru Saman. Kehadiran Guru Saman di rumah itu menimbulkan rasa bangga bagi Hermanus. Mereka mengikat janji; apabila disakiti orang lain, mereka akan sama-sama sakit hati dan membalasnya. Ketiga adik Hermanus juga diajari Guru Saman bermain silat. Rasa takut mereka bermain silat diuji dalam gelanggang yang penuh kaca. Gelanggang itu terletak di belakang rumah Hermanus. Selain melatih ketiganya, Guru Saman mengisi hari-harinya di Sipahutar mencari pemain judi di kedai tuak atau di keramaian.

Suatu ketika Hermanus duduk terhenyak di rumah. Dia baru saja pulang dan merasa dihina Guru Martin karena uang yang dipinjam harus dikembalikan. Cara meminta Guru Martin juga di depan orang banyak dianggap sengaja hanya mempermalukan Hermanus. Itulah yang membuatnya sangat tersinggun dan marah mengeluarkan belati ke arah Guru Martin. Dalam kejadian itu, istri dan  dua adik Hermanus hampir terlibat mengikuti tindakan Hermanus. Malahan sebelum meninggalkan tempat keributan itu, Hermanus mengancam orang ramai.

“Siapa dari kalian masih ikut berkumpul minggu depan, akan ikut kubunuh!” Begitulah ancaman diterima orang ramai setelah Guru Martin dapat disingkirkan Jakobus, pemilik kedai tuak serta Eli, adik Hermanus yang selama ini tidak menyukai keributan itu. Kejadian itu terus menghantui pikiran Hermanus sampai salah seorang adiknya muncul kembali lebih dulu.

“Kakanda, aku telah berikan jaminan kepada Guru Martin. Aku sampaikan kepada Guru Martin kalau aku akan membayar hutang pinjaman itu dalam tempo seminggu.” Demikian dari Eli setelah beberapa langkah masuk dari pintu rumah. Namun kemarahan Hermanus masih merasa lebih penting dari jaminan yang disampaikan oleh Eli.

“Hutang pinjaman itu? Kau saja tak mampu penuhi kebutuhan anak istrimu. Sok jago kau!” Seketika ucapan itu berakhir, menyusul pula tendangan Hermanus kepada Eli. Paulus dan Sem tiba-tiba muncul. “Habisi saja dia, kakanda,” serentak keluar dari mulut kedua adiknya.“Guru Saman sebentar lagi akan datang.”

Memang Guru Saman sangat dinantikan Hermanus. Sehingga sepulang dari keributan itu dia sengaja menyuruh Paulus dan Sem mencari Guru Saman. Ketika Guru Saman mendekat pintu masuk suaranya sudah kedengaran. Nadanya agak lain.

“Horas, guru!” Hermanus menyambut ke arah pintu. “Mohon guru duduk dulu,” tambah Hermanus sebelum menyampaikan isi kepalanya.

“Hermanus, kau menyuruh kedua adikmu ini memanggilku. Aku pas di gelanggang judi dan kalah. Apa gerangan yang sangat penting?” Wajah Guru Saman kelihatan dingin.

“Begini, guru. Ada seseorang yang baru melecehkan guru. Katanya ilmu Guru Saman tidak seberapa tinimbang ilmu yang dimilikinya,” Guru Saman langsung terkesiap mendengar penyampaian Hermanus. Namun dia mulai mengumpulkan amarahnya. “Kami tidak setuju dengan caranya itu, guru!”

“Siapa orang yang kurang ajar itu?” Tanya Guru Saman sambil berdiri.

“Guru Martin, guruuu…!” bersamaan mereka menjawab selain Eli. Guru Saman memang sudah lama mendengar nama tersebut. Guru Martin adalah seorang panutan di lingkungan masyarakat. Dalam menimbang-nimbang hal tertentu dari nama itu, Hermanus menyela bayangan Guru Saman.

“Guru, lebih baik kita membunuh Guru Martin itu!”

“Yah, aku sudah lama tidak membunuh manusia. Persiapkanlah semua untuk membunuh yang kau sebut itu,” tandas Guru Saman. Mereka berencana membunuh  pada malam hari sebelum keesokan orang-orang berkumpul di rumah Guru Martin. Paulus, Sem, dan Eli dimintai sumpah untuk pembunuhan itu. “Dengke ni Sabulan tu tonggina tu tabona, manang ise siose padan turipurna tu magona,” demikianlah penutup sumpah itu diucapkan ditekankan Guru Saman. Pembunuhan itu diumpamakan seperti manis dan enaknya ikan dari Negeri Sabulan. Siapa di antara mereka yang abai sumpah itu akan hilang lenyap.

Malam hari di sekitar rumah Guru Martin, mereka sudah mulai mengendap-endap. Di dalam rumah Guru Martin dengan Klara, istrinya yang sudah hamil tua masih bercakap-cakap. Kander, anak mereka yang berumur tiga tahun tentu sudah lelap dan sebentar lagi akan ditemani sang istri ke kamar. Ketika Hermanus merasa istri Guru Martin sudah masuk kamar, dia mengetuk pintu.

“Guru! Guru! Aku Hermanus. Aku mau bayar hutangku itu,” demikian Guru Martin ingin diyakinkan. Namun dari dalam rumah, Guru Martin agak menolak. “Besok saja. Ini sudah larut malam, hampung!”

Hermanus tidak mau kehabisan akal sampai pintu dapat dibukakan Guru Martin. Ketika pintu sedikit terbuka, Guru Saman dengan keras mendorong pintu dan langsung menghunjamkan belatinya ke dada Guru Martin. Rintihan suara yang sempat memanggil, membuat istri Guru Martin terkejut dan keluar dari kamar. Klara pun meraung-raung dan berkali-kali bersujud agar tidak ikut dibunuh. Namun Guru Saman terpaksa membunuhnya juga karena dorongan Hermanus dan dua adiknya.

Pembunuhan Guru Martin dan istrinya sungguh menyedihkan. Namun orang-orang Sipahutar tidak lama mengetahui orang-orang yang melakukan pembunuhan itu. Polisi dari Tarutung segera mengusut dan menghadapkan saksi-saksi pembunuhan di hadapan pengadilan. Salah satu saksi itu adalah Jakobus, si pemilik kedai yang sering terancam dan diperas Guru Saman dan Hermanus.

“Menurutku, inilah kesempatan menghukum Guru Saman. Lebih baik dia direndam ke dalam tong yang berisi air yang mendidih. Biarkan dia di situ mati!” Begitulah Jakobus memuaskan rasa dendamnya kepada Guru Saman. Namun pengadilan memutuskan Guru Saman harus dihukum gantung. Sebelum dihukum gantung sempat Guru Saman diberi kesempatan menyampaikan pesan terakhirnya.

“Sejak kecil semua permintaanku harus dipenuhi orangtuaku. Karena itulah aku selalu meraja lela. Kuharapkan agar orangtua tidak lagi mendidik anaknya seperti aku. Aku siap dihukum gantung dengan segala kesalahanku.”

Hukuman gantung itu berlangsung tanpa diketahui Hermanus serta adik-adiknya karena mereka sudah lebih dulu dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman yang berbeda-beda.

“Guru Saman sudah maaatiii……!”

*Sumber diambil dari cerita Opera Batak

Diterbitkan di: on Maret 22, 2008 at 2:09 pm Komentar (1)

ABDULLAH ABDULRAHMAN, MAESTRO TARI ACEH

(Catatan: Thompson Hs)

Abdullah Abdulrahman adalah salah seorang dari sejumlah seniman tari Aceh yang dijuluki Syeh Lah Geunta. Syeh dalam lingkungan masyarakat Aceh dikenal sebagai sebutan khusus bagi pemimpin gerakan pertunjukan tari. Syair atau pantun yang biasa mengiringi tarian di Aceh dimotori oleh seorang syeh hingga pola gerak serta menjadi pemain utama dalam setiap penampilan tari. Ada sejumlah nama dan penampilan tari di Aceh yang sangat dikenal seperti rapa’i, seudati, saman, daboh. Penyebaran tari tersebut meluas hampir ke seluruh wilayah Aceh, ditambah dengan perkembangan jenis khusus untuk rapa’i. Misalnya ada yang disebut rapa’i saman, rapa’i geleng, rapa’i daboh, dan lain-lain. Rapa’i sendiri merupakan instrumen sejenis tamburin dengan bentuknya yang bulat dan berbagai ukuran besarnya . Namun dalam sebutannya ke dalam tarian terkait dengan pola memainkan alat musik itu dengan gerakan-gerakan artistik dan agresif. Instrumen musik lain yang mendampingi rapa’i adalah gendang dan seureune kalee, sejenis serunai. Rapa’i dianggap sebagai tarian yang lebih awal dari seudati. Terkait dengan rapa’i dan seudati ada cerminan budaya Aceh yang terungkap dalam pepatah: puenajoh timphan, piasan seudati rapa’i. (Makanannya kue timphan, pertunjukannya seudati rapa’i).

Syeh Lah Geunta merupakan gelar khusus yang diterima Abdullah Abdulrahman atas kehandalannya bermain seudati. Gelar itu sendiri bersumber dari sastrawan Ali Hasymi pada tahun 1963 sewaktu masih menjabat gubernur Aceh. Pada suatu kesempatan menghibur di malam resepsi peletakan batu pertama gedung SMA Cut Gapu, Bireuen, Abdullah mendapat gelar itu karena kelincahan gerak tubuhnya diumpamakan seperti ulat. Waktu itu kelompok Abdullah merupakan satu-satunya kelompok tari seudati anak-anak di Bireuen. Julukan kepadanya masih dengan Syeh Lah Aneukmit atau Syeh Lah Anak-anak. Namun gaya tari seudati yang dimainkannya sudah menarik perhatian.

Tari seudati memang sungguh khas karena gerakan yang bersumber dari pola dan variasi loncatan, gerak tangan dan keutep jaroe (petik jari), pukulan dada (persis di ujung rusuk) dengan iringan pantun atau syair yang spontan di atas panggung. Jumlah penari seudati minimal delapan orang dan selalu genap; sudah termasuk sang Syeh ditambah dua aneuk cahi atau pelantun syair/pantun. Satu orang penting lainnya dari penari seudati adalah apit syeh yang posisinya sebagai asistensi di sebelah kiri syeh. Selama delapan bagian berurutan (saluem anuek syahi, saluem rakan, bale saman, likok, saman, kisah, cahi panyang, dan lanie) dalam tari seudati dilangsungkan, apit syeh berfungsi menjaga maksud spontanitas gerak syeh. Seudati perempuan disebut seudati inong atau laweut. Pukulan dalam seudati inong dilakukan di bagian pinggul.

Sebagaimana kebiasaan di lingkungan Aceh, Lah diambil dari panggilan singkat nama utamanya, Abdullah. Abdulrahman hanya nama ayah yang kemudian hari baru diketahui seorang penari seudati juga. Sedangkan Geunta, yang artinya genta atau dengung, adalah pemberian dari sang gubernur, di samping tambahan uang saku yang dibagi-bagi waktu itu untuk semua anggota penari. Syeh Lah Geunta mulai belajar tari seudati pada tahun 1962 setelah menonton penampilan Nurdin Daud, seorang penari seudati terbaik di Aceh waktu itu.”Gerakannya agak keras, tapi lembut,” Syeh Lah menyinggung ingatannya atas penampilan Nurdin Daud bersama Syeh Ampu Muda. Padahal anak kelahiran desa Geulanggang Tengoh, Bireuen ini masih kelas empat (4) SR (singkatan Sekolah Rakyat). Halimah, ibu yang melahirkannya nampak mendukung ketertarikan Abdullah kecil terhadap seudati. Sedangkan ayah sempat melarang karena dianggap akan mengganggu pelajaran di sekolah dan saat-saat mengaji. Namun diam-diam tekadnya diwujudkan sambil berlatih di sebuah hutan dekat Bireuen. Penampilan bersama teman-temannya berlatih dilakukan pertama kali di Pasar Malam kota Bireuen hingga sampai ke kota Sigli dan Langsa. Karena benar-benar sudah menyatu dengan seudati, Syeh Lah hanya sempat duduk di kelas 2 SMP. Minatnya yang lain seperti main bola juga ditinggalkan karena pilihan menjadi penari seudati. Abdullah sendiri adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Abangnya bernama Alamsyah (almarhum), juga seorang penari yang pernah bersama dalam kesempatan ke Spanyol dan Amerika.

Syeh Lah Geunta benar-benar ‘berdengung’ dan dikenal di hampir semua wilayah Aceh. Dari 100-an syeh seudati di Aceh, nama dan permainan Syeh Lah Geunta sangat akrab dan selalu ditunggu masyarakat. “Dengung pukulan Syeh Lah terasa beda,” demikian pengakuan Benyamin Siregar alias Ucok, salah seorang penggemar seudati yang tinggal di kota Langsa. Atas pengaruh Syeh Lah, beberapa sanggar seudati dan rapa’i di kota Langsa mulai dihidupkan kembali. Sanggar Pesona dan Sanggar Geunta Suasa adalah dua dari sejumlah sanggar yang didorong perkembangannya oleh Syeh Lah. Beberapa orang mengenal baik Syeh Lah karena tidak pernah menolak orang-orang yang mau belajar seudati dan tarian Aceh lainnya. Beliau selalu bersedia memberi masukan-masukan dan dorongan kepada orang-orang muda tanpa harus dibayar. Bahkan tiga generasi penari seudati di kota Langsa muncul atas perhatian serius Syeh Lah. “Seorang seniman yang sudah menari itu harus bisa memberikan ilmunya kepada orang lain.” Demikian disampaikan beliau ketika diklarifikasi pada 23 – 24 Desember 2007 lalu. Klarifikasi dilakukan dalam rangka calon Maestro Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia yang diprogram mulai tahun 2007.

Seudati sepertinya sudah menjadi aktivitas penting dari kehidupan Abdullah Abdulrahman. Imbalan yang diterima setiap penampilan seudati yang dimainkan tergantung siapa yang mengajak. Terkadang hanya dibayar secukupnya. Ada juga kalanya tak menerima bayaran. Masa-masa sulit dilalui untuk mempertahankan pilihan terhadap seudati. Awal karirnya tahun 60-an dianggap masih menyulitkan karena gestok, untuk menyebut masa G 30 S PKI, ditambah masa-masa konflik bersenjata antara GAM dan TNI yang terpicu mulai tahun 1990. Selama masa-masa konflik itu, Syeh Lah tidak pernah pulang malam ke rumah sehabis main seudati. Dampak lainnya tentu mengganggu perekonomiannya untuk menyekolahkan anak-anak. Karena itu sempat membuka warung nasi di Idi Rayeuk. Namun karena perhatiannya yang sudah terlanjur penuh untuk mengembangkan seudati, usaha warung nasi tidak dilanjutkan.

Situasi konflik di Aceh berubah sewaktu tsunami terjadi menjelang akhir tahun 2004. Dalam rangka memperingati dua tahun bencana tsunami ada sebuah lembaga non-pemerintah yang membayar permainan seudatinya sampai 15 juta rupiah. Bayaran yang diterima selama ini memang digunakan untuk keperluan sekolah anak-anak. Satu di antara anaknya mengikuti jejak sebagai penari hingga berhasil menamatkan kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Yang dimaksud adalah anak ketiga yang bernama Asnawi Abdullah, penari dan koreografer yang cukup dikenal saat ini. Anaknya yang lain hanya mampu disekolahkan sampai tingkat SMA.

Di desa Seuneubok Rambong ada sebuah rumah yang 10 tahun masih terkendala pembangunannya. Maklum, dana untuk menyelesaikan bangunan itu tidak mudah bagi Syeh Lah. Selama ini untuk memenuhi persediaan beras keluarga harus juga menggarap pertanian padi dekat bangunan rumah yang belum selesai itu. Beliau tak pernah meminta-minta kepada pemerintah lokal agar dihargai atas semua jasanya mengharumkan Aceh dan negara dengan seudati. Rumah di desa Seuneubok Rambong menjadi saksi. Satu rumah kayu dan mulai tua di samping rumah yang masih terbengkalai itu menjadi tempat tinggal bersama keluarga sejak menikah tahun 1968. Rafiah, sang istri, anak-anak serta cucu kelihatan tetap setia menyambut Syeh Lah setiap pulang ke rumah dan desa nan sejuk serta 600-an meter ke pantai itu. Desa tersebut terletak di Idi Rayeuk, ibukota kabupaten Aceh Timur (yang baru setahun dipindahkan dari kota Langsa). Perjalanan dari Langsa ke Seuneubok Rambong hampir dua jam dengan bus umum menuju Lhokseumawe dan Aceh. Tempat-tempat tertentu antara kota Langsa dan Idi Rayeuk adalah bekas daerah kontak senjata di wilayah Aceh Timur semasa konflik. Bahkan setelah masa damai masih tak jarang ditakuti dengan suatu modus baru dalam bentuk tindak kriminal, seperti perampokan dari orang-orang yang tidak dikenal.

Meski selama ini berkeliling lewat seudati membawa nama Aceh dan Indonesia, Syeh Lah tak pernah berhenti tanpa penghargaan. “Selama masyarakat masih mau menonton seudati, Syeh Lah akan tetap tampil,” demikian Syeh Lah bersemangat meskipun usianya yang ke 61 lambat laun mulai mengurangi aktivitasnya sebagai penari seudati. “Saya lebih banyak saat ini ke mana-mana untuk memberikan masukan soal seudati dan tari Aceh lainnya,” kata Syeh Lah. Dari sosok tinggi dan tampak kukuh itu terasa sesuatu berdengung seperti ingin mengatakan: Tsunami dapat menghilangkan Aceh. Namun tradisi seudati dan tarian lainnya dari Aceh merupakan satu tanda kegagahan budaya Aceh ke mana-mana.**

Tempat dan Lahir: Bireuen, 1946
Nama Istri: Safiah
Anak
1. Darmawati 4. Iskandar
2. Yusniati 5. Darwinsyah
3. Asnawi 6. Efendy
Cucu: 10 orang
Pentas: Aceh, Medan, Jakarta (1985, 1986, 1994,1997, 2006),
Tokyo (1989), Amerika (1991), Kuala Lumpur (1991), Singapura,
Spanyol (1992), Yogyakarta (2003).

Diterbitkan di: on Maret 19, 2008 at 6:29 am Komentar (1)