Alister Nainggolan dan Zulkaidah Harahap:

 

PENERIMA TUNJANGAN MAESTRO 2007

Oleh: Thompson Hs

 

Alister Nainggolan dan Zulkaidah boru Harahap merasa sangat senang ketika Opera Batak mulai dibangkitkan kembali. Maklum, mereka berdua pernah sama-sama menjadi pemain Opera Batak Serindo pimpinan almarhum Tilhang Oberlin Gultom. Itulah salah satu alasan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Pematangsiantar pada 17 Maret 2007 lalu untuk mengajukan keduanya dapat menerima Tunjangan Maestro dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Tunjangan Maestro itu merupakan program yang diwujudkan oleh Mukhlis PaEni, Dirjen Nilai Seni, Budaya, dan Film (NSF)  sejak 2007 untuk para seniman tradisi berusia di atas 50 tahun, dengan pendapatan ekonominya yang memprihatinkan, produktif, dan serta merta dapat melakukan regenerasi. Hasil seleksi terhadap dari 54 calon maestro diumumkan 28 Desember 2007 lalu. Dua dari antara 27 Maestro yang lolos seleksi adalah Alister Nainggolan dan Zulkaidah Harahap. Hasil Seleksi itu tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.48/KU.209?MPK.2007 tentang Pemberian Santunan kepada Seniman Senior Indonesia Tahun 2007. Dana tunjangan untuk setengah tahun pertama 2007 telah diterima pada bulan juni 2008 lalu. susulan dana berikutnya dari pihak kementerian diharapkan menyusul segera.

 

Alister Nainggolan, 70 Tahun.

Bergabung ke Serindo pada tahun 1965, sewaktu ada pementasan Serindo di tempat kelahirannya Sungai Loba, Tanjungbalai dengan menjadi tukang angkat barang-barang dan tenaga keamanan. Kebetulan waktu itu juga Alister baru putus sekolah dari bangku kelas dua SMA. Pada  awal masuknya ke Serindo, Alister mengisi waktu luangnya belajar alat-alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Opera Batak, seperti sulim, sarune (etek & bolon), hasapi, garantung, dan taganing. Kemampuannya menguasai sejumlah alat musik itu, termasuk gamelan Jawa kemudian, meningkatkan karirnya menjadi pemain musik meskipun awal-awalnya hanya untuk menggantikan pemusik yang berhalangan atau keluar dari Serindo.  Minat menjadi pelakon cerita juga dimiliki oleh Alister. Di Serindo Alister pertama kali menjadi pelakon parbaringin, pendeta ritual agama Batak dalam lakon cerita Sisingamangaraja.

Alister bertahan di Serindo sampai tahun 1970 sebelum empat tahun kemudian mendirikan grup Tiurma Opera bersama Erliana boru Silaban, sang istri yang juga pemain dan penyanyi di Serindo. Nama Tiurma Opera sendiri diadopsi dari anak ketiga mereka yang bernama Tiurma. Dengan grup itulah Alister melakukan pentas Opera Batak secara keliling dengan banyak kesulitannya. Sebagai tauke Opera Batak, Alister harus mampu memimpin dan menggaji 40-an pemainnya. Sementara izin, hasil, dan pungutan atas semua pertunjukan yang dilakukan sering tidak seimbang dengan kebutuhan utama para pemain. Akhirnya tahun 1984 Grup Tiurma Opera juga terpaksa dibubarkan, ditambah karena desakan media hiburan terbaru seperti televisi dan filem.

            Beralih dari pentas Opera Batak, Alister tidak berhenti dengan alat musiknya. Sambil menerima kerja informal, Alister mulai mengajari anak- anaknya bermain musik dan bernyanyi. Sampai mempunyai delapan anak, jejak kepintaran Alister bermain musik diikuti. Bahkan dua tiga orang cucunya diajarinya juga pada keahlian tertentu dalam permainan Opera Batak.

Berani berkeliling lagi, mereka membawa musik tradisional Batak ke berbagai tempat di Tapanuli dengan nama Nainggolan Bersaudara. Di Sidikalang (Dairi) pada tahun 1994 empat orang anaknya tampil dengan masing-masing kemampuan memainkan alat musik. Tamrin, si anak sulung menjadi pemain hasapi, Lamtiar menjadi penyanyi bersama ibu, dan dua anak putri lainnya memainkan taganing dan odap. Dalam berbagai kesempatan putri-putri Alister yang bermain taganing menjadi perhatian khusus dan daya tarik penampilan Nainggolan Bersaudara.

Nasib baik memang terkadang mendongkrak popularitas Alister. Pada Oktober 1994 Alister diajak sebuah grup kesenian dari Medan untuk penampilan ke Seicie, Jepang. Di lingkungan grup itulah beberapa bulan beliau sempat menyalurkan kepiawaiannya, terlebih setelah dari Jepang. Namun dorongan berpindah-pindah tempat juga bukan keinginannya. Tahun 1995 Alister ditawarkan seorang temannya bekerja di PT. Mujur Timber Sibolga sebagai mandor pertamanan, sekaligus pemain musik dari grup binaan perusahaan itu untuk setiap kesempatan menghibur muspida. Lima tahun bekerja di perusahaan itu dengan ekonomi yang mulai membaik, Alister merasakan ada yang kurang. Apalagi perusahan itu juga mulai menjadi sorotan publik. Dia mencoba kembali ke Medan untuk bermain musik di pesta-pesta adat dan sesekali pulang ke Sibolga. Tahun 2002 diputuskan bersama keluarga kembali ke Medan dengan menunggu panggilan bermain musik ke pesta-pesta adat.

Tahun 2002 Opera Batak mulai dibangkitkan kembali. Sosok Alister sebagai pemain Opera Batak muncul ketika pentas rekonstruksi lakon Guru Saman di dua tempat (kampus Universitas Sumatera Utara dan Taman Budaya Sumatera Utara). Alister kebetulan mendapat pelakon Jakobus, pemilik kedai tuak yang lugu dan sangat lucu. Gaya bermain musiknya juga tidak kalah menarik dari seorang pemain yang lebih dikenal  oleh publik selama ini. Namun sikapnya dalam kelompok itu masih kelihatan seperti tertekan. Di kemudian hari diketahui kalau Alister selalu tidak cocok dengan gaya displin  para pemain di luar Serindo. Di luar Serindo, Opera Batak terdahulu mencapai 30-an grup dan sering dicap sebagai paropera Sigiring-giring. Beberapa episode terlibat dalam program Opera Batak Metropolitan di TVRI Medan tahun 2004, gaya bermain Alister semakin mendongkrak popularitasnya dengan nama pemeranan Fort de Kock. Nama pemeranan itu sengaja diformat Ben Pasaribu sebagai penggagas program yang inovatif dan pemuat teks-teks terbaru bersama Thompson Hs.

Program di TVRI tidak berlanjut. Sehingga Alister minta dilibatkan dalam pentas Grup Opera Silindung (GOS), sebuah grup percontohan yang mengawali kebangkitan kembali Opera Batak di Tarutung atas dukungan Pemkab Taput waktu itu. Sejak pentas keliling GOS pada Januari 2005, semangat Alister bermain Opera Batak menggebu kembali. Dengan sikap terbukanya berbagai pengetahuan dan teknik permainan diberikan kepada pemain-pemain muda di GOS. Alister juga tidak sungkan-sungkan menawarkan istri dan anak-anaknya untuk terlibat setiap diajak pementasan. Dedikasi dan loyalitas untuk menyalurkan pengetahuannya kepada orang muda selalu ditunjukkan Alister setiap dipanggil untuk pementasan Opera Batak.

 

Zulkaidah Boru Harahap, 61 Tahun.

Zulkaidah muncul belakangan setelah Opera Batak dibangkitkan kembali. Namun aktivitasnya dalam kesenian Opera Batak sudah cukup malang melintang. Sejak usia 15 tahun, tepatnya pada 25 Juni 1963, kelahiran Bungabondar Sipirok ini tertarik masuk Serindo sewaktu pementasan di Sipirok (Tapsel). Menurut pengakuannya, awal masuk ke Serindo menjadi tukang masak selama tiga bulan dan penjaga anak-anak para pemain sebelum dilatih oleh Tilhang Gultom menjadi penari, penyanyi, menjiwai cerita sejarah serta bermain musik. Dari pemain Opera Batak terdahulu Zulkaidah kelihatan satu-satunya sebagai pemain perempuan yang  pintar main seruling dan serunai kecil. Ciri khas vokalnya yang dapat melengking membuatnya juga laris. Itulah yang membuat Zulkaidah sempat mempergelangkan emas di leher, tangan serta kaki. Lagu-lagu Opera Batak yang sering dinyanyikannya dalam setiap pementasan bahkan direkam kemudian ke dalam kaset audio sekitar tahun 1968, beberapa saat setelah berumah tangga. Namun perkembangan beberapa album lagu-lagu yang masih beredar di pasaran saat ini tidak pernah diketahuinya lagi. Nampaknya Zulkaidah sudah terbiasa menerima janji-janji dari produser kaset dan para agen.

Dari tahun 1982 Zulkaidah sempat memimpin Grup Serindo setelah teringat pesan Tilhang Gultom sebelum meninggal dunia pada tahun 1972. Itupun terpaksa dia terima karena Gustafa Gultom, anak kandung abangnya Tilhang mulai sakit-sakitan di Jakarta  Sementara dari keturunan keluarga Tilhang yang tinggal di kampung tak ada yang bersedia menjalankan grup itu. Rapat keluarga Tilhang malahan sempat memutuskan agar usaha Serindo dimasukkan saja ke kolong rumah yang ada di Sitamiang (Samosir), desa tempat kelahiran Tilhang Gultom. Berani dan bertanggung jawab untuk memimpin Serindo, Zulkaidah terpaksa menggadaikan sawah dan semua perhiasannya. Ada 70 orang anggota Serindo yang harus dihidupinya waktu itu. Namun pada tahun 1985 Serindo benar-benar bangkrut sewaktu pentas keliling di Tapsel. Masyarakat di sana juga mulai kurang menyukai tontonan Opera Batak dan kalah bersaing dengan sirkus. Kebangkrutan itu sempat membuat Zulkaidah berniat bunuh diri. Uang sepeser pun tak ada untuk keluar dari Tapsel.

Menyadari semua itu Zulkaidah meratap sampai mengundang orang-orang berdatangan. Sekilas dalam keramaian itu dia pun dapat inspirasi dengan mengatakan uangnya hilang dan mau kembali ke Jakarta. Serindo memang sudah sempat hijrah ke Jakarta tahun 1974 dan dipimpin Gustafa Gultom. Bahkan di Jakarta tahun 1981 Zulkaidah sudah terlibat dalam pementasan Tarombo Siraja Lontung yang diadakan di TIM. Mungkin pengalaman “marjakarta” itulah Zulkaidah mendapat inspirasi agar dapat sedikit berbohong waktu itu. Ternyata orang-orang di keramaian itupun benar-benar membantunya. Dua jam setelah meratap itu, mereka membantu Zulkaidah ke bus ALS yang kebetulan lewat menuju Jakarta.

Di Jakarta Zulkaidah kembali menjumpai AWK Samosir, pimpinan Serindo cabang Jakarta yang beralamat di pintu II Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Beberapa bulan menumpang di rumah AWK Samosir Zulkaidah pulang ke kampung suami di Tigadolok, Simalungun. Sejak tahun 1985 itu Zulkaidah berpikir untuk berusaha sendiri untuk mempertahankan keluarga. Dia pun mulai bolak-balik berjualan kacang dan tuak ke pesta-pesta adat di Simalungun dan Samosir. Sambil menunggu jualan habis, Zulkaidah menarik seruling dari kantungannya. Tiupan serulingnya itu sering mengusik orang-orang di setiap keramaian pesta.

Entah karena tertarik atau iba, jualannya pun laris keras. Bahkan suatu ketika jualannya  terpaksa diborong pehajat pesta sebelum menyuruhnya tak usah lagi main seruling di pesta itu. Namun disuruh pulang saja karena setiap dia datang berjualan, serulingnya lebih memancing orang ramai mendekat ke sekitarnya.

Terakhir Zulkaidah tak lagi berjualan secara keliling. Di Lumbanri, Tigadolok ada sebuah kedai gorengan. Orang mengenalnya tenda biru karena atap kedai gorengan itu dilapisi dengan plastik berwarna biru. Kalau tak musim ke sawah, Zulkaidah hanya berjualan goreng dan minuman manis bagi orang-orang yang lalu lalang.  Masuk ke Tigadolok dari arah Siantar, tenda biru itu terletak kira-kira tigaratus meter dari Simpang Kawat dan di pinggir jalan. Awal Maret  2006 PLOt mengajak Zulkaidah boru Harahap untuk pementasan Sipurba Goring-Goring di Balige. Lengkingan suaranya menyanyikan lagu-lagu Opera Batak belum berubah jauh terdengar dari album-albumnya yang sudah “dibajak” itu. Meskipun Zulkaidah tidak kelihatan lelah dengan nyanyian dan tiupan serulingnya, sejenak dia melepaskannya dengan sebatang rokok di luar panggung. 

Pernah semua harapannya disampaikan setelah menyerahkan kopian dokumen-dokumen perjalanan dan pertunjukan ke Eropa dan Amerika  tahun 1990 dan 1991. Harapan utamanya adalah: dapat dihargai selain  dibuatkan rekaman dirinya menyanyikan kembali lagu-lagu Opera Batak. Ketika istri Pontas Gultom alias Zulkarnaen ini semakin sering diajak terlibat ke pentas Opera Batak harapan itu tak lagi disinggung-singgung. Kebiasaan Zulkaidah dalam proses latihan Opera Batak rupanya lebih banyak memperhatikan dan mendengarkan orang lain.

Ketika mendengar  pengumuman dan membaca surat keputusan Maestro itu, Zulkaidah kembali berjanji tak mungkin lagi meninggalkan kesenian Opera Batak. Pada 5 – 7 April dan 12 – 13 April 2008 lalu Zulkaidah ikut tampil bersama Alister dalam pertunjukan Opera Danau Toba (ODT) di Batam, Kepulauan Riau dan Pematangsiantar. Kedua maestro ini memang sudah sangat dikenal orang karena permainannya di atas panggung. Selama ini mereka sudah sangat sering mendapat tepukan penonton saja.

Diterbitkan di: on Juli 5, 2008 at 12:12 pm Tinggalkan sebuah Komentar

ABDULLAH ABDULRAHMAN, MAESTRO TARI ACEH

(Catatan: Thompson Hs)

Abdullah Abdulrahman adalah salah seorang dari sejumlah seniman tari Aceh yang dijuluki Syeh Lah Geunta. Syeh dalam lingkungan masyarakat Aceh dikenal sebagai sebutan khusus bagi pemimpin gerakan pertunjukan tari. Syair atau pantun yang biasa mengiringi tarian di Aceh dimotori oleh seorang syeh hingga pola gerak serta menjadi pemain utama dalam setiap penampilan tari. Ada sejumlah nama dan penampilan tari di Aceh yang sangat dikenal seperti rapa’i, seudati, saman, daboh. Penyebaran tari tersebut meluas hampir ke seluruh wilayah Aceh, ditambah dengan perkembangan jenis khusus untuk rapa’i. Misalnya ada yang disebut rapa’i saman, rapa’i geleng, rapa’i daboh, dan lain-lain. Rapa’i sendiri merupakan instrumen sejenis tamburin dengan bentuknya yang bulat dan berbagai ukuran besarnya . Namun dalam sebutannya ke dalam tarian terkait dengan pola memainkan alat musik itu dengan gerakan-gerakan artistik dan agresif. Instrumen musik lain yang mendampingi rapa’i adalah gendang dan seureune kalee, sejenis serunai. Rapa’i dianggap sebagai tarian yang lebih awal dari seudati. Terkait dengan rapa’i dan seudati ada cerminan budaya Aceh yang terungkap dalam pepatah: puenajoh timphan, piasan seudati rapa’i. (Makanannya kue timphan, pertunjukannya seudati rapa’i).

Syeh Lah Geunta merupakan gelar khusus yang diterima Abdullah Abdulrahman atas kehandalannya bermain seudati. Gelar itu sendiri bersumber dari sastrawan Ali Hasymi pada tahun 1963 sewaktu masih menjabat gubernur Aceh. Pada suatu kesempatan menghibur di malam resepsi peletakan batu pertama gedung SMA Cut Gapu, Bireuen, Abdullah mendapat gelar itu karena kelincahan gerak tubuhnya diumpamakan seperti ulat. Waktu itu kelompok Abdullah merupakan satu-satunya kelompok tari seudati anak-anak di Bireuen. Julukan kepadanya masih dengan Syeh Lah Aneukmit atau Syeh Lah Anak-anak. Namun gaya tari seudati yang dimainkannya sudah menarik perhatian.

Tari seudati memang sungguh khas karena gerakan yang bersumber dari pola dan variasi loncatan, gerak tangan dan keutep jaroe (petik jari), pukulan dada (persis di ujung rusuk) dengan iringan pantun atau syair yang spontan di atas panggung. Jumlah penari seudati minimal delapan orang dan selalu genap; sudah termasuk sang Syeh ditambah dua aneuk cahi atau pelantun syair/pantun. Satu orang penting lainnya dari penari seudati adalah apit syeh yang posisinya sebagai asistensi di sebelah kiri syeh. Selama delapan bagian berurutan (saluem anuek syahi, saluem rakan, bale saman, likok, saman, kisah, cahi panyang, dan lanie) dalam tari seudati dilangsungkan, apit syeh berfungsi menjaga maksud spontanitas gerak syeh. Seudati perempuan disebut seudati inong atau laweut. Pukulan dalam seudati inong dilakukan di bagian pinggul.

Sebagaimana kebiasaan di lingkungan Aceh, Lah diambil dari panggilan singkat nama utamanya, Abdullah. Abdulrahman hanya nama ayah yang kemudian hari baru diketahui seorang penari seudati juga. Sedangkan Geunta, yang artinya genta atau dengung, adalah pemberian dari sang gubernur, di samping tambahan uang saku yang dibagi-bagi waktu itu untuk semua anggota penari. Syeh Lah Geunta mulai belajar tari seudati pada tahun 1962 setelah menonton penampilan Nurdin Daud, seorang penari seudati terbaik di Aceh waktu itu.”Gerakannya agak keras, tapi lembut,” Syeh Lah menyinggung ingatannya atas penampilan Nurdin Daud bersama Syeh Ampu Muda. Padahal anak kelahiran desa Geulanggang Tengoh, Bireuen ini masih kelas empat (4) SR (singkatan Sekolah Rakyat). Halimah, ibu yang melahirkannya nampak mendukung ketertarikan Abdullah kecil terhadap seudati. Sedangkan ayah sempat melarang karena dianggap akan mengganggu pelajaran di sekolah dan saat-saat mengaji. Namun diam-diam tekadnya diwujudkan sambil berlatih di sebuah hutan dekat Bireuen. Penampilan bersama teman-temannya berlatih dilakukan pertama kali di Pasar Malam kota Bireuen hingga sampai ke kota Sigli dan Langsa. Karena benar-benar sudah menyatu dengan seudati, Syeh Lah hanya sempat duduk di kelas 2 SMP. Minatnya yang lain seperti main bola juga ditinggalkan karena pilihan menjadi penari seudati. Abdullah sendiri adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Abangnya bernama Alamsyah (almarhum), juga seorang penari yang pernah bersama dalam kesempatan ke Spanyol dan Amerika.

Syeh Lah Geunta benar-benar ‘berdengung’ dan dikenal di hampir semua wilayah Aceh. Dari 100-an syeh seudati di Aceh, nama dan permainan Syeh Lah Geunta sangat akrab dan selalu ditunggu masyarakat. “Dengung pukulan Syeh Lah terasa beda,” demikian pengakuan Benyamin Siregar alias Ucok, salah seorang penggemar seudati yang tinggal di kota Langsa. Atas pengaruh Syeh Lah, beberapa sanggar seudati dan rapa’i di kota Langsa mulai dihidupkan kembali. Sanggar Pesona dan Sanggar Geunta Suasa adalah dua dari sejumlah sanggar yang didorong perkembangannya oleh Syeh Lah. Beberapa orang mengenal baik Syeh Lah karena tidak pernah menolak orang-orang yang mau belajar seudati dan tarian Aceh lainnya. Beliau selalu bersedia memberi masukan-masukan dan dorongan kepada orang-orang muda tanpa harus dibayar. Bahkan tiga generasi penari seudati di kota Langsa muncul atas perhatian serius Syeh Lah. “Seorang seniman yang sudah menari itu harus bisa memberikan ilmunya kepada orang lain.” Demikian disampaikan beliau ketika diklarifikasi pada 23 – 24 Desember 2007 lalu. Klarifikasi dilakukan dalam rangka calon Maestro Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia yang diprogram mulai tahun 2007.

Seudati sepertinya sudah menjadi aktivitas penting dari kehidupan Abdullah Abdulrahman. Imbalan yang diterima setiap penampilan seudati yang dimainkan tergantung siapa yang mengajak. Terkadang hanya dibayar secukupnya. Ada juga kalanya tak menerima bayaran. Masa-masa sulit dilalui untuk mempertahankan pilihan terhadap seudati. Awal karirnya tahun 60-an dianggap masih menyulitkan karena gestok, untuk menyebut masa G 30 S PKI, ditambah masa-masa konflik bersenjata antara GAM dan TNI yang terpicu mulai tahun 1990. Selama masa-masa konflik itu, Syeh Lah tidak pernah pulang malam ke rumah sehabis main seudati. Dampak lainnya tentu mengganggu perekonomiannya untuk menyekolahkan anak-anak. Karena itu sempat membuka warung nasi di Idi Rayeuk. Namun karena perhatiannya yang sudah terlanjur penuh untuk mengembangkan seudati, usaha warung nasi tidak dilanjutkan.

Situasi konflik di Aceh berubah sewaktu tsunami terjadi menjelang akhir tahun 2004. Dalam rangka memperingati dua tahun bencana tsunami ada sebuah lembaga non-pemerintah yang membayar permainan seudatinya sampai 15 juta rupiah. Bayaran yang diterima selama ini memang digunakan untuk keperluan sekolah anak-anak. Satu di antara anaknya mengikuti jejak sebagai penari hingga berhasil menamatkan kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Yang dimaksud adalah anak ketiga yang bernama Asnawi Abdullah, penari dan koreografer yang cukup dikenal saat ini. Anaknya yang lain hanya mampu disekolahkan sampai tingkat SMA.

Di desa Seuneubok Rambong ada sebuah rumah yang 10 tahun masih terkendala pembangunannya. Maklum, dana untuk menyelesaikan bangunan itu tidak mudah bagi Syeh Lah. Selama ini untuk memenuhi persediaan beras keluarga harus juga menggarap pertanian padi dekat bangunan rumah yang belum selesai itu. Beliau tak pernah meminta-minta kepada pemerintah lokal agar dihargai atas semua jasanya mengharumkan Aceh dan negara dengan seudati. Rumah di desa Seuneubok Rambong menjadi saksi. Satu rumah kayu dan mulai tua di samping rumah yang masih terbengkalai itu menjadi tempat tinggal bersama keluarga sejak menikah tahun 1968. Rafiah, sang istri, anak-anak serta cucu kelihatan tetap setia menyambut Syeh Lah setiap pulang ke rumah dan desa nan sejuk serta 600-an meter ke pantai itu. Desa tersebut terletak di Idi Rayeuk, ibukota kabupaten Aceh Timur (yang baru setahun dipindahkan dari kota Langsa). Perjalanan dari Langsa ke Seuneubok Rambong hampir dua jam dengan bus umum menuju Lhokseumawe dan Aceh. Tempat-tempat tertentu antara kota Langsa dan Idi Rayeuk adalah bekas daerah kontak senjata di wilayah Aceh Timur semasa konflik. Bahkan setelah masa damai masih tak jarang ditakuti dengan suatu modus baru dalam bentuk tindak kriminal, seperti perampokan dari orang-orang yang tidak dikenal.

Meski selama ini berkeliling lewat seudati membawa nama Aceh dan Indonesia, Syeh Lah tak pernah berhenti tanpa penghargaan. “Selama masyarakat masih mau menonton seudati, Syeh Lah akan tetap tampil,” demikian Syeh Lah bersemangat meskipun usianya yang ke 61 lambat laun mulai mengurangi aktivitasnya sebagai penari seudati. “Saya lebih banyak saat ini ke mana-mana untuk memberikan masukan soal seudati dan tari Aceh lainnya,” kata Syeh Lah. Dari sosok tinggi dan tampak kukuh itu terasa sesuatu berdengung seperti ingin mengatakan: Tsunami dapat menghilangkan Aceh. Namun tradisi seudati dan tarian lainnya dari Aceh merupakan satu tanda kegagahan budaya Aceh ke mana-mana.**

Tempat dan Lahir: Bireuen, 1946
Nama Istri: Safiah
Anak
1. Darmawati 4. Iskandar
2. Yusniati 5. Darwinsyah
3. Asnawi 6. Efendy
Cucu: 10 orang
Pentas: Aceh, Medan, Jakarta (1985, 1986, 1994,1997, 2006),
Tokyo (1989), Amerika (1991), Kuala Lumpur (1991), Singapura,
Spanyol (1992), Yogyakarta (2003).

Diterbitkan di: on Maret 19, 2008 at 6:29 am Komentar (1)