PERUPA MELUKIS BERSAMA DI DANAU TOBA

Oleh: Thompson Hs*

(e-mail: thompsonhs@ymail.com)

Seniman Indonesia Anti Narkoba atau SIAN cabang Sumatera Utara mewujudkan satu program dengan aksi Melukis Bersama di Danau Toba. 30 perupa Sumatera Utara dipersiapkan dan difasilitasi untuk bisa terjun ke sekitar Danau Toba selama dua hari, tepatnya 9 – 10 Mei 2009 lalu. “Transportasi, penginapan, dan konsumsi ditanggung oleh SIAN,” kata Togu Sinambela, salah seorang perupa dan kordinator melukis bersama itu. Semua perupa yang terlibat berangkat dari Medan pada 9 Mei pukul 06.00 WIB bersama beberapa pengurus SIAN dengan angkutan bus travel yang disewa pulang-pergi. Di Tuktuk Samosir mereka tiba sekitar pukul 10 pagi hari dan langsung ke tempat dan penginapan di Samosir Cottage. Melukis bersama nampaknya dimulai langsung oleh beberapa pelukis. Menurut Edi Siswanto, salah seorang dari pengurus SIAN, 30 perupa itu diharapkan bisa hadir. Sampai konfirmasi di Samosir Cottage 18 perupa sudah hadir. Yang lainnya akan menyusul. Beberapa nama perupa yang sudah sangat dikenal selain Togu Sinambela adalah Reins Asmara, Yos Rizal, Kuntara DM, Popy, Faridah, Jonson Pasaribu, Yatim, Budi Siagian, Panji Sutrisno, dan Andi. Namun dengan mengenal nama-nama tersebut, perupa atau pelukis lainnya sama sekali tak ingin diabaikan. Lagi pula dalam tulisan ini semua nama yang tersebut dan belum sangat dikenal tidak menjadi bagian pembicaraan khusus. Yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah soal melukis bersama itu dalam konteks Danau Toba dan sekitarnya. Berdasarkan pengamatan, para perupa yang difasilitasi SIAN Sumatera Utara ini cukup tertarik dan serius melakukan aksi melukis bersama itu. Dari sejumlah lukisan yang selesai dan tidak dirampungkan di tempat, ketertarikan dan keseriusan para perupa itu menjadi salah satu sudut pandang keperdulian atas lapis-lapis objek sekitar atau mengenai Danau Tioba, baik kultur di sekitarnya maupun objek alaminya yang sangat indah. Semua perupa yang ditemui di sekitar penginapan memiliki spirit mendekati, memilih, memastikan, atau menjadikan sekitar sebagai stimulan bagi bayangan objek yang ingin dilukis dan dibawa selama perjalanan dari Medan. Operasi spirit itu juga berbeda-beda. Ada yang melukis dengan objek terdekat, terjauh, yang tidak ada di sekitar, bahkan yang mengundang penafsiran dan dasar cerita legendaris. Objek terdekat misalnya oleh Reins Asmara dengan melukis sebuah pohon Jawi (jabi-jabi dalam istilah Batak) yang termasuk tua dan tumbuh di balik tembok pembatas penginapan dengan pinggir Danau Toba. Lukisan atas objek itu dirampungkan beberapa jam sebelum melukis objek lain yang hampir mirip menampilkan sebuah pohon. Dua pelukis dekat Reins Asmara, salah satu adalah Yatim, melukis objek awan dan pemandangan gemunung dan gelombang air danau ke arah Utara. Pemandangan gemunung dan awan itu tepatnya di bagian daerah Simalungun dan pemandangan itu nampak seperti objek terjauh dari posisi pelukisnya. Jonson Pasaribu juga melakukan hal yang sama dengan cara menyamping melukis objeknya. Tiga orang pelukis , salah satu Togu Sinambela, dekat posisinya dan di dalam tempat berteduh memandang jauh dan menariknya dengan kuas ke dalam kanvas. Salah satu terkadang harus dibantu dengan memotret objek terjauh tersebut. Pemandangan itu antara teluk Samosir dan daerah pegunungan ke arah Tigaras dan Haranggaol. Salah satu pegunungan antara Seribudolok dan Merek tampang dari tempat berteduh itu, meskipun agak samar. Salah satu dari tiga pelukis itu sampai esok hari menampilkan pemandangan terjauh itu dengan kesan-kesan fenomena yang tidak cerah, bahkan kelihatan murung. Mungkin dia melihat Danau Toba dan sekitarnya tidak lagi indah dan mulai meneyedihkan. Di pelataran atas penginapan ada dua tiga pelukis beraksi untuk objek masing-masing, baik pemandangan yang masish terjauh maupun sosok-sosok karakteristik purba dan simbolis. Rampung tidaknya lukisan mereka kesan-kesan khusus tentang objek yang dilukis menunjukkan spirit itu. Kembali ke posisi terdekat Reins Asmara sewaktu membuat lukisannya yang pertama. Ada lukisan dengan lanskap rumah Batak. Gambaran rumah Batak itu polos dan tanpa ukiran atau elemen-elemen arsitekturalnya. Nampaknya lukisan tersebut ingin menampilkan suatu keadaan di tengah situasi alamnya, entah dekat sungai yang masih dilari air atau sudah kering. Saya belum bisa membayangkan langsung arah lanskap itu ke situasi ekologis sekitar Danau Toba atau sikap keperdulian pemilik rumah Batak atas alam sekitarnya. Terus mengamati semua perilaku selama aksi melukis bersama itu ada sesuatu energi yang murni yang ingin ditunjukkan semua perupa. Energi yang murni itu terkadang bisa membingungkan kepada orang lain dan sekitar penginapan. Untuk mengetahui ada tidaknya kebingungan itu semua hasil lukisan yang rampung atau tidak diharapkan bisa dipamerkan dan dikembangkan dalam pembicaraan. Mungkin aksi pertama melukis bersama itu menjadi pemahaman baru atas kemungkinan-kemungkinan banyak kegiatan untuk sekitar Danau Toba. Meskipun melukis bersama oleh 30 perupa menjadi pertama oleh fasilitasi SIAN, aksi melukis bersama ini dapat menyambung perhatian menyeluruh dalam sikap perduli pada Danau Toba. Apakah yang perlu diperdulikan untuk Danau Toba? Danau Toba Sekitarnya Danau Toba sekitarnya dikelola oleh tujuh (7) kabupaten, yakni Simalungun, Karo, Dairi, Humbahas, Taput, Tobasa, dan Samosir dengan masing-masing proyek pemberdayaan lokasi untuk bisnis, pariwisata, kerambah, hotel, hutan, pertanian, tempat tinggal dan ladang/sawah penduduk, dan pasar-pasar tradisional. Poin-poin tersebut mungkin saja ada dalam khayalan para perupa untuk dijadikan lukisan yang mendatangkan uang kembali atau disumbangkan sama sekali. Namun pikiran tersebut tidak ingin digambarkan ada atau tidak dari semua perupa yang hadir dalam melukis bersama itu. Dari segi etisnya, semua para perupa itu bisa hadir melukis bersama di Danau Toba disebabkan eksistensi dan kesiapan SIAN. Andai ketujuh kabupaten itu terpikir dan melakukannya mungkin koneksi etis dan teknis dapat menampilkan kapasitas keperdulian itu semakin berkembang. Namun karena pengandaian hanya bersifat untuk memicu kesadaran, siapa saja bisa melakukan aksi melukis bersama di Danau Toba dan sekitarnya. Untuk menyebarkan informasi adanya melukis bersama ini, dalih pameran dan ngobrol-ngobrol secara prinsip sudah dibuka pihak SIAN. Penyebaran informasi untuk itu disebarkan ke sejumlah organiser kegiatan di Parapat dan Samosir. Selain penyebaran informasi di hari pertama jauh hari sudah dilakukan semacam sosialisasi dengan teknik berbagi informasi lewat ponsel dan face book. Ada beberapa orang yang mendapat informasi hadir pada Minggu, 10 Mei 2009 itu. Meskipun para pelukis sebagian sudah mengemas lukisannya karena pengaruh check- out acara ngobrol-ngobrol berlangsung antara beberapa pelukis dengan penduduk setempat. Penduduk setempat menceritakan situasi sekitar karakter kepariwisataan itu masih dalam tarar tidak profesional dan jujur. Beberapa pelukis yang terlibat dalam obrolan itu masih sangat tertarik untuk melukis di sekitar Danau Toba. Namun mereka harus difasilitasi seperti sekian perupa atau seniman yang pernah difasilitasi pemerintah kolonial Belanda untuk menaikkan Bali, kebudayaan dan pariwisatanya ke seluruh dunia. Bali yang surplus saat ini adalah hasil promosi melalui karya seni pada zaman kolonial Belanda. Belanda melakukan perjanjian dengan para seniman seperti pelukis dan musikus Jerman Walter Spies, komponis Kanada Colin Mcphee, Novelis Vicki Baum, dan lain-lain yang mempengaruhi kedatangan seniman-seniman Eropa lainnya hingga menjadikan Bali sempat terkesan seperti pulau para Seniman (Michel Picard, 1992 : 42). Tentu berbagai cara sudah dilakukan untuk promosi keindahan Danau Toba dan kultur di sekitarnya. Namun akhir-akhir ini promosi itu nampaknya lebih dilakukan dengan mengabaikan pariwisata yang indah, ekologis, penguatan kultur yang jujur dan melayani. Mungkin di sekitar Danau Toba sudah terjadi satu format yang hanya membutuhkan uang dan servis. Semoga tidak demikian.Pasti masih ada orang baik dan jujur agar Danau Toba tidak hancur karena kerambah, pengrusakan hutan, pembuangan limbah, atau proyek debit air. *Berprofesi sebagai penulis dan sutradara. Direktur Artistik PLOt Siantar.

Diterbitkan di:  on Mei 29, 2009 at 4:57 am Tinggalkan sebuah Komentar

cerita “si jonaha”

SIJONAHA PENIPU ULUNG*

Oleh: Thompson Hs
Ada seorang anak yatim piatu bernama Jonaha. Di Tanah Karo namanya sering disebut-sebut Jinaka. Sejak kecil dia sudah yatim piatu. Sehingga salah seorang dari pamannya terpaksa mengasuhnya. Dikatakan terpaksa karena paman Jinaka tidak begitu suka dengan keluguan Jinaka. Pamannya juga menganggap dia bodoh untuk dibawa kemana-mana. Paman Jinaka adalah seorang pemain judi dan mencari lawan bermain judi ke berbagai kuta atau kampung. Sifat pamannya yang juga suka memerintah menganggap Jinaka terlalu lamban. Namun ada juga kalanya Jinaka seperti orang jenaka. Kalau pamannya minta dibangunkan lebih pagi dia akan lebih dulu meniru suara ayam berkokok. Lalu pamannya benar-benar bangun
“Jinaka!” Panggil Pamannya suatu kali sebelum berangkat bermain judi. Jinaka belum bangun ketika itu. Lalu berulang-ulang pamannya memanggil, Jinaka baru terbangun. “Kai, Mama? Apa, paman?” Jawab Jinaka sambil malas-malas menggerakkan tubuhnya. “Medak kam, bangun kamu!” Sambung pamannya. “Aku enggo medak, paman,” sambung Jinaka lagi sambil mengusap sesuatu dari hidungnya. “Hayolah, cepat. Pedasken!” Mendengar suruhan pamannya, Jinaka segera berlari entah ke mana. Lalu pamannya menambahi: “Segera siapkan kudaku.”
Beberapa saat Jinaka harus segera mempersiapkan kuda pamannya. Mereka pergi ke tempat berjudi. Namun Jinaka selalu tidak boleh mendekat ke tempat perjudian itu. Dia selalu menunggu perintah pamannya. “Jinaka, kujenda kam. Ke sini kamu,” Pamannya memanggil untuk meminta tempat sirihnya. Paman Jinaka rupanya suka makan sirih. “Mari ke sini tempat sirihku,” pinta pamannya. Namun Jinaka menjawab dengan lugu. “Tadi kulihat terjatuh sewaktu di perjalanan, Mama.”
“Ihhh, kenapa tak kamu ambil kalau sudah lihat terjatuh?” Bentak pamannya.
“Paman tak ada menyuruhku sebelumnya untuk mengambil,” Jinaka cukup menjawabnya sedemikian. Akhirnya dia kena bentak. Di lain kali Jinaka diingatkan untuk mengambilnya kalau terjatuh dari kuda. “Bukan hanya tempat sirihku saja yang harus kamu ambil kalau terjatuh dari kuda,” pesan pamannya. Lalu dengan enteng pamannya tak risau lagi dengan tempat sirih baru yang menggantikan yang hilang itu. Dari tempat perjudian juga pamannya memanggil Jinaka dengan suara keras. “Jinaka, bawa ke sini tempat sirihku!”
Jinaka tergesa-gesa menyerahkan tempat sirih pamannya. Namun tiba-tiba pamannya mencium sesuatu yang bau. “Apa ini, Jinaka?” Pamannya memperhatikan isi tempat sirihnya yang ternyata sudah berisi tai kuda. “Tai kuda, Mama,” jawab Jinaka. Pamannya dengan setengah marah hampir menampar Jinaka dan bertanya-tanya: “Kenapa kamu masukkan tai kuda ke tempat sirihku, Jinaka?” Lalu dengan enteng pula Jinaka menjawab: “Tapi Paman suruh aku mengambil apa saja kalau terjatuh dari kuda kan? Kulihat juga tai kuda itu berjatuhan, ya kuambillah!”
Paman Jinaka tak habis pikir dengan kebodohan bre atau keponakannya itu. Lalu suatu pagi si paman menyuruh Jinaka tinggal saja dengan kuda. “Aku mau jalan sendirian tanpa kamu dan kuda,” kata paman. Namun Jinaka bersikeras tak mau ditinggal. “Kamu tak bisa ikut. Tapi kalau kamu tak berbuat kesalahan lagi bisalah ikut.”
Jinaka berjanji tak akan berbuat kesalahan. Lalu pamannya sedikit tenang dan berpesan kembali. “Nanti kamu tambatkan kudaku di tempat yang hijau dan subur ya.” Jinaka merasa mengerti kalau kuda pamannya cukup ditambatkan sesuai dengan apa yang didengarnya. Kebetulan dia teringat dengan suatu tempat yang luas yang agak jauh dari tempat perjudian. Tempat yang luas itu sedang menghijau dan kelihatan subur. Tak terpikir oleh Jinaka kalau tempat itu adalah sawah. Di sanalah kuda pamannya ditambatkan. Setelah ditambatkannya dia merebahkan diri di bawah sebuah pohon.
Setengah tertidur, Jinaka seperti kena tampar. “Hayo, bangun! Kudamu sudah merusak sawahku.” Seorang ibu kemudian menjewernya. “Itu bukan kudaku. Tapi kuda pamanku,” Jawab Jinaka terkejut. Ibu itupun menarik-narik sebelah kuping Jinaka ke tempat perjudian. “Yang mana mamamu, tunjukkan!” Di tempat perjudian itu ada beberapa orang pria berkumis. Salah seorang adalah paman Jinaka. “Kenakai, Jinaka? Kenapa, Jinaka?” pamannya spontan berdiri. Ibu itu langsung memberondong tuntutannya ke arah paman Jinaka. “Sawahku dirusak. Aku mau minta ganti rugi!” Benar yang dipikir pamannya kalau Jinaka berbuat kesalahan lagi. Sewaktu dia mencoba memanggil Jinaka, si Ibu itu tak henti-henti melancarkan tuntutannya. Jinaka pun merasa ketakutan setelah mengatakan: “Bukan aku yang merusak sawah itu, Mama. Tapi kuuudaaa.” Demikianlah Jinaka mulai menunjukkan rasa takutnya setelah tak mampu tak mengulangi kesalahan. Namun pamannya harus membayar ganti rugi dengan sisa uang dari 200 ringgit untuk modal judi. Untuk melanjutkan permainan judinya paman Jinaka sudah sering meminjam uang. Saat itu juga dipinjamnya uang dari seorang pembeli manusia yang turut berjudi di tempat itu. “Silih, aku tak bisa meminjamkan uangku lagi kepadamu tanpa boroh,” kata pembeli manusia itu. “Tak usah minta boroh. Aku mau langsung menjual Jinaka kepadamu.” Begitulah akhirnya kekesalan paman Jinaka berpuncak. Lalu pembeli manusia itu menyerahkan tambahan 250 ringgit sebelum membawa Jinaka ke kampungnya.
Pembeli manusia itu membeli manusia untuk dijadikan budak-budak. Suatu kali Jinaka dibawanya mencari manusia lain untuk dibeli. “Hei, Jinaka. Apakah kamu akan lari kalau kutinggalkan sebentar di sini?” Pembeli manusia itu bertanya karena selintas dari pandangannya melihat seekor rusa. Jinaka menjawab saja dengan: “Ya, aku akan lari kalau ada kesempatan!” Tangan Pembeli Manusia langsung melayang ke wajah Jinaka mendengar reaksi itu. Kemudian Jinaka diikatkan di bawah pohon sebelum Pembeli Manusia mencari rusa.
Tidak kebetulan pula lewatlah seorang pemburu dari tempat Jinaka diikatkan. “Eh, eh. Kuakap belkih kepe jelme. Kukira rusa rupanya manusia. Hei, anak singuda. Ise gelarndu?” Jinaka merasa mendapat inspirasi mendengar ucapan pemburu rusa itu. Lalu dia berpura-pura menangis. “Eh, eh, anak muda. Siapa namamu? Jangan menangis dulu,” semakin kalimat itu diulangi Jinaka pura-pura menambah tangisannya. “Tolonglah aku,”kata Jinaka. “Aku menolak dijodohkan pamanku dengan putrinya. Kalau aku mau pasti tidak diikatkan di sini.” Mendengar pengakuan Jinaka seperti itu si pemburu rusa agak heran. “Kenapa kamu tak mau dengan putri pamanmu?” Jinaka mencari-cari jawaban yang bisa menarik perhatian si pemburu rusa itu. Akhirnya si pemburu rusa itu mau menggantikan Jinaka diikatkan sampai pembeli manusia muncul kembali.
Jinaka melarikan diri ke Simalungun. Di sana namanya digantikan menjadi Jonaha. “Dob dua bulan ham i Simalungun on, Jonaha. Sinjah pe ham naroh ijonma iananmu tading. Sudah dua bulan kamu di Simalungun ini. Dari manapun kamu datang di sinilah tempatmu tinggal,” begitulah ibu angkat Jonaha di Simalungun meyakinkan agar Jonaha baik-baik membantunya di sawah. Sejak di Simalungun sebuah kecapi dimiliki oleh Jonaha. Sewaktu dia asyik memainkan kecapi, ibu angkatnya menyuruh dia pergi membersihkan sawah. “Sawah kita akan bersih dari rumput-rumput selagi kumainkan kecapi ini, inang,” begitu Jonaha menanggapi suruhan ibu angkatnya. “Percayalah, inang,” tambah Jonaha karena ibu angkatnya benar-benar tak percaya. Namun entah karena apa ibu angkat itu mencoba memeriksa rumput-rumput di sawah.”Jonaha, sudah kulihat juma kita. Benar yang kamu bilang. Sawah kita memang sudah bersih dari rumput-rumput.” Sambil berteriak gembira Jonaha semakin memainkan kecapinya. Dengan alat yang satu itu dia pergi berkeliling ke berbagai kampung untuk meyakinkan banyak orang kalau kecapi itu benar-benar sakti.
Kabar kesaktian kecapi Jonaha tedengar pula ke telinga si pemalas. Dengan segera dijumpainya Jonaha. “Lawe, aku ingin memiliki husapimu.” Jonaha langsung pura-pura menolak. Namun di dalam hatinya ada niat akan memberi kecapi itu kalau si pemalas dapat mengeluarkan emas simpanan istrinya. “Baiklah, lawe. Aku berani menyerahkan emas ini kepadamu,” si pemalas pasrah menyerahkan emas yang dijemputnya dari rumah dan bersemangat menerima kecapi Jonaha. “Tapi tunggu dulu,” potong Jonaha sambil menarik kecapi itu sementara dari tangan si pemalas. “Untuk memainkan kecapi ini ada tiga syaratnya. Pertama, harus diletakkan di atas para-para di rumah. Yang kedua, kecapi ini baru bisa dimainkan setelah tiga hari tiga malam disimpan.”
“Dan syarat ketiga?”
“Jaga kecapi ini agar jangan dimainkan oleh anak-anak,” lanjut Jonaha. Si pemalas dengan bersemangat menerima kecapi itu setelah dibungkus Jonaha dengan potongan kain berwarna merah. Dua hari kemudian Jonaha mencoba jalan-jalan ke tempat mangkal si pemalas di sebuah kedai. Si pemalas kelihatan sedang bermain catur. Namun tiba-tiba kedengaran suara kecapi dengan bunyi yang tidak teratur. “Suara husapi siapa itu, lawe?” tanya Jonaha. Si pemalas sempat mengira kalau itu bukan bunyi kecapinya. “Belum waktunya kecapiku itu berbunyi. Ini belum tiga hari,” kata si pemalas sambil curiga mendengar bunyi kecapi yang semakin serampangan. Tiba-tiba si pemalas berlari ke arah rumahnya. Dari arah rumahnya kemudian dia berteriak kalau kecapinya itu sudah dibunyikan anak-anaknya. “Lawe, kecapiku sudah dibunyikan anak-anakku. Malahan sudah dirusak!” Teriakan si pemalas itu pertanda keberhasilan tipuan Jonaha. Anak-anak si pemalas awalnya penasaran dengan bungkusan kain merah dan mengira isinya kue.
Si pemalas masih terus berteriak-teriak marah sambil mengejar anak-anaknya. Lalu Jonaha berpikir kalau kemarahan si pemalas bisa merembes kepadanya. “Lebih baik aku pindah ke kampung lain,” Jonaha memutuskan seketika. Di kampung lain dia melihat banyak orang sedang bermain judi. Lalu dia berambisi menjadi orang kaya seperti pamannya. Dengan hasil tukar emas yang diterimanya dari si pemalas dia mulai melakukan kebiasaan bermain judi. Permainan judi itulah yang menjadi kebiasaan Jonaha selain menipu. Jonaha bukanlah petarung yang pernah menang di setiap gelanggang judi. Kekalahannya selalu membuat dia berhutang kepada penduduk kampung terbarunya. Di kampung terbarunya itu pula dia mendapatkan jodoh. “Istriku, siapa di kampung ini yang berbaik hati untuk dapat meminjamkan uang kepada kita?” Pertanyaan ini tidak terlalu sulit untuk dijawab istri Jonaha. “Kukira amang Pandorap dapatmeminjamkan uang kepada kita.”
Tak berapa lama mereka pergi ke rumah Pandorap setelah istrinya mencoba terlebih dahulu. Istri Jonaha memohon kepada Pandorap agar meminjamkan uang beberapa ringgit. “Tapi tiga atau empat hari kamu harus membayar hutangmu ya, Jonaha.” Pandorap langsung mengingatkan Jonaha karena tak biasa dia meminjamkan uang berlama-lama kepada siapapun. “Tolu aripe taho, amang. Tiga haripun jadi, pak,” janji Jonaha agar Pandorap segera memberikan uangnya.
Tiga hari kemudian Pandorap benar-benar datang ke rumah Jonaha. Sebelum mendekat ke pintu rumah, Pandorap sudah berseru. “Horas, lae Jonaha. Nunga ro ahu. Aku sudah datang, lae Jonaha.” Mendengar suara Pandorap dari luar, seketika Jonaha berpikiran agar pembayaran hutang ke Pandorap dapat diselesaikan dengan cara khusus. “Tu bagasma, hamu amang. Masuklah kalian, pak,” dibukakan pintu rumah untuk Pandorap. “Pembayaran hutangku sudah tersedia, amang. Tapi tak enak kalau aku harus langsung membayarnya. Aku ingin pergi ke hutan dulu memburu burung untuk kita makan berdua.” Jonaha mencoba pura-pura sopan. Dia sudah tahu kebiasaan Pandorap yang doyan makan daging apa saja tanpa memperhatikannya. “Kukira amang dapat bersabar sampai aku pulang dari hutan.” Mendengarnya Pandorap tentu tak sabar dengan menawarkan diri ikut ke hutan. Sebelum berangkat Jonaha masih sempat membisikkan sesuatu kepada istrinya. “Tolong masakkan enam ekor ayam remaja untuk kami makan nanti sepulang dari hutan.”
Tidak berapa lama mereka sampai di hutan yang penuh dengan suara-suara burung. Dengan gayanya Jonaha mengeluarkan sebuah sumpit dari balik punggungnya. “Amang, sumpit inilah satu-satunya yang membantu aku dan istriku untuk mendapatkan daging.” Pandorap masih diam saja mendengar pengakuan Jonaha. Tiba-tiba Jonaha melompat dan mengarahkan anak sumpitnya ke seekor burung di antara pohonan tinggi. Namun anak sumpit itu kelihatan tidak kena sasaran. Malahan burung itu terbang tiba-tiba entah kemana. “Hei, burung. Segeralah engkau terbang ke rumah dan masuk ke kuali istriku.” Ucapan itu agak mengejutkan Pandorap. Sampai enam kali Jonaha mengarahkan anak sumpitnya ke arah burung yang hinggap, Jonaha selalu mengulangi ucapan yang serupa di atas. “Amang, enam ekor burung sudah kuperintah setelah mengarahkan sumpitku ini. Marilah pulang karna kita akan menyantap keenam burung itu.” Pandorap tetap diam tanpa komentar karena yang penting baginya adalah pembayaran hutang Jonaha dan tawaran makan.
Di rumah Jonaha, bau daging bersantan menyambut dekat pintu. Istri Jonaha rupanya sudah menyajikan masakannya di atas tikar. “Lihatlah, amang. Kita tinggal bersantap.” Rasa heran Pandorap tiba-tiba muncul dengan sajian itu. Dia langsung mengira yang tersedia itu adalah keenam burung yang diarahkan dari hutan. “Sekarang baru tau kalau sumpit ini luar biasa.” Pandorap tak mampu menahan rasa kagumnya. Lalu dia meminta Jonaha menyerahkan sumpit itu kepadanya. Pikir-pikir dengan sumpit itu Pandorap setiap saat gampang mendapatkan burung dari hutan. “Begini saja, Jonaha.” Pandorap kelihatan semakin serius untuk memiliki sumpit itu. “Asal sumpit ini menjadi milikku, semua hutangmu tak perlu dibayar lagi.” Mendengar kalimat seperti ini Jonaha merasa gembira di dalam hatinya. Kegembiraan itu bukan sekedar karena hutang lunas. Namun tipuannya tak pernah gagal.
Di balik tipuan itu, Jonaha juga tetap punya rasa takut. Setiap tipuannya berhasil dia selalu segera pindah ke daerah lain. Seorang ahli judi bernama si Altup juga pernah ditipunya. Awalnya Jonaha minta diajari agar selalu menang bermain judi. “Satu ilmu untuk menang bermain judi harus kamu bayar satu ringgit.” Itulah syarat yang diterima Jonaha dari si Altup. “Saya akan membayar berapa ilmu yang disampaikan kepada saya. Namun karena saat ini saya belum punya uang, genapkanlah hutang saya menjadi tiga ringgit dengan meminjamkan dua ringgit lagi. Saya akan membayarnya setelah menang bermain judi.” Jonaha meminta kepada si Altup. Dua hari sebelumnya Jonaha sudah meminjam uang dari tiga sekawan bernama si Togop, si Tukuk, dan si Tohang. Uang yang dipinjam Jonaha juga untuk modal judi. Ketiga sekawan ini termasuk jago pukul. Apalagi si Tukuk yang orangnya bisu. Dengan kepalan tangan, Tukuk mengancam Jonaha kalau tidak membayar hutangnya.
Si Altup juga termasuk yang suka memaksa kehendak. Sesuai dengan waktu yang dijanjikan dia menjumpai orang yang berhutang kepadanya.”Jonaha, ini sudah empat hari. Waktunya kamu membayar hutangmu.” Waktu itu Jonaha sedang berada di dapur sebelum menyambut kedatangan si Altup. “Jolo hundul majo hita, lae. Alangkah baiknya kita duduk dulu, lae.” Begitu awal sopan santun yang ditunjukkan Jonaha kepada si Altup. Di rumah Jonaha kelihatan sepi tanpa istri. “Di mana istrimu, Jonaha?” Si Altup mencoba bertanya. Lalu Jonaha menjawab kalau istrinya sudah seminggu membantu pengambilan panen padi Raja Kampung. “Seminggu aku terpaksa masak dengan apa adanya di rumah ini, lae.” Kata Jonaha tanpa mengira kalimat itu muncul dari mana. Kalimat berikutnya semakin lancar diucapkan. ”Seandainya istriku di sini aku akan menyuruhnya memasakkan daging lezat. Setiap hari aku selalu mendapatkan sekerat daging kalau aku mengasah pisau ke batu asahan yang diwariskan almarhum ibuku kepadaku.”
“Aneh bin ajaib. Selama ini aku tak pernah mendengar sebuah batu asahan dapat memberi sepotong daging kalau pisau diasah di atasnya,” reaksi si Altup. Dengan air muka yang dibuat-buat Jonaha semakin menemukan kata-kata jitu untuk meyakinkan. “Hanya batu asahan inilah yang diwariskan ibuku kepadaku. Sebenarnya ini sebuah rahasia. Baru kepada lae aku mengungkapkannya. Sebentar lae tunggu di sini,” Jonaha mengeluarkan sebuah gaya baru dan pergi ke dapur. Dari dapur dia kedengaran mengasah pisau dan menguc apkan kata daging berulang-ulang. “Inilah daging yang muncul dari batu asahan itu, lae. Lae bisa bawa daging ini karena saya tidak pintar memasaknya.”
Si Altup berpikir-pikir. “Kenapa tidak?” Namun dicoba keraguannya dengan menanya ulang Jonaha yang semakin pintar menyampaikan sebuah jawaban. “Aduh, lae. Tak mungkin batu asahan ini kuserahkan kepada lae untuk menebus hutang. Masalah utama bukan tidak berani memberi. Tapi kukira lae dapat lupa akan melangkahi batu asahan ini suatu saat.” Entah setan apa yang membuat si Altup bertahan ingin memiliki batu asahan itu, Jonaha semakin melancarkan ucapan dan gaya tipuan barunya. “Begini saja. Lae bisa membawa batu asahan ini dengan syarat tak bisa terlangkahi. Kalau terlangkahi, kesaktiannya kan hilang.” Si Altup semakin kesetanan setelah mendapatkan batu asahan itu dan melepaskan semua hutang Jonaha.
Beberapa saat Jonaha bergembira dalam hati karena berhasil menipu si Altup. Belum sepenuhnya kegembiraan itu tumpah dalam ketawanya, tiga sekawan sudah dating menyusul. Jonaha dianggap sudah gila karena terbahak-bahak. “Mungkin dia sudah gila karena hutangnya terlalu banyak,” kata si Tohang. “Sebelum lari mari kita tangkap dan ikat.” Ketiganya lalu mengikat Jonaha pada sebilah papan panjang sebelum menyuruhnya berjalan. “Mana mungkin aku bisa jalan dengan terikat begini,” jawab Jonaha. “Sebaiknya kalian lepaskan saja aku agar bisa berjalan ke tempat yang kalian inginkan.” Ketiga sekawan itu sudah sepakat untuk menjual Jonaha. Mereka tak mau melepaskan Jonaha dari papan ikatan itu. “Kalau begitu kalian angkat saja aku ke tempat penjualan manusia biar aku benar-benar tak bisa lari,” lanjut Jonaha. Ketiganya pun terpaksa mengangkat Jonaha. Namun di tengah jalan ketiganya terasa capek dan kehausan. Mereka menurunkan Jonaha dan mengikatnya ke batang pohon sebelum mencari-cari sumber air. Senyum kembali mulai muncul dari wajah Jonaha. Seorang penduduk kampung bernama si Bindoran melihat Jonaha terikat. Lalu Jonaha didekati. “Kenapa kau terikat di sini, Jonaha?” Lalu Jonaha dengan lihai berpura-pura sedih. “Aku tidak tahu bagaimana caranya lari dari sini. Tiga pesuruh raja mengikatkan aku di sini karena aku tak mau menikah dengan putrid raja. Seperti yang engkau tahu aku sudah punya istri. Tak mungkin aku mempunyai dua istri.”
Si Bindoran adalah seorang duda yang sudah lama ditinggal mati istrinya. Bagi dia pengakuan Jonaha menjadi semacam jalan terang. Dia tanpa bertanya-tanya bersedia menggantikan Jonaha diikatkan. “Aku harap lae dapat berbahagia dengan putri raja dan menggantikan aku. Namun aku masih berharap agar lae memberi beberapa ringgit untuk modalku pergi dari kampung ini.” Si Bindoran tidak susah-susah menyerahkan ringgit yang dimilikinya. Sejak itu Jonaha pergi ke daerah lain yang menurutnya aman dan melancarkan kebiasaannya bermain judi serta menipu.
Kabar terakhir Jonaha sudah menjadi seorang tuan tanah di sebuah kampung. Semua tanah yang dimilikinya terkait dengan penipuannya. Dengan kekayaan dia bisa memerintah orang. Suatu ketika pada musim durian, beberapa penduduk diperintahkan jangan terlalu subuh memungut durian-durian yang terjatuh dari pokoknya. “Semalam saya bermimpi bertemu dengan harimau. Harimau itu berpesan kepadaku agar kalian jangan melakukan seperti yang kuperintahkan barusan.” Beberapa hari penduduk itu melaksanakan perintah Jonaha. Beberapa hari kemudian mengabaikan larangan itu mencari durian pada subuh hari. Apa yang diperintahkan Jonaha mulai mereka langgar. “Kita tak pernah lagi menemukan sebiji durian setelah subuh.” Penduduk sangat geram mengeluarkan kegelisahannya. Subuh hari setelah beberapa hari mereka ramai-ramai mengendap ke sekitar pokok durian itu. Mereka perhatikan ada bunyi langkah dengan perlahan. “Ssst, mungkin itu bunyi langkah harimau. Hati-hati.” Mereka saling mengingatkan. Semakin mereka perhatikan bunyi langkah itu semakin terasa seperti langkah manusia. Seseorang mencoba memastikan. Rupanya orang yang melangkah itu kelihatan seperti Jonaha. Jonaha mulai memunguti durian-durian yang berjatuhan. Tidak seberapa lama ada pula bunyi langkah yang agak aneh. Tiba-tiba suara teriakan Jonaha meledak. “Tolong, tolong! Aku diterkam harimau!” Semua penduduk di sekitar pohon durian itu mendengar suara Jonaha dengan jelas. Harimau benar-benar menerkamnya. Penduduk sebagian berlari ke kampung dan sebagian lagi mencoba bersembunyi sampai yakin kalau harimau itu sudah pergi. Keluar dari persembunyian mereka mendekat ke arah mayat Jonaha. Kepala Jonaha hampir lepas karena bagian tengkuknya tepat menjadi sasaran utama harimau. Kabar itu tersebar ke seluruh pelosok kampung. Jonaha penipu ulung itu akhirnya mendapat ganjarannya dengan terkaman harimau.
*Ditulis berdasarkan sejumlah versi (Karo, Simalungun, Toba) dan sudah dicoba menjadi sample cerita untuk Simulasi Pelatihan Opera Batak oleh PLOt di Siantar, 31 Nopember 2008. Cerita dikonstruksi berdasarkan teks pertunjukan terbaru.

Diterbitkan di:  on Mei 22, 2009 at 5:31 am Tinggalkan sebuah Komentar

cerita “siboru tumbaga”

SIBORU TUMBAGA*
Oleh: Thompson Hs
E-mail: thompsonhs@ymail.com

Di desa Sisuga-suga tinggallah seorang tua bernama Ompu Guasa. Dia mempunyai seorang adik bernama Amani Buangga. Namun sang adik tidak seperti abang yang sudah lama memiliki banyak harta. Konon pada masa mudanya Ompu Guasa rajin berniaga ke daerah Barus serta banyak kenalan. Sekarang uban mulai menjadi mahkota di kepalanya. Sehari-hari pun sudah lebih suka berdiam di rumah untuk merenungkan perjalanan hidup. Tiba-tiba beliau teringat kembali kalau belum memiliki seorang anak lelaki untuk mewarisi semua hartanya. Istrinya pun sudah lama meninggal. Dua putrinya, bernama Siboru Tumbaga dan Si boru Buntulan, tak mungkin mewarisi semua harta kelak. Adat selama ini seperti memastikan hak waris hanya dapat diteruskan oleh anak laki-laki. Kenyataan itulah yang sering membuat Ompu Guasa gelisah meskipun adiknya mempunyai keturunan laki-laki.
Kegelisahan ompu Guasa sangan tekesan dalam batuknya. Namun selalu beliau menyembunyikan perasaan dengan mengambil salohat. Alat musik dari bambu itu selalu diselipkan di kantong baju dan dilap sesekali dengan selempangnya, sehelai ulos ragihotang. Jemarinya menekan-nekan empat lobang jenis seruling itu sampai perasaannya dapat terbenam.
“Among,” kedua putrinya sebentar menghentikan tiupannya karena mau permisi, “kami pergi dulu ke sawah. Ayah tinggal di rumah sajalah ya.”
“Ya, berangkatlah kalian!” jawabnya sebelum melekatkan alat musik itu kembali ke bibirnya. Sendirian di rumah, Ompu Guasa nampaknya akan lebih leluasa memainkan salohatnya samapi terkadang seperti ratapan. Ratapannya memang menjadi tersimpan rapi dalam permainan alat musik itu. Beliau tidak pernah mampu meratap dengan andung karena tidak pintar berkata-kata.
Belum tuntas semua kegelisahan, kedua putrinya tiba-tiba kembali ke rumah. Mereka terusik dan tak tahan di tengah jalan mendengar senandung seorang gembala. Sebenarnya mereka ingin meneruskan langkah sampai ke sawah. Namun hati Siboru Tumbaga langsung seperti disayat sembilu setelah mendengar senandung itu.
“Kenapa kalian kembali tiba-tiba,boruku?” dilihatnya sedikit rasa cemas di wajah putri sulungnya Siboru Tumbaga. Demikian pada wajah Siboru Buntulan, adik satu-satunya Siboru Tumbaga.
“Begini among. Kami sangat berharap agar ayah segeralah menikah lagi,” tandas Siboru tumbaga. Ompu Guasa menduga kalau kegelisahannya selama ini mengalir dalam permintaan kedua putrinya itu. Namun beliau masih mencoba menolak.
“Mana mungkin aku dapat menikah lagi setua ini. Mataku pun sudah mulai rabun. Perempuan mana lagi yang bersedia dapat kuperistri, wahai putriku? Sudahlah! Biarlah kuterima nasibku.”
“Kumohonkan, among. Jangan lagi menolak permintaan ini. Tadi sebelum mendadak kembali ke rumah ini, ada seorang gembala melantunkan lagu bergini: Duhai, perahu di tengah danau! Andai dayungmu patah, kemana gerangan engkau hanyut? Wahai, sang putri yang gemulai. Andai ayahanda mati, kemana gerangan engkau berpaut! Begitulah yang kami tangkap, among!”
“Sudahlah. Kalau takdir pada badan sudah begini diberikan Sang Mukajadi Nabolon, aku tetap bisa menerimanya.” Entah kesekian kalinya Ompu guasa mencetuskan perkataan itu di hadapan kedua putrinya. Namun kerena Siboru Tumbaga tetap mendesakkan permintaan, akhirnya Ompu guasa bersedia. “Kalau begitu terserahmulah, Boru Tumbaga kalau aku harus menikah lagi. Lakukanlah apa yang bisa engkau lakukan.”
Mendengar perkataan terakhir itu, Siboru Tumbaga tergerak untuk berangkat ke Barus. Di Barus ada seorang dukun bernama Datu Partungkot Bosi. Sang dukun sudah lama terkenal dengan berbagai keahliannya untuk meramalkan sesuatu. Datu Partungkot Bosi juga ahli tersohor di wilayah barat negeri yang menguasai debata ni parmanukon, semacam peta baik-buruk untuk sesuatu yang direncanakan. Dari desa Sisuga-suga ke Barus akan melalui hutan dan tempat-tempat berbahaya bagi kaum perempuan. Kemudian Siboru Tumbaga melakukan penyamaran seperti lelaki. Dipilihnya salah satu pakaian dari lemari ayahnya dan dilengkapi dengan topi. Satu lagi dia tidak lupa menggunakan kumis palsu. Sampai kebetulan ketemu di tengah hutan dengan Datu Partungkot Bosi, Siboru Tumbaga selalu berusaha menciptakan gerak-gerik menyerupai seorang laki-laki suruhan. Terkadang dia ketakutan juga dengan penaymarannya.
“Bah, lae! Kenapa kau ketakutan melihatku?” tiba-tiba dari seorang lelaki dihadapannya. “Kita tidak kebetulan sama-sama manusia juga di tengah hutan ini. Kenapa engkau kelihatan takut?”
“Kuucapkan salam kepadamu, lae. Horas!” Balas Siboru Tumbaga ambil berusaha menirukan suara lelaki. “Kebetulan aku hendak ke negeri Barus menemui Datu Partungkot Bosi.”
“Kuharap kau jangan berpura-pura tidak mengenalku. Akulah Datu Partungkot Bosi. Lalu kenapa engkau memerlukanku?” Siboru Tumbaga sempat tidak percaya kalau yang dijumpa di tengah hutan itu adalah Datu Partungkot Bosi. Namun dengan melihat tampangnya yang serupa dengan cerita Ompu Guasa, Siboru Tumbaga mengakui dirinya sebagai suruhan Ompu Guasa. Rupanya Ompu guasa adalah sahabat lama Datu Partungkot Bosi.
Datu Partungkot Bosi tidak begitu sulit menduga hal-hal baik dan buruk melalu debata parmanukon. Datu Partungkot Bosi benar-benar melihat tanda ajal dari sahabat lamanya itu. Lalu disarankan kepada Siboru Tumbaga gar melarang Ompu Guasa ke luar rumah dalam waktu seminggu. Namun karena Ompu Guasa suatu hari berkeras mau memeriksa awah dan hewan peliharaannya, ramalan Datu Partungkot Bosi itupun terjadilah. Beberapa orang penduduk yagn melihatnya tergelincir di pinggir sawah tergesa-gesa memberi kabar kepada kedua putri yang sedang membersihkan sekeliling rumah. Namun sampai di rumah nampaknya Ompu guasa tidak lama lagi menghembuskan nafas terakhir sebelum menyampaikan pesannya.
“Boru Tumbaga dan Boru Buntulan, simpanlah barang-barang berharga untuk kalian berdua. Bayangan ibumu sudah sangat dekat untuk men…jem…putttku.”
pilu yang sangat mendalam akhirnya memperkuat tangisan Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan. Ditambah lagi ratapan dari beberapa orang di dalam rumah, penduduk lain desa Sisuga-suga bergegas menuju arah tangisan. Saru-satunya manusia yang menahan dirinya tidak bergegas ke sana adalah Amani Buanga. Dia baru ke sana setelah dijemput.
Melewati pintu rumah yang sedang berduka itu, Amani Buanga sengaja berpura-pura mengatakan “Bah! Apakah ayahmu ini sudah betul-betul meninggal?” Sambil diarahkanny kepada Siboru Tumbaga. “Sekarang ayahmu sudah meninggal, Boru Tumbaga dan Boru Buntulan. Di mana kalian simpan semua harta itu?” Tentu bukan saja kedua putri itu terkejut dnegan perilaku Amani Buanga. Salah seorang tetua kampung mencoba mengingatkan agar Amani Buangga berpikir duluan untuk melaksanakan adat penguburan jasad Ompu Guasa

*diambil dari cerita garapan opera batak yang pernah dipentaskan grup opera silindung (gos) di beberapa kota dari tahun 2003 sampai 2005.

Diterbitkan di:  on at 5:08 am Tinggalkan sebuah Komentar