OMPU BORNOK DAN REGENERASI OPERA BATAK DI SEMINARI MENENGAH*

Oleh: Thompson Hs**            

Kalangan Katolik yang berasal dari Tanah Batak atau khususnya Samosir, tidak akan terlalu sulit mengenal Ompu Bornok. Sebelum nama ini terkenal di kalangan Katolik, bisa saja diduga kalau yang disebut Ompu Bornok hanya sebuah gelar alami dan khusus menurut tradisi Batak atau karena nama cucu sulungnya kebetulan bernama si Bornok. Namun sosok Ompu Bornok yang dimaksud dalam catatan ini adalah Diego van den Biggelaar, seorang pastor kelahiran Liempde (Negeri Belanda) yang tiba di Tanah Batak pada bulan Januari 1935 untuk melakukan tugas misi lewat Ordo Kapusin. Setelah menginjakkan kaki di Balige pada tahun itu juga, beliau langsung belajar bahasa dan adat Batak. Kemudian pada Maret 1936 mulai memasuki daerah Samosir serta mengawali pos tinggalnya di Huta Simbolon.           

Waktu itu kunjungan dan keliling masih dilakukan di Samosir dengan berjalan kaki. Selama perjalanan kaki menuju desa-desa, cuaca harus ditembus. Hujan dan panas matahari dibayangkan dapat membasahi badan. Mungkin demikian juga pengalaman Pastor Diego van den Biggelaar. Basah keringat dari perjalanan kaki itu diperkirakan menjadi awal sebutan Ompu Bornok bagi Pastor Diego van den Biggelaar. Mungkin penduduk yang menyambutnya selalu melihat pastor itu sampai di desa mereka dalam keadaan basah oleh keringat. Merujuk pada kata bornok (dalam bahasa Batak Toba) yang berarti berair, lembab, basah, lengas, tergenang, maka latar belakang sebutan Ompu Bornok itu bersifat alami dan khusus. Namun menurut catatan Pastor Leo Joosten (2005 : 165), sebutan Ompu Bornok merupakan gelar kehormatan yang diberikan masyarakat Samosir karena peristiwa hujan turun setelah kemarau panjang. Hujan turun lebat dan lama setelah sepuluh menit selesai doa dipanjatkan sang pastor. Pastor itu memang sangat pandai berbahasa Batak dan menjadi Batak bersama orang Batak (R. Kurris, SJ., 2006 : 49)           

 Lantas, apa hubungan Ompu Bornok dengan Opera Batak? Tentu saja hal ini menjadi bagian yang menarik setelah Opera Batak digali kembali. Penggalian kembali Opera Batak dilakukan di Tarutung sejak akhir Agustus 2002. Metode penggalian itu melalui sebuah pelatihan yang diikuti 20 peserta dari generasi muda yang sama sekali tidak mengenal bentuk seni pertunjukan ini. Seminggu waktu pelatihan diisi dengan jadwal yang padat mulai pagi hari sampai menjelang tengah malam. Sehingga dapat menghasilkan pertunjukan simulasi dengan membawa teks cerita “Siboru Tumbaga”. Garapan dan cerita itu kemudian mendorong munculnya grup percontohan bernama Grup Opera Silindung (GOS) yang sempat melakukan sejumlah pementasan Opera Batak di beberapa tempat seperti (Tarutung, Laguboti, Medan, dan Jakarta). Dengan pementasan-pementasan GOS, Opera Batak diperkirakan sudah mulai bangkit kembali. Pementasan di beberapa tempat lain pun mulai terpicu. Hingga TVRI Sumut pada tahun 2004 terpancing membuat suatu program Opera Batak Metropolitan sampai 33 episode dengan cerita-cerita terbaru dan melibatkan sejumlah mantan pemain Opera Batak terdahulu.            

Kebetulan saya terlibat membuat beberapa judul cerita dalam garapan TVRI itu, di samping menjadi pelatih dan pengarah artistik untuk persiapan syuting. Di luar kesibukan syuting-studio, saya sempat bikin wawancara dengan para mantan pemain itu. Di antara mereka ada yang bernama Alister Nainggolan, Meri Silalahi, Martua Sitohang, Marsius Sitohang, Erlina Silaban, dan suatu ketika Rosmala Sitohang. Dari Nama terakhir itulah saya mendapatkan informasi kalau Opera Batak terkait dengan Ompu Bornok. Menurut pengakuan Rosmala Sitohang, penamaan Opera Batak berasal dari seorang pastor yang namanya tidak begitu jelas pengucapannya. Namun nadanya hampir mirip dengan “:Biggelaar”. Setelah ditanya soal tahun penamaannya, Rosmala memberi gambaran sekitar tahun 1930-an   semasa aktif ayahnya, almahum  Dahri Uhum Sitohang. Katanya, Dahri Uhum Sitohang langsung mendengar ucapan Opera Batak dari sang pastor sebagai gambaran kesan untuk bentuk pertunjukan yang muncul ketika itu. Memang di Samosir sejak tahun 1920-an sudah mulai muncul nama Tilhang Parhasapi dengan perkembangan bentuk pertunjukan kelilingnya. Tilhang Parhasapi ini terkait dengan nama Tilhang Gultom, kelahiran Sitamiang Samosir dan pimpinan Seni Ragam Indonesia (Serindo) yang populer sampai tahun 1970-an.           

Mungkin Pastor “Ompu Bornok” Diego van den Biggelar beberapa kali sudah memperhatikan bentuk pertunjukan keliling itu selama bertugas dua tahun di Samosir. Lalu beliau mengaitkan istilah opera yang ada di Eropa karena unsur gabungan musik dan tarian serta ditambah lakon cerita  dalam pertunjukan keliling berciri khas Batak. Maka lengkaplah kesan itu dengan penamaan Opera Batak. Namun maksudnya mungkin hanya “Opera Gaya Batak”.Yang dimaksud dengan opera di daratan Eropa adalah drama yang dinyanyikan. Pemain opera memainkan sebuah drama setelah digarap secara musikal dan gaya tarian. Keterkaitan musik/nyanyian, tarian, dan lakon dalam keseluruhan pertunjukan selalu terkait dan menyatu. Bukan sebaliknya, seperti yang terjadi dalam Opera Batak. Unsur-unsur yang dimainkan dalam Opera Batak tidak terkait satu sama lain. Masing-masing dapat dianggap berdiri sendiri dari sisi penceritaan atau alur. Namun ada kalanya lagu-lagu tertentu dicipta untuk menguatkan cerita, seperti yang pernah ada dalam pertunjukan “Siboru Tumbaga”.            

Kenyataan kemudian menyangkut penamaan Opera Batak sempat menjadi termin belaka. Masuknya penjajahan Jepang mengubah bentuk pertunjukan itu dengan penamaan Tonil Asia. Namun penamaan itu diperkirakan untuk mendukung penguatan kepada pihak Nippon. Bentuk pertunjukan itu juga diisukan menjadi alat propaganda melawan kolonialis Belanda. Bahkan semua yang berbau Belanda pada masa Jepang berusaha “diinternirkan”. Setelah kolonial Jepang hengkang penamaan Opera Batak itu ternyata digunakan lagi sebagai suatu arus utama (mainstream) bagi pertunjukan serupa dengan variasi-variasi grup Opera Batak yang muncul mencapai 30-an nama selain Serindo. Sampai awal tahun 1980-an semua grup Opera Batak masih sempat bertahan meskipun kapasitas pertunjukannya sudah mulai tergeser oleh faktor-faktor seperti pertarungan media, masalah regenerasi, dan faktor politik/budaya/sosial/ekonomi. 

Opera Batak Singgah ke Seminari Menengah           

Penggalian dan Regenerasi Opera Batak melalui Grup Opera Silindung sudah menjadi tanggungjawab Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara. Sebagai kabupaten induk, yang pernah mencakup wilayah kultur kebatakan, Tapanuli Utara mendapat rekor sebagai pemicu penggalian sebelum diikuti Kabupaten Tobasa dan Samosir. Untuk meneruskan program penggalian, Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) diadakan di Siantar sejak September 2005. Beberapa produksi pertunjukan Opera Batak sudah dilakukan dan difasilitasi PLOt, di antaranya: Sipiso Somalim, Sipurba Goring-goring, Srikandi Boru Lopian, dan cerita-cerita terbaru lainnya. Sekretariat PLOt yang terletak di Jalan Lingga No.1 Siantar tidak sulit untuk dijangkau. Dipilihnya tempat itu agar proses lanjutan penggalian dapat didukung berbagai pihak. Namun pada Oktober 2006 pihak Seminari Menengah mulai mengetahui perihal itu. Awalnya saya diminta menjadi pelatih ekstra drama setiap hari Jumat sore. Sejak itu saya membagi perhatian dan penyesuaian di luar pengoperasian PLOt kepada Seminari Menengah dan jadwal-jadwal melatih  di beberapa tempat dan kesempatan lainnya. Dua produksi pertunjukan drama di Seminari Menengah merupakan buah perhatian dan penyesuaian itu sebelum bulan Februari 2007 direncanakan satu produksi Opera Batak dengan pilihan kepada cerita “Guru Saman”. Sebelumnya ada tawaran agar cerita “Siboru Tumbaga” yang dipersiapkan.           

Pilihan terhadap cerita “Guru Saman” didasarkan pada dua hal. Pertama, potensi pemeranan dan situasi siswa-siswa seminari menengah. Potensi pemeranan  “Guru Saman” membutuhkan pemain laki-laki. Jadi, pas dengan potensi di Seminari Menengah. Cerita “Guru Saman” sekaligus menjadi nama salah satu tokoh utama dalam garapan ini. Dia adalah seorang turunan Lau Balang (Tanah Karo), yang mendapat ilmu hitam, kebal, dan ilmu silat dari seorang guru kebatinan. Semua ilmunya itu menjadi modal pergi ke mana-mana untuk membunuh manusia yang dipesankan atau tidak disukainya. Selain membunuh didukung dengah hobby main judi dan ke kedai tuak. Setelah beberapa waktu pergi ke Sipahutar, daerah Tapanuli Utara, dia lakukan juga pembunuhan kepada seorang pelayan gereja yang bernama Guru Martin, sekaligus dengan Klara, istri yang sedang berbadan dua. Pembunuhan dilakukan atas desakan Hermanus, kepala desa Sipahutar dan bekas murid Guru Saman. Seminggu sebelumnya Hermanus sekeluarga sempat menyerang Guru Martin saat pasca ibadah gereja. Hermanus merasa tersinggung karena uang pembangunan gereja yang digunakan selama ini disinggung tiba-tiba dalam pertemuan itu. Ketersinggungan itu akhirnya dibawa pulang ke rumah dan menjadi motif kemarahan Guru Saman dan rencana pembunuhan tepat pada Sabtu malam.           

Hal kedua, potensi penceritaan “Guru Saman” yang tidak lagi menyulitkan secara teknis penyutradaran. Dua kali setelah program penggalian Opera Batak, saya sudah terlibat mengarahkan produksi “Guru Saman” yang dimainkan secara gabungan oleh sejumlah pemain pemain Opera Batak terdahulu dengan aktor-aktor Padang Bulan Teater. Namun kesulitan awalnya mungkin bagi siswa-siswa seminari menengah adalah dialog cerita yang 80 persen menggunakan Bahasa Batak dan dialek Toba. Meskipun Guru Saman berasal dari Tanah Karo, nampaknya dialek Toba itu sungguh dikuasainya. Sisa hitungan persen dialog itu menggunakan Bahasa Indonesia dan cuilan kata-kata tertentu dari Bahasa Karo. Menghafal dan memahami dialog-dialog dalam cerita “Guru Saman” menjadi perjuangan utama bagi semua pemain yang mendapat peran masing-masing. Dari hampir 30 pemain utama dalam garapan ini, 10 pemain perempuan berasal dari SMA RK Bintang Timur. Pengenalan dan pelibatan mereka atas permainan Opera Batak baru kali ini. Awal proses produksi sampai Agustus 2007 mereka masih terbentur dengan dialog-dialog yang berdialek Toba itu. Pengalaman itu terkait dengan pemahaman atas arti dan cara mengucapkan kata-kata tertentu dan sudah jarang digunakan. Sebagian pemain yang berasal dari daerah Toba menjadi prasyarat mendapatkan peran tertentu. Namun potensi bahasa Bataknya juga tidak lagi selalu memadai. Jadwal-jadwal latihan pun harus ditambah di luar jam ekstra drama yang hanya 1,5 jam. Hasilnya pun semakin meningkat. Waktu untuk ekstra dan jam tambahan menjadi waktu untuk produksi Opera Batak “Guru Saman”. Semua pemain benar-benar serius dan mendapat pengalaman baru dalam bermain drama. Setiap jadwal latihan, saya pun selalu mulai terbayang dengan Ompu Bornok.     

*Tulisan ini dipersiapkan sebagai catatan penyutradaraan untuk pentas Seminari Menengah Pematangsiantar, di Gedung Aula Universitas HKBP Nomensen Siantar28 Oktober 2007 dan di Balai Tiara Medan 25 November 2007.

**Dramaturg, dan saat ini menjadi Direktur Artistik PLOt.

Diterbitkan di: on Maret 22, 2008 at 3:34 pm Komentar (3)

MEMBANGUN OPERA BATAK BERSAMA PLOt

Oleh: Thompson Hs*

Orang Batak di wilayah Sumatera Utara sejak 1920-an sampai akhir 1980-an pasti masih mengenal seni pertunjukan Opera Batak. Gaya seni pertunjukan ini muncul dalam situasi transisi kebudayaan yang ditandai oleh upaya mempertahankan tradisi dan masuknya pengaruh dari luar. Unsur-unsur tradisi dalam Opera Batak dapat dikenal melalui instrumen musikal seperti taganing, ogung, hasapi, sarune, dan hesek. Ensambel musikal ini secara umum dikenal dengan gondang. Namun sebutan gondang itu juga dapat merujuk kepada suasana ritual dan jenis repertoar yang dimainkan. Apabila dikaitkan lagi dengan konteks ritualnya, gondang terbagi menjadi gondang sabangunan dan gondang uning-uningan. Gondang terakhir kelihatannya lebih menonjol penggunaannya dalam pertunjukan Opera Batak ditambah dengan seruling yang bernada diatonis dan tidak bisa dianggap sebagai bagian dari tradisi asli Batak.

Selain instrumen musikal, tarian Batak dengan sebutan tortor, juga masih ditemukan dalam Opera Batak. Pola gerak tarian Batak biasanya bersifat minimalis dan perkembangan secara maksimal dikenal melalui tumba. Tortor dan tumba dapat mengawali, mengantarai, dan mengakhiri alur pertunjukan dengan iringan musikal atau vokal. Khusus mengenai vokal dalam tradisi Batak dapat diketahui jenisnya melalui istilah andung dan ende. Andung biasanya dilakukan tanpa iringan instrumen musikal dan dipahami sebagai bentuk ratapan. Sedangkan ende merupakan lagu atau nyanyian yang bersifat hiburan dan cerminan untuk berbagai suasana tertentu. Di dalam Opera Batak, lirik-lirik ende terkadang masih disertai dengan pantun-pantun Batak dan perumpamaan yang bernama umpasa dan umpama. Satu lagu berjudul Oli-Oli Tumba dapat dikutip salah satu liriknya: lelengma di parlelengan lalapma diparlalapan/ndang sahat tu tujuan sai diporalang-alangan/arian sai marsak borngin i marangan-angan/nang di rondang ni bulan martukkol isang di alaman/ oli-oli tumba, ito…. (betapa lama di ruang waktu betapa larut di kelarutan/tak sampai-sampai ke tujuan dan selalu berhalangan/siang hari selalu bersedih malam hari berangan-angan/juga waktu purnama bertopang dagu di pekarangan/oli-oli tumba, ito….)

Unsur-unsur tradisi tersebut agaknya hanya dapat disalurkan melalui kemunculan Opera Batak. Pertunjukan ritual seperti horja bius dan bentuk-bentuk tradisi lainnya, seperti sigale-gale dan hoda-hoda, yang diiringi gondang bersama tortor sudah mulai surut dengan kedatangan kolonial, ditambah pelarangan-pelarangan kolaboratifnya. Pelaksanaan gondang di luar izin kolonialisme dianggap sebagai semangat untuk melawan atau mempertahankan situasi kekafiran. Orang Batak tidak mungkin lagi secara total dapat mempertahankan semua unsur tradisi karena ruang lama semakin dipersempit. Datangnya pengaruh-pengaruh tambahan akhirnya mendorong migrasi orang Batak ke daerah perkebunan. Dari daerah perkebunan itulah dimungkinkan masuknya pengaruh bentuk seni pertunjukan yang datang dari luar. Totalitas seni pertunjukan Opera Batak kemudian dilengkapi dengan lakon cerita dengan variasi realismenya. Dugaan mengenai aspek lakon yang melengkapi Opera Batak dipengaruhi oleh teater bangsawan di daerah Deli dan semenanjung Malaya. Grup-grup pertunjukan teater bangsawan itu juga diduga mendapat pengaruh dari wayang Parsi. Namun aspek lakon yang diserap itu disesuaikan dengan bahasa dan latar setempat. Demikian halnya dalam cerita-cerita lakon Opera Batak yang dibuat judul-judulnya seperti Siboru Tumbaga, Guru Saman, Sisingamangaraja, dan Raja Lontung untuk menyebut beberapa.

Pengaruh luar lainnya secara khusus juga sudah mulai ditunjukkan oleh penamaan Opera Batak itu sendiri. Istilah opera dikenal asalnya di daratan Eropa, terutama Italia. Opera diartikan sebagai drama yang dinyanyikan dengan gerak tariannya. Jadi keterkaitan musik/nyanyian, tarian, dan lakon dalam keseluruhan pertunjukan merupakan senyawa dan menyatu. Bukan sebaliknya, seperti yang terjadi dalam Opera Batak. Unsur-unsur yang dimainkan dalam Opera Batak tidak terkait satu sama lain. Masing-masing dapat dianggap berdiri sendiri dari sisi dramaturgi. Terkadang Opera Batak itu terkesan hanya pertunjukan variatif. Sesungguhnya penamaan Opera Batak mengandung maksud yang jelas kalau disebut dengan Opera Gaya Batak. Maksud-maksud serupa kiranya terjadi untuk Opera Peking atau yang lebih terakhir melalui idiom Opera Jawa dan Opera Melayu. Penggalian Opera Batak

Opera Batak sudah dilakukan penggaliannya beberapa kali. Namun penggalian beberapa kali itu cenderung untuk memperkuat kesan musikalnya. Ada anggapan yang terlanjur kalau pemain Opera Batak adalah para pemain musik yang menguasai intrumen musik tradisi. Sehingga para pemain yang berperan melalui aspek lakon dan tarian mendapat catatan minus. Tahun 2002 penggalian ulang dilakukan untuk semua aspek pendukungnya. Awalnya melalui kerjasama dengan pihak Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta dan Pemkab Tapanuli Utara untuk memberikan pelatihan terhadap 20 orang generasi muda di Tarutung. Dari hasil pelatihan itulah sempat muncul satu grup percontohan yang dikenal dengan nama Grup Opera Silindung (GOS) dan sudah sempat melakukan pementasan Opera Batak di sejumlah tempat seperti Tarutung, Sipoholon, Medan, Jakarta, Laguboti, dan Siantar.

Tahun 2005 dilakukan pengembangan revitalisasi itu dengan ide membuka Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematangsiantar. Ide ini mulai dilaksanakan sejak 12 September 2005 atas dorongan Sitor Situmorang (Apeldoorn, Belanda) dan Lena Simanjuntak (Koeln, Jerman). Awal operasional PLOt terutama memberikan fasilitas tempat latihan, manajemen, pelatihan, kerjasama produksi, dan motivasi penggalian budaya. Sampai tulisan ini dibuat kegiatan-kegiatan yang terkait dengan PLOt adalah sebagai berikut.

a. Pelatihan Akting bersama Azuzan ZG, November 2005.

b. Pentas Opera Batak Sipiso Somalim di Balige, 27 Desember 2005 kerjasama dengan Bainfokom Sumatera Utara.

c. Pentas Opera Batak Sipurba Goring-Goring di Balige, 11 Maret 2006 kerjasama dengan Pemkab Tobasa.

d. Memfasilitasi Pentas Keliling “Black Box” Teater Prung Bandung di tiga Tempat (Medan, Siantar, Tuktuk Samosir), 26 Mei – 3 Juni 2006

e. Diskusi dan Pra Pementasan Peringatan 100 Tahun Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII bersama Sitor Situmorang, Barbara Brouwer (Belanda) dan Lena Simanjuntak (Jerman) di Pematangsiantar, 16 – 17 Juli 2006

f. Diskusi dan Pembacaan Koreografi Antologi Puisi “TULIS!” Saut Sitompul (almarhum) di Siantar, 12 September 2006

.g. Memfasilitasi Perayaan Anti Korupsi bersama JAK-SS di Pematangsiantar, Sabtu 9 Desember 2006

h. Diskusi Hak dan Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam Temu Seni dan Budaya Siantar bersama Prof. Dr. Peter Jaszi (USA), Dr Jane Anderson (Australia), Ignatius Haryanto (LPS – Jakarta), dan Riyaldi Siagian (Jakarta) di Pematangsiantar, 31 Januari 2007

i. Pentas Mini Opera Batak “Paima marmutik Kopi” dalam Pembukaan Pameran Karya Togu Sinambela di Galeri Tondi Medan, 7 April 2007

j. Pentas “Si Purba Goring-Goring” pada Malam Budaya dalam Perayaan Peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan 2 Juni 2007

k. Pentas Keliling Opera Batak “Srikandi Boru Lopian” pada Perayaan Peringatan 100 Tahun Gugurnya Raja Sisingamangaraja XII di Pangururan (Samosir), Salak (Pakpak Bharat) dan Balige (Tobasa), 9 – 16 Juni 2007

l. Refleksi Peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII dan Pentas Opera Batak “Sri Kandi Boru Lopian” bersama Sitor Situmorang di Pematangsiantar, 18 Juni 2007

m. Pentas Titik Nol bersama W. S. Irawan (Seniman pengayuh Sepeda dari Mataram), kerjasama PLOt dengan Suluh dan GSM di Pematangsiantar, 30 Juli 2007

n. Pentas Monolog Reading dan Ngobrol tentang “Bangsat” di Pematangsiantar, Jumat 12 Oktober 2007.

o. Memberi database dan sutradara Pentas Opera Batak “Guru Saman”, Pematangsiantar 28 Oktober 2007 dan Medan 25 November 2007.

Rencana tiga tahun pertama operasi PLOt di Pematangsiantar membuka fasilitasi untuk upaya regenerasi. Tahun-tahun berikutnya dipersiapkan sekaligus untuk penggalian budaya Batak dengan sejumlah program kategorial seperti pelatihan, produksi, pendidikan dan pemberdayaan, media, produksi, dan penghargaan. Untuk mewujudkan rencana ini PLOt membuka kerjasama profesional kepada berbagai pihak dan pribadi agar langkah program dapat dioperasikan melalui statusnya terlebih dahulu menjadi sebuah yayasan. Sitor Situmorang, Prof. Dr. Rainer Carle. Karl Mertes, Dr. Pudentia MPSS, Dolorosa Sinaga, Prof. Dr. Riris K. Toha Sarumpaet merupakan beberapa nama yang sudah terencana melengkapi status tersebut. Selain fasilitasi di atas PLOt melakukan aktivitas kecil sehari-hari menyangkut administrasi dan pembuatan klipping di ruang sekretariatnya yang berada di Jalan Lingga No. 1 Pematangsiantar (e-mail: plot_indonesia@hotmail.com).

*Penulis adalah Direktur Artistik PLOt

Diterbitkan di: on at 2:52 pm Komentar (2)

Pasca Temu Sastrawan Sumatera 2007: YUK KE BATAM, ADA TARMIZI DAN RUMAHHITAM

Oleh: Thompson Hs            

28 – 30 Desember 2007 lalu berlangsung Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara di Medan. Dari tiga peserta yang hadir dari luar propinsi Sumatera Utara adalah Tarmizi, pendiri Komunitas Rumahhitam Batam. Dua perwakilan lainnya datang dari Nanggroe Aceh Darussalam (D. Kemalawati) dan Propinsi Bangka Belitung (Ira Esmiralda). Kalau tak salah, baru dua kali Tarmizi datang ke Medan untuk mengikuti acara sastra. Melalui kesempatan dua kali itulah terjadi pertemuan langsung menyambung kontak-kontak selama ini melalui alat komunikasi seperti ponsel dan e-mail. Sebelum acara Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara, 21 Juli 2007 lalu Tarmizi masih sempat melaksanakan Pentas Penyair 7 Propinsi di Sumatera bersamaan dengan peresmian ruang rumah baca Raja Ali Kelana di Rumahhitam, komunitas yang didirikannya pada April 2000. 15 Penyair dari tujuh propinsi di Sumatera tercantum dalam undangan acara itu. Ketujuh propinsi itu adalah Kepri (Ramon Damora, Abdul Kadir Ibrahim, Tusiran Suseno, Ayah Sultan, Hj. Aida Ismeth Abdullah, Machzoumi Dawood, Hasan Aspahani), Sumbar (Romi Zarman dan Iyut Fitra), Riau (Hang Kafrawi dan Marhalim Zaini), Sumsel (Anwar Putra Bayu), Jambi (M. Husairi), Lampung (Isbedi Stiawan), dan Sumut (Thompson Hs, yang kemudian merekomendasikan Hasan Al Banna). Bisa jadi kemudian panitia Temu Sastrawan Sumatera di Medan terpicu lagi dengan pelaksanaan acara yang di Batam itu atau karena acara lain, Sebenarnya sudah dua kali Sumatera Utara ditunjuk sebagai pelaksana pertemuan level sastra wilayah Sumatera, yakni Temu Sastrawan se-Sumatera di Bandaaceh pada tahun 1999 serta Temu dan Dialog Penyair se-Sumatera di Padang pada tahun 2003. Namun tampaknya pengorganisasian acara sastra di Sumatera Utara masih tergantung oleh suatu tawar-menawar politis antar lembaga-lembaga tertentu.Sehari sebelum pembukaan acara Temu Sastrawan Sumatera Tarmizi memberitahu dirinya kalau sudah sampai di Medan dan bertanya kapan datang untuk bergabung dengan teman-teman. Acara Temu Sastrawan Sumatera ini akhirnya masih bisa dilaksanakan atas nama Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU) dengan dana hanya  Rp. 12 Juta (Sumut Pos, 30/12) serta mengundang 71 sastrawan Sumatera Utara dan 11 sastrawan dari propinsi lain plus Hamsad Rangkuti dari Jakarta. Namun sampai pembukaan acara itu berlangsung pada malam 28 Desember 2007 sastrawan dan hadirin yang muncul hanya 50 orang (Kompas, 29/12), termasuk Tarmizi.  Tarmizi dalam agenda yang dibuka Shafwan Hadi Umri itu mewakili Propinsi Kepulauan Riau (Kepri) dan sekaligus menjadi pembicara melalui catatannya yang berjudul: Menyibak Konstelasi Sastra di Kepulauan Riau (Panitia Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara, 2007 : 287-293). Sekedar menyinggung catatan Tarmizi, dihantar kejayaan sastra lisan dan tulisan pada masa silam di Kepulauan Riau melalui peranan penulis awal dalam Kerajaan Melayu dan sejumlah nama seperti Raja Ali Haji, Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, Raja Ali Kelana dengan Rusdiah Klabnya yang menghimpun banyak penulis produktif seperti Raja Khalid Hitam, Raja Aisyah Sulaiman, Raja Abdullah, Raja Haji Umar, Raja Ahmad Tabib, Raja Haji Muhammad Said serta Raja Haji Muhammad Yunus Ahmadi. Selain nama-nama tersebut ada juga beberapa pengarang wanita, seperti Khadijah Terung, Salamah Binti Ambar, dan Badarian Muhammad Taher. Namun kejayaan sastra Melayu dalam keterkaitan nama-nama itu menjadi semacam beban sejarah bagi penulis generasi baru di Riau dan Kepri. Dengan mengandalkan buku Teks dan Pengarang di Riau oleh UU Hamidy (Cindai Wangi Publishing House, 2003) Tarmizi dalam catatannya kembali menekankan perihal kegemilangan para penulis Melayu tersokong oleh faktor kekuasaan waktu itu hingga naskah-naskah mereka terpelihara dengan baik dan menjadi manuskrip yang bernilai tinggi. Mereka sangat jauh berhasil dan belum tertandingi oleh para penulis Riau dan Kepri pada zaman modern ini.Terkait dengan konstelasi bersastra saat ini di Kepri, fasilitasi lembaga-lembaga legal belum memadai untuk mendukung para penulis. Di Kepri sendiri ada sejumlah nama yang cukup mencuat  ke permukaan dan konsisten sejak tahun 1990-an, di antaranya: Hasan Aspahani, Tusiran Suseno, Huesnizar Hood, Mazoumi Dawood, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, Abdul Kadir Ibrahim, Junewal Lawen Muchtar, Liza Ang, Nuraini, Nurul F. Huda, Aisyah Sulaiman, Hj. Suryatati A. Manan. Namun belum ada karya monumental yang dianggap lahir dari keterwakilan para penulis di Kepri.  

Tarmizi dan Rumahhitam

            Lanjutan Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara ditawarkan pelaksanaannya ke Batam dan Pematangsiantar atau Padangsidimpuan (Tapsel) untuk tahun 2008. Kelihatannya dalam bincang-bincang informal, Tarmizi tidak keberatan menerima rekomendasi itu meskipun sempat merasa keterwakilan propinsi yang tidak hadir perlu untuk keputusan itu.  Apakah keterwakilan empat (4) propinsi yang ada dalam Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara sudah bisa memutuskan kelanjutan agenda di tempat lain? Mungkin demikian pertanyaannya. Hal lain nampaknya perlu diketahui menyangkut jebakan tafsir Sumatera sebagai geopolitik sastra atau hanya sekedar regio kreativitas. Selesai tafsir itu juga masih mungkin muncul tumpang tindih lain dengan agenda seperti Temu Penyair se-Sumatera, Jawa, dan Bali yang pernah terlaksanakan di Lampung tahun 1996. Satu jadwal lagi adalah pelaksanaan Temu Sastra Indonesia, diputuskan melalui Forum Sastra Festival Kesenian Yogya (FKY) XIX/2007 yang akan berlangsung di Propinsi Jambi tahun 2008 ini. Namun sampai tulisan ini dibuat, jadwal keputusan di Jambi belum dikabarkan. Malahan yang sudah lebih dulu adalah undangan Panitia Kongres Komunitas Sastra Indonesia yang berlangsung di Kudus, Jawa Tengah 19 – 21 Januari 2008.Lanjutan Temu Sastrawan Sumatera itu benar-benar direkomendasikan ke Batam dan Temu Sastrawan Sumatera Utara ke Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan (Metro Tapanuli, 8/1). Menurut Tarmizi kelanjutan itu direncanakan akan berlangsung pada 1 – 7 April 2008 bersamaan dengan pelaksanaan acara Batam Art Festival yang sudah diadakan sejak 2004.  Maksud tulisan ini pada awalnya bukan untuk mengusut persiapan pelaksanaan acara itu, kecuali hanya ingin menduga semangat Tarmizi dan Komunitas Rumahhitam yang terus berkembang dalam pimpinannya. Dugaan ini ternyata tidak cukup dengan dua kali pertemuan langsung di Medan. Ada tiga sumber yang digunakan untuk konstruksi dugaan itu, yakni terbitan panitia Temu Sastrawan Sumatera dan Sumatera Utara, 2007. Kemudian salah satu tulisan A. Rahim Qahar yang pernah dimuat di Harian Medan Bisnis dengan judul: Rumah Baca di Rumahhitam serta buku Pasar Seni Batam (4 tahun komunitas seni rumah hitam dan sejumlah sajak) terbitan Yayasan Pusaka Riau, Pekanbaru 2004.             

Tarmizi dengan Komunitas Rumahhitam-nya merupakan senyawa yang sudah sejak 1994 mengidentifikasi perlunya kehidupan seni di Batam. Seperti dalam catatan Hasan Aspahani, “tarmizi adalah rumahhitam, rumahhitam adalah tarmizi.” Kelahiran kota Rumbai 21 Juli 1973 ini adalah alumnus Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Padang tahun 1993 dan berangkat ke Batam setahun kemudian untuk memasuki dunia kerja. Namun dari ribuan perusahaan di Batam tak satupun menerima ajuan lamarannya. Sehingga sempat menjadi pekerja bangunan, jualan asongan, jualan es buah sampai membuka usaha kerajian dan lukisan di Pasar Sungai Harapan, Sekupang Batam. Namun perhatiannya terhadap seni dan kebudayaan tidak dikesampingkan dalam hijrah pertamanya itu ke Batam. Diakui kalau pernah bergabung dengan Sanggar Seni Parak Tingga, Sangga Garminah sebelum minatnya muncul untuk melanjut ke Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang; meskipun hanya satu tahun (1998-1999). Setelah itu Tarmizi berani kembali ke Batam dengan intergritas yang baru untuk mewujudkan mimpinya dengan melakukan kunjungan dan dialog terhadap sejumlah penggiat seni di Batam. Dengan hijrah keduanya inilah Tarmizi merasa enteng melakukan gerakan kesenian di Batam dari menggagas munculnya Dewan Kesenian Batam (DKB) dengan Perkemahan Seniman Batam (PSB) sebagai pemicunya dan Perkampungan Bulang 2000 sebagai tanda sambutan kongkret terhadap dirinya di Batam.           

 Dalam hitungan tahun 2000 itu jugalah muncul upaya untuk membuat komunitas yang terkait dengan situasi urban di Batam. Sebuah Komunitas Rumahhitam didirikan awalnya di daerah Batuaji Batam pada April 2000. Namun karena tempat itu merupakan lokasi Perumahan Binnah Ummah yang didirikan kemudian akhirnya komunitasnya tergusur seperti rumah-rumah liar dan dianggap illegal waktu itu di Batam. Kemudian Tarmizi mencoba menyewa rumah di kawasan Bukit Beruntung. Di kawasan terakhir inilah Tarmizi seperti memperoleh keberuntungan dari Drs. H. Ismeth Abdullah, waktu itu pimpinan Otorita Batam dengan memberikan hak pakai tanah kurang lebih 3 hektar. Dari kesempatan inilah Tarmizi dapat mengembangkan Komunitas Rumahhitam hingga saat ini tanpa gangguan lahan bersama teman seperti Faisal Amri. Lokasi komunitas itu tepatnya terletak di Jalan RE Martadinata, Sekupang atau depan Gedung Beringin Batam. Sejumlah program dan kegiatan, dari rutin sampai tahunan, diakui semakin leluasa dilakukan  setelah komunitas mulai mendapat bantuan fasilitas dan hibah dari Otorita Batan dan Pemerintah Propinsi Kepri; termasuk tradisi Rumahhitam Award dan Batam Art Festival yang akan berlangsung kembali bersama agenda Temu Sastrawan se-Sumatera 2008.                        

 *Penulis, sutradara teater, dan Direktur Artistik PLOt Siantar.

Diterbitkan di: on at 2:29 pm Komentar (1)

SIBORU DEAK PARUJAR*

Oleh: Thompson Hs            

Ktuk… ktuk… ktukktuk! Tiba-tiba Siboru Deak Parujar menghentikan alat tenunnya. Pekerjaan sehari-hari Siboru Deak Parujar memang lebih banyak bertenun. Selain bertenun, terkadang merasa lelah karena duduk berlama-lama menyelesaikan tenunannya. Namun untuk melepaskan rasa lelah dia pergi ke bawah  pohon Tumburjati. Pohon kehidupan itu terasa rindang bagi semua penghuni Banua Ginjang atau kahyangan. Letaknya dari beberapa hunian di kahyangan tidaklah sesunyi Porlak Sisoding, taman tersembunyi yang menyimpan hal-hal rahasia. Pohon Tumburjati kelihatan selalu ramai seperti ranting dan daunnya. Di sanalah mereka mendapat pengetahuan atas berbagai hal, termasuk kodrat masing-masing. Kalau daun Tumburjati gugur, semua penghuni kahyangan langsung dapat mengartikannya. Daun-daunnya yang menangkup ke lapis langit pertama dan tertinggi seakan memohon agar tidak gugur sebelum waktunya. Namun ada kalanya dari daun termuda terpaksa jatuh bersama ranting yang patah.           

Di puncak ketinggian pohon kehidupan itu hinggap seekor unggas bernama Manuk Hulambujati. Tidak terbayangkan ketinggian pohon kehidupan itu. Sehingga ada kalanya nama pohon itu disebut Hariara Sundung di Langit, yang artinya beringin yang condong di langit. Manuk Hulambujati tentu selalu hinggap di puncaknya pada waktu-waktu tertentu; di suruh atau tidak. Namun unggas itu adalah induk tiga telur besar yang pernah mengandung Batara Guru serta dua dewa lain yang bernama Debata Sori dan Mangalabulan. Suatu ketika juga Manuk Hulambujati bersedia mengeramkan tiga telur lagi; kelak yang dikandungnya adalah pasangan ketiga sang dewa. Siboru Parmeme menjadi pasangan Batara Guru, Siboru Parorot untuk Debata Sori, dan Siboru Panuturi untuk Mangalabulan. Siboru Deak Parujar adalah putri bungsu Batara Guru           

Berkali-kali pergi ke bawah rindang Tumburjati, Siboru Deak Parujar selalu sempat melihat Manuk Hulambujati bertengger. Cara hinggap unggas itu seperti cahaya bintang-bintang yang berkejaran. Moncongnya berpalang besi, kukunya bergelang kuningan, dan sosoknya sebesar kupu-kupu raksasa nan berkilau. Terkadang tanpa perduli Siboru Deak Parujar menghalau unggas itu agar berkenan turun dan mau bercengkerama dengan dia.           

“Wahai, Manuk Hulambujati. Mengapa engkau tak mau turun untuk bersamaku di sini?  ” Terketus ucapan itu dari Siboru Deak Parujar karena sang unggas tak pernah turun dari puncak pohon. Sebenarnya dia tidak perlu mengeluarkan ucapan serupa karena ada larangan dari Batara Guru. Manuk Hulambujati benar-benar bukan sembarang unggas. Tidak ada yang dapat menyuruh Manuk Hulambujati turun dari puncak pohon, kecuali Ompung Mulajadi Nabolon. Ompung Mulajadi Nabolon, sebagai Sang Pemula Akbar dari segala yang ada, telah mencipta dan menetapkan kodrat tertentu bagi Manuk Hulambujati. Unggas itu merupakan salah satu suruhan Mulajadi Nabolon, di samping nama lain seperti Leang-leang Mandi, Leang-leang Nagurasta, dan Untung-untung Nabolon. Masing-masing diciptakan Mulajadi Nabolon sebelum Tumburjati dan sesuai dengan fungsinya. Leang-leang Mandi  atau layang-layang mandi menjadi pelayan inti dan penyampai pesan kalau Manuk Hulambujati membutuhkan bantuan Mulajadi Nabolon. Demikian kelak perannya bagi siapa yang membutuhkan bantuan dari Mulajadi Nabolon. Sedangkan Leang-leang Nagurasta hanya sahabat Leang-leang Mandi. Manuk Hulambujati ada kalanya mirip dengan Untung-untung Nabolon. Manuk Hulambujati bagi semua penghuni kahyangan cukuplah dipandang saja dari jauh dan saat bertengger karena fungsinya sudah selesai mengawali kehidupan manusia di Banua Ginjang.           

 “Ibunda,” tiba-tiba Siboru Deak Parujar mendekat pada ibunya. “Mohonlah terangkan mengapa daku tak bisa mengajak Manuk Hulambujati bercengkerama.” Keingintahuannya masih bernada memaksa. Namun jawaban dari Siboru Parmeme tetap seturut pesan yang mereka terima bersama Batara Guru. “Jangan. Pantang. Awas terlanjur!” Itulah pesan keramat yang diterima untuk menghormati Manuk Hulambujati.            

Akhirnya Siboru Deak Parujar tak lagi memaksa diri. Pasti dia tahu suatu waktu soal Manuk Hulambujati. Setiap kali kembali ke bawah rindang Tumburjati, diam-diam dia mendengar cerita yang bisa muncul di situ. Diapun lama-lama menjadi seperti penghuni yang lain di lapis kedua Banua Ginjang. “Lebih baik kunikmati saja kebahagiaan seperti apa adanya di kahyangan ini,” pikirnya. Perhatiannya pun  semakin biasa memperhatikan keturunan dewa lain. Maklum, Siboru Deak Parujar mulai remaja.           

Suatu ketika dia terdorong kembali ke bawah pohon Tumburjati. Namun tidak sendirian. Dia sengaja mengajak Siboru Sorbajati. “Ayolah, kakakku. Temani aku menikmati suasana di bawah pohon Tumburjati.”           

 “Baiklah, adinda,” jawab si putri sulung atau anak kedua Batara Guru itu. “Akupun sudah agak lama tidak ke sana.” Sebelum beranjak, mereka berdua tak lupa merapikan letak hulhulan, penggulungan besar untuk benang tenunan. Nampaknya mereka berdua sama-sama kurang bersemangat mempersiapkan tenunan baru. Sebelum tiba di sekitar pohon Tumburjati, mereka mulai memperbincangkan kelak pasangannya. Siboru Deak Parujar tidak berani menunjuk siapa gerangan yang menarik hati dari antara keturunan dewa.           

“Kita semua di lapis kedua kahyangan ini keturunan dewa. Siapapun yang menjadi pasanganku nanti, lebih baik daripada tidak ada.” Begitulah kata Siboru Sorbajati dan meneruskan: “Seandainya ayah kita berkenan juga menjodohkan aku dengan Siraja Odap-odap, aku akan turut juga.”           

Perkataan terakhir bagi Siboru Deak Parujar terasa menyindir. Sudah lama nama tersebut ingin disingkirkannya. Namun Mulajadi Nabolon  sudah mengatur semua kalau keturunan ketiga dewa mengambil pasangan dari antara mereka. Keturunan laki-laki Batara Guru mendapat pasangan dari putri Debata Sori. Anak laki-laki Debata Sori dari Putri Mangalabulan. Sedangkan anak Mangalabulan harus mendapatkan pasangannya dari putri Batara Guru.           

 “Ah, berpapasan saja aku tidak akan mau dengan anak Mangalabulan itu!”  Siboru Deak Parujar melepaskan ketakutannya berpasangan dengan Siraja Odap-odap. Siboru Sorbajati sebenarnya sudah pernah ditawarkan perjodohan itu. Namun dia merasa lebih baik melompat dari balkon rumah dan ingin menjadi batang enau daripada melihat wajah Siraja Odap-odap. Tadinya dia memang hanya ingin mengetahui perasaan adiknya.           

 “Baiklah kita tidak meneruskan langkah ke sekitar Tumburjati. Mungkin Siraja Odap-odap sedang menunggu kita di sana.”           

Mereka pun kembali meneruskan gulungan benang tenunnya sampai memulai tenunan baru. Ktuk… ktuk… Ktukktukktuk! Ktuk… ktuk… ktukktukktuk…. Berhari-hari dan berbulan-bulan.           

 Batara Guru dari bagian biliknya nampak tidak sabar lagi untuk mendesak salah satu putrinya untuk dipersunting Siraja Odap-odap. “Kemarilah kalian berdua,” panggil Batara Guru.           

“Aku masih meneruskan tenunanku!” Sahut Siboru Deak Parujar. Siboru Sorbajati akhirnya melangkah sendiri memenuhi panggilan Batara Guru. Namun sebelum bertemu muka dengan sang ayah, dia sudah mendengar suara-suara yang menanti di halaman rumah. Pikirnya, pasti mereka itu keluarga Mangalabulan sambil menghantar Siraja Odap-odap. Lalu tanpa perlu ketemu lagi dengan Batara Guru, Siboru Sorbajati benar-benar melakukan niatnya dengan melompat dari balkon rumah sambil menyumpahi diri agar menjadi batang enau saja.            

Kejadian itu mengejutkan keluarga Mangalabulan. Namun mereka masih berharap dengan satu lagi putri Batara Guru.   

 “Siboru Sorbajati lebih suka mengutuk dirinya daripada patuh kepada ajar. Satu lagi putri kakanda yang sangat turut pada ajar, pastilah itu Siboru Deak Parujar.” Begitulah Mangalabulan menyampaikan harapan kepada Batara Guru agar segera meresmikan perjodohan dengan anaknya, Siraja Odap-odap. Mendengar harapan itu  Batara Guru segera memanggil Siboru Deak Parujar.           

“Tidak, ayahanda. Lagi pula tenunanku belum selesai,” begitulah selalu reaksi Siboru Deak Parujar setiap kali Batara Guru mendesaknya. Sampai-sampai Batara Guru mulai merasa malu kepada keluarga Mangalabulan. “Selesai atau tidak tenunanmu,” tegasnya ke arah Siboru Deak Parujar, “engkau harus bersedia menerima Siraja Odap-odap. Engkau tak perlu melihat rupa dan mencari alasan.” Perkataan Batara Guru itu membuat Siboru Deak Parujar mulai gemetar. Berkali-kali dia mencari alasan dengan tenunan yang belum selesai. Besok hari sebelum matahari terbit Batara Guru memaksanya menikah dengan Siraja Odap-odap.            

“Ah!” desahnya dalam hati. “Simuka kadal itu dijodohkan jadi suamiku?” Benar-benar dia tak mau terima. Lalu tekanan itu mendorong dia merencanakan sesuatu. “Biarlah aku terjun seperti kakakku Siboru Sorbajati.” Demikian dalam hatinya. Namun dia masih tetap berpikir ke mana akan terjun. Sebelum ditemukan caranya untuk menyingkir besok hari, Siboru Deak Parujar mengalihkan perhatian kembali pada tenunannya. Ktuk… ktuk…ktukktukktuk….            

Sampai menjelang pagi dia mengeluarkan bunyi alat tenunnya itu sambil menikmati. Tiba-tiba dia terpikir melemparkan hasoli, salah satu dari alat tenunnya. Di dalam hasoli itu masih tergulung benang yang dipindah dari hulhulan. Sebelum matahari terbit benar-benar akan dilemparkannya  ke arah tempat gelap.           

Semalaman Batara Guru tetap berjaga agar putrinya tidak melarikan diri. Tiba-tiba bunyi alat tenun Siboru Deak Parujar didengarnya mulai berhenti. “Putriku, Deak Parujar!” Dicoba dari biliknnya memanggili. Namun sekali saja Siboru Deak Parujar menyahut panggilan Batara Guru, dia sudah bergayut pada benang yang menjulur entah sampai ke mana. Perlahan dia semakin turun, nampaknya dunia bawah tidak jelas dan sangat gelap. Angin kencang dan lebih dahsyat kacaunya dari sebelum penciptaan kahyangan. Angin kencang itu membuatnya terayun-ayun dan hampir terlempar. Sampai terang matahari sedikit menyinari bawah kahyangan itu, dia melihat semuanya nun di bawah tanpa tempat berpijak.            “Leang-leang Mandi, Untung-untung Nabolon…!” Dipanggilnya pesuruh Mulajadi Nabolon itu sambil berteriak. “Kumohonkan agar engkau meminta sekepul tanah untuk tempatku berpijak di bawah sana! Aku tak mau kembali ke Banua Ginjang.” Mulajadi Nabolon tidak menolak permintaan Siboru Deak Parujar karena tidak ingin menghukum. Namun ketika sekepul tanah yang dikirimkan Mulajadi Nabolon ditekuk Siboru Deak Parujar, langsung terhamparlah tempat berpijak yang sangat luas dan menjadi awal terjadinya bumi atau yang disebut Banua Tonga.           

 Belum sempat merasakan keberhasilan melarikan diri dari Banua Ginjang dan mencipta Banua Tonga, Siboru Deak Parujar tiba-tiba merasa oleng dan terlempar ke bumi yang dipijaknya. Dia merasa tanah yang ditekuknya itu cukup tipis dan tidak kukuh. Dia ingin memanggil Leang-leang Mandi. Namun suaranya tertahan karena guncangan besar. Guncangan itu menghancurkan bumi yang ditekuknya. Seekor raksasa besar bernama Naga Padoha ternyata si pelaku guncangan besar itu. Entah bagaimana caranya Naga Padoha sekonyong-konyong dapat berada di bawah tanah sebelum melakukan guncangan besar. Konon Naga Padoha dianggap masih dari garis Mangalabulan dan pernah frustrasi disebabkan jodohnya tak pernah berhasil dengan Nai Rudang Ulubegu. Mungkin juga Naga Padoha merasa lebih baik melamar Siboru Deak Parujar.           

“Ompung Mulajadi Nabolon, mohon kirimkan kembali sekepul tanah lewat pesuruhmu Leang-leang Mandi!” Permohonannya itu tidak lama sampai untuk ditekuk kembali, lengkap dengan sebilah pedang dan tutup kepala. Tutup kepala itu untuk dipakai Siboru Deak Parujar menghindari terik delapan matahari yang diciptakan Mulajadi Nabolon untuk sementara mengeringkan banjir air di Banua Tonga. Sedangkan sebilah pedang itu digunakan untuk menaklukkan Naga Padoha.kalau guncangan besar masih selalu dilakukan. Pedang itu sempat ditancapkanya ke bagian kepala Naga Padoha ketika tekukan kedua itu beberapa saat masih diganggu.           

Bumi sudah tercipta oleh Siboru Deak Parujar. Naga Padoha pun sudah ditaklukkan. Begitupun, sesekali Naga Padoha masih akan mengguncang dari Banua Toru, tempat segala kegelapan, kejahatan, dan kematian yang dikuasai iblis itu. Namun penangkal untuknya sudah cukup dilakukan oleh Siboru Deak Parujar dengan cukup menyerukan: “Suhul! Suhul!” Artinya meneriakkan gagang pedang itu saja Naga Padoha akan merasa takut dan segera menghentikan guncangan.             

Terciptanya Banua Tonga oleh Siboru Deak Parujar membutuhkan jenis-jenis kehidupan lain. Lalu dia masih melakukan permintaan kepada Mulajadi Nabolon agar mengirimkan bibit-bibit tumbuhan dan hewan. Mulajadi Nabolon memasukkan semua bibit itu ke dalam potongan batang bambu sebelum Leang-leang Mandi melemparkan ke hadapan Siboru Deak Parujar. Namun satu hal di antara segala jenis bibit itu, Siboru Deak Parujar tidak mengetahui satu hal. Dia baru tahu kemudian setelah semua jenis bibit itu disebar ke seluruh penjuru, di antaranya bercampur jasad Siraja Odap-odap yang dicincang teramat kecilnya. Menunggu tiba waktu dan rasa kesepian muncul dalam diri Siboru Deak Parujar, jasad Siraja Odap-odap yang terberai itu menyatu kembali atas perkenan Mulajadi Nabolon. Dihampirinya Siboru Deak Parujar di sebuah pancuran yang dihalangi rimbun tetumbuhan. “Ohhh!” Siboru Deak Parujar hanya terkejut sejenak.           

 Pertemuan Siboru Deak Parujar dengan Siraja Odap-odap di Banua Tonga tak bisa lagi ditolak. Mulajadi Nabolon memberkati mereka hingga melahirkan manusia pertama di bumi. Manusia pertama itu adalah Raja Ihat Manusia dan pasangannya bernama Itam Manusia. Setelah melahirkan manusia itu Siboru Deak Parujar dan Siraja Odap-odap harus kembali ke Banua Ginjang. Mereka naik ke Banua Ginjang melalui seutas benang. Sempat manusia di bumi itu terikut menaiki benang. Namun kemudian terputus. Perpisahan ini sungguh menyedihkan. Namun Siboru Deak Parujar masih berujar kepada Raja Ihat Manisia: “Kalau kalian rindu kepadaku, terawanglah purnama bulan. Di situlah aku kelihatan kembali bertenun.”  

* diambil dari beberapa referensi         

Diterbitkan di: on at 2:17 pm Komentar (1)

GURU SAMAN DARI LAU BALANG

Oleh: Thompson  Hs

Di tengah sebuah hutan terdengarlah suara yang sumbernya berubah-ubah. Suara itu memanggil-manggil satu nama: Saman! Saman! Saman! Lalu seorang laki-laki entah dari mana seperti ingin menghadapi suara itu. Namun dengan gaya pencak dan satu dua loncat salto, laki-laki itu nampak menyatu dengan irama suara yang memanggil-manggilnya. Laki-laki itu bermata merah, kumis melintang, dada berbulu, dan berambut panjang serta janggut tak beraturan. Dialah Guru Saman yang mengaku dari Lau Balang Tanah Karo.

“Guru…!” Saman dengan lantang menghadap suara itu dan meneruskan isi hatinya. “Ilmu yang kuterima dari Guru sudah kucoba!.”

“Saaamaaan!”

“Guuuru!”

“Tapi ilmu itu pergunakanlah sebaik-baiknya. Ingat, ada tiga syarat ilmu itu.” Suara itu perlahan dan bergema kembali.

“Guuuru!”

“Kau tidak boleh membunuh yang tidak bersalah kepadamu, tidak boleh membunuh anak-anak, dan….”

“Satu lagi, Guuuru!”

“Dan kau tidak boleh membunuh wanita yang sedang berbadan dua!”

            “Baiklah, Guru.” Ketus Saman sebelum beranjak dari tempatnya bersila. Niat lamanya hendak pergi ke daerah Sipahutar tak dapat lagi dipendamnya. Dari hutan itu Saman melewati berbagai tempat dan singgah sebentar-sebentar di keramaian kampung dan pasar. Di Merek dan Saribudolok dia sempat menyantap makanan kesukaannya, yakni anak babi kecil yang dipanggang!

            “Jangan lupa bikin cabenya sebesar anak babi itu juga!” Itu dipesan kepada penduduk yang diancamnya atau kepada penjual makanan di kedai-kedai tertentu. Namun setelah puas menyantap pesanannya, Saman lari dan menghilang seketika. Dia tidak bayar satu sen pun. Begitulah caranya.

Sampailah dia di Sipahutar, melewati Siborong-borong dan Garoga tempatnya menang bermain judi untuk sekian kali. Dia memang suka judi sejak kecil dan itulah caranya mencari uang. Di Sipahutar dia langsung menuju sebuah kedai tuak yang letaknya di sekitar simpang empat. Kedai tuak itu milik Jakobus dan putri satu-satunya yang bernama Marsella. Jakobus dan Marsella dikejutkan oleh Saman dengan melompat dan duduk seenaknya ke atas meja sambil menancapkan belatinya.

Lit lau pola?” pertanyaan ini menimbulkan rasa bingung pemilik kedai. Maklum, di sekitar Sipahutar tak pernah dialek Karo digunakan. Mereka sama sekali tak mengerti cakap Saman yang sebenarnya hanya bertanya: ada tuak?

“Maaf, maaf. Tak ada di sini yang taralit, amangboru!” sambut Marsella dengan lugu dan gemetar lagi memegang lengan ayahnya. Mungkin Marsella mengira Saman seorang dukun pijat yang biasa menyembuhkan orang-orang yang taralit, keseleo. Jakobus juga tak sanggup menelan tambul daging di mulutnya karena terkejut. Sisa tuak di gelasnya segera di teguk. Dari tadi Jakobus mengawali minum tuak, sekedar menimbang  raru, ragi tuak dari jenis pohon tertentu yang rasanya  pahit dan kelat.

Lauuu pooola, kataku!” Saman mulai geram mengulangi permintaannya.

“Oh, maksudnya yang marimpooolaaa…?”

“Diam itu mulutmu. Ini menit, ini detik belati dapat membunuh kalian berdua!” Saman menarik belatinya karena merasa dipermainkan. “Aku minta segera, bikin tuuuwwaaak!”

Tuak pun segera diambil dari poting, tabung tuak dan dituangkan ke cangkir bambu. Sekali dua teguk Saman minum tuak itu seperti kehausan saja. Berkali-kali dia minta tambah, sebanyak itu pula pemilik kedai merasa keberatan.

“Tuaknya sudah habis, Amangboru,” kata Marsella.

“Diam kau! Kalau tak ada lagi tuak, darahmu pun bisa kuminum!” Kalimat seperti itu nadanya pasti mengancam. Sehingga pemilik kedai tak mampu menolak. Seketika tak terhitung tuak yang direguk Saman. Matanya semakin merah dan menakutkan. “Among!” teriak Marsella setelah memperhatikan gaya Saman. “Sebentar kita pasti ditelannya!”

Hari mulai senja. Penduduk pasti mulai pulang dari ladang dan sawah. Namun ada juga yang selalu singgah di kedai tuak. Benar! Hermanus, seorang hampung, kepala desa bersama  ketiga adiknya sudah terbiasa singgah di kedai tuak Jakobus. Mereka pulang dari hutan mencari gelondongan kayu yang dijual untuk bahan bangunan rumah di Tarutung dan Sibolga.

“Tuak, Jakobus!” Permintaan khusus Hermanus sudah dimengerti oleh Jakobus. Namun dibisikkannya kepada Marsella agar tuak untuk Hermanus ditambah saja dengan air beras atau air hujan. Soalnya Hermanus sudah punya tumpukan hutang enam bulan dan belum bisa dilunasi kepada Jakobus. “Rarunya tambahi ya, boru!” pura-pura Jakobus setengah berteriak menyuruh borunya, putrinya. Adik-adik Jakobus nampaknya sudah kehausan juga.

“Jakobus, tambahi tuaknya,” pinta Hermanus sambil memperhatikan seseorang yang menurutnya tidak sopan duduk di meja sebelahnya. Setelah tuak yang dicampur itu ludes juga mulai ditegurnya Saman agar turun dari meja itu. Saman lalu tersentak dan berkata: “Sesukaku saja. Kalau aku suka duduk di atas kepalamu, aku akan duduk. Sekarang apa maumu melarangku?” Mengucapkan kalimat terakhir Saman melompat dan hendak menyerang Hermanus.

“Tunggu dulu,” kata Hermanus seketika. “Kita sudah sama-sama orangtua. Tapi kau kelihatannya tak bisa sopan. Kau mau tunjukkan matamu yang merah di sini? Bagiku mata merah sama saja dengan mata ikan busuk. Juga dengan kumis serammu, bagiku itu seperti misai kambing. Sekarang marilah kita bertaruh!”

Pertaruhan mulai bikin Jakobus dan Marsella kembali ketakutan. Mereka tak berdaya mengusir. Apalagi karena langkah dan jurus-jurus silat menghentak ke sana kemari. Setelah beberapa langkah tiba-tiba Hermanus dan Saman berhenti dalam pertemuan titik pukul yang serupa.

“Bahhh,” Saman merasa heran. “Aku keluarkan jurus silat tertentu, kau ikuti juga begitu.”

“Kau juga meniru jurus pukul yang kukeluarkan,” tandas Hermanus.

“Lantas, kenapa bisa sama? Siapa gerangan gurumu?” Sergah Saman.

“Hmmm,” Hermanus iseng senyum. “Mendengar nama guruku, nanti misaimu bisa turut gemetar. Guruku adalah Guru Saman!”

“Hei, kau tak mengenalku?” Tanya Saman meyakinkan.

“Pweh! Aku tak kenal kau. Beguattuk kau!” Hermanus tak perduli dengan mengatakan begitu: beguattuk, kolera atau sampar. Namun itu akhirnya membuat Saman mulai tertawa.

“Akulah yang kau sebut itu gurumu. Guru Saman!” Seketika mendengarnya Hermanus tunduk dan  memanggil adik-adiknya. Hermanus mengenalkan ulang ketiga adiknya yang dulu masih kecil-kecil waktu Hermanus berguru pada Saman. Satu per satu kembali diingatkan kepada Guru Saman. “O, ini yang namanya Paulus. Ini Sem. Ini Eli, sudah jadi orang baik-baik. Sekarang kita minum tuak lagi.”

Nampaknya tuak benar-benar sudah habis di kedai Jakobus meskipun malam belum larut. Hermanus lalu menyuruh Paulus dan Sem mencari tuak ke tempat lain. Sementara Eli disuruhnya lebih cepat ke rumah agar dapat menyediakan sajian sampai pagi hari untuk Guru Saman. Kehadiran Guru Saman di rumah itu menimbulkan rasa bangga bagi Hermanus. Mereka mengikat janji; apabila disakiti orang lain, mereka akan sama-sama sakit hati dan membalasnya. Ketiga adik Hermanus juga diajari Guru Saman bermain silat. Rasa takut mereka bermain silat diuji dalam gelanggang yang penuh kaca. Gelanggang itu terletak di belakang rumah Hermanus. Selain melatih ketiganya, Guru Saman mengisi hari-harinya di Sipahutar mencari pemain judi di kedai tuak atau di keramaian.

Suatu ketika Hermanus duduk terhenyak di rumah. Dia baru saja pulang dan merasa dihina Guru Martin karena uang yang dipinjam harus dikembalikan. Cara meminta Guru Martin juga di depan orang banyak dianggap sengaja hanya mempermalukan Hermanus. Itulah yang membuatnya sangat tersinggun dan marah mengeluarkan belati ke arah Guru Martin. Dalam kejadian itu, istri dan  dua adik Hermanus hampir terlibat mengikuti tindakan Hermanus. Malahan sebelum meninggalkan tempat keributan itu, Hermanus mengancam orang ramai.

“Siapa dari kalian masih ikut berkumpul minggu depan, akan ikut kubunuh!” Begitulah ancaman diterima orang ramai setelah Guru Martin dapat disingkirkan Jakobus, pemilik kedai tuak serta Eli, adik Hermanus yang selama ini tidak menyukai keributan itu. Kejadian itu terus menghantui pikiran Hermanus sampai salah seorang adiknya muncul kembali lebih dulu.

“Kakanda, aku telah berikan jaminan kepada Guru Martin. Aku sampaikan kepada Guru Martin kalau aku akan membayar hutang pinjaman itu dalam tempo seminggu.” Demikian dari Eli setelah beberapa langkah masuk dari pintu rumah. Namun kemarahan Hermanus masih merasa lebih penting dari jaminan yang disampaikan oleh Eli.

“Hutang pinjaman itu? Kau saja tak mampu penuhi kebutuhan anak istrimu. Sok jago kau!” Seketika ucapan itu berakhir, menyusul pula tendangan Hermanus kepada Eli. Paulus dan Sem tiba-tiba muncul. “Habisi saja dia, kakanda,” serentak keluar dari mulut kedua adiknya.“Guru Saman sebentar lagi akan datang.”

Memang Guru Saman sangat dinantikan Hermanus. Sehingga sepulang dari keributan itu dia sengaja menyuruh Paulus dan Sem mencari Guru Saman. Ketika Guru Saman mendekat pintu masuk suaranya sudah kedengaran. Nadanya agak lain.

“Horas, guru!” Hermanus menyambut ke arah pintu. “Mohon guru duduk dulu,” tambah Hermanus sebelum menyampaikan isi kepalanya.

“Hermanus, kau menyuruh kedua adikmu ini memanggilku. Aku pas di gelanggang judi dan kalah. Apa gerangan yang sangat penting?” Wajah Guru Saman kelihatan dingin.

“Begini, guru. Ada seseorang yang baru melecehkan guru. Katanya ilmu Guru Saman tidak seberapa tinimbang ilmu yang dimilikinya,” Guru Saman langsung terkesiap mendengar penyampaian Hermanus. Namun dia mulai mengumpulkan amarahnya. “Kami tidak setuju dengan caranya itu, guru!”

“Siapa orang yang kurang ajar itu?” Tanya Guru Saman sambil berdiri.

“Guru Martin, guruuu…!” bersamaan mereka menjawab selain Eli. Guru Saman memang sudah lama mendengar nama tersebut. Guru Martin adalah seorang panutan di lingkungan masyarakat. Dalam menimbang-nimbang hal tertentu dari nama itu, Hermanus menyela bayangan Guru Saman.

“Guru, lebih baik kita membunuh Guru Martin itu!”

“Yah, aku sudah lama tidak membunuh manusia. Persiapkanlah semua untuk membunuh yang kau sebut itu,” tandas Guru Saman. Mereka berencana membunuh  pada malam hari sebelum keesokan orang-orang berkumpul di rumah Guru Martin. Paulus, Sem, dan Eli dimintai sumpah untuk pembunuhan itu. “Dengke ni Sabulan tu tonggina tu tabona, manang ise siose padan turipurna tu magona,” demikianlah penutup sumpah itu diucapkan ditekankan Guru Saman. Pembunuhan itu diumpamakan seperti manis dan enaknya ikan dari Negeri Sabulan. Siapa di antara mereka yang abai sumpah itu akan hilang lenyap.

Malam hari di sekitar rumah Guru Martin, mereka sudah mulai mengendap-endap. Di dalam rumah Guru Martin dengan Klara, istrinya yang sudah hamil tua masih bercakap-cakap. Kander, anak mereka yang berumur tiga tahun tentu sudah lelap dan sebentar lagi akan ditemani sang istri ke kamar. Ketika Hermanus merasa istri Guru Martin sudah masuk kamar, dia mengetuk pintu.

“Guru! Guru! Aku Hermanus. Aku mau bayar hutangku itu,” demikian Guru Martin ingin diyakinkan. Namun dari dalam rumah, Guru Martin agak menolak. “Besok saja. Ini sudah larut malam, hampung!”

Hermanus tidak mau kehabisan akal sampai pintu dapat dibukakan Guru Martin. Ketika pintu sedikit terbuka, Guru Saman dengan keras mendorong pintu dan langsung menghunjamkan belatinya ke dada Guru Martin. Rintihan suara yang sempat memanggil, membuat istri Guru Martin terkejut dan keluar dari kamar. Klara pun meraung-raung dan berkali-kali bersujud agar tidak ikut dibunuh. Namun Guru Saman terpaksa membunuhnya juga karena dorongan Hermanus dan dua adiknya.

Pembunuhan Guru Martin dan istrinya sungguh menyedihkan. Namun orang-orang Sipahutar tidak lama mengetahui orang-orang yang melakukan pembunuhan itu. Polisi dari Tarutung segera mengusut dan menghadapkan saksi-saksi pembunuhan di hadapan pengadilan. Salah satu saksi itu adalah Jakobus, si pemilik kedai yang sering terancam dan diperas Guru Saman dan Hermanus.

“Menurutku, inilah kesempatan menghukum Guru Saman. Lebih baik dia direndam ke dalam tong yang berisi air yang mendidih. Biarkan dia di situ mati!” Begitulah Jakobus memuaskan rasa dendamnya kepada Guru Saman. Namun pengadilan memutuskan Guru Saman harus dihukum gantung. Sebelum dihukum gantung sempat Guru Saman diberi kesempatan menyampaikan pesan terakhirnya.

“Sejak kecil semua permintaanku harus dipenuhi orangtuaku. Karena itulah aku selalu meraja lela. Kuharapkan agar orangtua tidak lagi mendidik anaknya seperti aku. Aku siap dihukum gantung dengan segala kesalahanku.”

Hukuman gantung itu berlangsung tanpa diketahui Hermanus serta adik-adiknya karena mereka sudah lebih dulu dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman yang berbeda-beda.

“Guru Saman sudah maaatiii……!”

*Sumber diambil dari cerita Opera Batak

Diterbitkan di: on at 2:09 pm Komentar (1)

ABDULLAH ABDULRAHMAN, MAESTRO TARI ACEH

(Catatan: Thompson Hs)

Abdullah Abdulrahman adalah salah seorang dari sejumlah seniman tari Aceh yang dijuluki Syeh Lah Geunta. Syeh dalam lingkungan masyarakat Aceh dikenal sebagai sebutan khusus bagi pemimpin gerakan pertunjukan tari. Syair atau pantun yang biasa mengiringi tarian di Aceh dimotori oleh seorang syeh hingga pola gerak serta menjadi pemain utama dalam setiap penampilan tari. Ada sejumlah nama dan penampilan tari di Aceh yang sangat dikenal seperti rapa’i, seudati, saman, daboh. Penyebaran tari tersebut meluas hampir ke seluruh wilayah Aceh, ditambah dengan perkembangan jenis khusus untuk rapa’i. Misalnya ada yang disebut rapa’i saman, rapa’i geleng, rapa’i daboh, dan lain-lain. Rapa’i sendiri merupakan instrumen sejenis tamburin dengan bentuknya yang bulat dan berbagai ukuran besarnya . Namun dalam sebutannya ke dalam tarian terkait dengan pola memainkan alat musik itu dengan gerakan-gerakan artistik dan agresif. Instrumen musik lain yang mendampingi rapa’i adalah gendang dan seureune kalee, sejenis serunai. Rapa’i dianggap sebagai tarian yang lebih awal dari seudati. Terkait dengan rapa’i dan seudati ada cerminan budaya Aceh yang terungkap dalam pepatah: puenajoh timphan, piasan seudati rapa’i. (Makanannya kue timphan, pertunjukannya seudati rapa’i).

Syeh Lah Geunta merupakan gelar khusus yang diterima Abdullah Abdulrahman atas kehandalannya bermain seudati. Gelar itu sendiri bersumber dari sastrawan Ali Hasymi pada tahun 1963 sewaktu masih menjabat gubernur Aceh. Pada suatu kesempatan menghibur di malam resepsi peletakan batu pertama gedung SMA Cut Gapu, Bireuen, Abdullah mendapat gelar itu karena kelincahan gerak tubuhnya diumpamakan seperti ulat. Waktu itu kelompok Abdullah merupakan satu-satunya kelompok tari seudati anak-anak di Bireuen. Julukan kepadanya masih dengan Syeh Lah Aneukmit atau Syeh Lah Anak-anak. Namun gaya tari seudati yang dimainkannya sudah menarik perhatian.

Tari seudati memang sungguh khas karena gerakan yang bersumber dari pola dan variasi loncatan, gerak tangan dan keutep jaroe (petik jari), pukulan dada (persis di ujung rusuk) dengan iringan pantun atau syair yang spontan di atas panggung. Jumlah penari seudati minimal delapan orang dan selalu genap; sudah termasuk sang Syeh ditambah dua aneuk cahi atau pelantun syair/pantun. Satu orang penting lainnya dari penari seudati adalah apit syeh yang posisinya sebagai asistensi di sebelah kiri syeh. Selama delapan bagian berurutan (saluem anuek syahi, saluem rakan, bale saman, likok, saman, kisah, cahi panyang, dan lanie) dalam tari seudati dilangsungkan, apit syeh berfungsi menjaga maksud spontanitas gerak syeh. Seudati perempuan disebut seudati inong atau laweut. Pukulan dalam seudati inong dilakukan di bagian pinggul.

Sebagaimana kebiasaan di lingkungan Aceh, Lah diambil dari panggilan singkat nama utamanya, Abdullah. Abdulrahman hanya nama ayah yang kemudian hari baru diketahui seorang penari seudati juga. Sedangkan Geunta, yang artinya genta atau dengung, adalah pemberian dari sang gubernur, di samping tambahan uang saku yang dibagi-bagi waktu itu untuk semua anggota penari. Syeh Lah Geunta mulai belajar tari seudati pada tahun 1962 setelah menonton penampilan Nurdin Daud, seorang penari seudati terbaik di Aceh waktu itu.”Gerakannya agak keras, tapi lembut,” Syeh Lah menyinggung ingatannya atas penampilan Nurdin Daud bersama Syeh Ampu Muda. Padahal anak kelahiran desa Geulanggang Tengoh, Bireuen ini masih kelas empat (4) SR (singkatan Sekolah Rakyat). Halimah, ibu yang melahirkannya nampak mendukung ketertarikan Abdullah kecil terhadap seudati. Sedangkan ayah sempat melarang karena dianggap akan mengganggu pelajaran di sekolah dan saat-saat mengaji. Namun diam-diam tekadnya diwujudkan sambil berlatih di sebuah hutan dekat Bireuen. Penampilan bersama teman-temannya berlatih dilakukan pertama kali di Pasar Malam kota Bireuen hingga sampai ke kota Sigli dan Langsa. Karena benar-benar sudah menyatu dengan seudati, Syeh Lah hanya sempat duduk di kelas 2 SMP. Minatnya yang lain seperti main bola juga ditinggalkan karena pilihan menjadi penari seudati. Abdullah sendiri adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Abangnya bernama Alamsyah (almarhum), juga seorang penari yang pernah bersama dalam kesempatan ke Spanyol dan Amerika.

Syeh Lah Geunta benar-benar ‘berdengung’ dan dikenal di hampir semua wilayah Aceh. Dari 100-an syeh seudati di Aceh, nama dan permainan Syeh Lah Geunta sangat akrab dan selalu ditunggu masyarakat. “Dengung pukulan Syeh Lah terasa beda,” demikian pengakuan Benyamin Siregar alias Ucok, salah seorang penggemar seudati yang tinggal di kota Langsa. Atas pengaruh Syeh Lah, beberapa sanggar seudati dan rapa’i di kota Langsa mulai dihidupkan kembali. Sanggar Pesona dan Sanggar Geunta Suasa adalah dua dari sejumlah sanggar yang didorong perkembangannya oleh Syeh Lah. Beberapa orang mengenal baik Syeh Lah karena tidak pernah menolak orang-orang yang mau belajar seudati dan tarian Aceh lainnya. Beliau selalu bersedia memberi masukan-masukan dan dorongan kepada orang-orang muda tanpa harus dibayar. Bahkan tiga generasi penari seudati di kota Langsa muncul atas perhatian serius Syeh Lah. “Seorang seniman yang sudah menari itu harus bisa memberikan ilmunya kepada orang lain.” Demikian disampaikan beliau ketika diklarifikasi pada 23 – 24 Desember 2007 lalu. Klarifikasi dilakukan dalam rangka calon Maestro Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia yang diprogram mulai tahun 2007.

Seudati sepertinya sudah menjadi aktivitas penting dari kehidupan Abdullah Abdulrahman. Imbalan yang diterima setiap penampilan seudati yang dimainkan tergantung siapa yang mengajak. Terkadang hanya dibayar secukupnya. Ada juga kalanya tak menerima bayaran. Masa-masa sulit dilalui untuk mempertahankan pilihan terhadap seudati. Awal karirnya tahun 60-an dianggap masih menyulitkan karena gestok, untuk menyebut masa G 30 S PKI, ditambah masa-masa konflik bersenjata antara GAM dan TNI yang terpicu mulai tahun 1990. Selama masa-masa konflik itu, Syeh Lah tidak pernah pulang malam ke rumah sehabis main seudati. Dampak lainnya tentu mengganggu perekonomiannya untuk menyekolahkan anak-anak. Karena itu sempat membuka warung nasi di Idi Rayeuk. Namun karena perhatiannya yang sudah terlanjur penuh untuk mengembangkan seudati, usaha warung nasi tidak dilanjutkan.

Situasi konflik di Aceh berubah sewaktu tsunami terjadi menjelang akhir tahun 2004. Dalam rangka memperingati dua tahun bencana tsunami ada sebuah lembaga non-pemerintah yang membayar permainan seudatinya sampai 15 juta rupiah. Bayaran yang diterima selama ini memang digunakan untuk keperluan sekolah anak-anak. Satu di antara anaknya mengikuti jejak sebagai penari hingga berhasil menamatkan kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Yang dimaksud adalah anak ketiga yang bernama Asnawi Abdullah, penari dan koreografer yang cukup dikenal saat ini. Anaknya yang lain hanya mampu disekolahkan sampai tingkat SMA.

Di desa Seuneubok Rambong ada sebuah rumah yang 10 tahun masih terkendala pembangunannya. Maklum, dana untuk menyelesaikan bangunan itu tidak mudah bagi Syeh Lah. Selama ini untuk memenuhi persediaan beras keluarga harus juga menggarap pertanian padi dekat bangunan rumah yang belum selesai itu. Beliau tak pernah meminta-minta kepada pemerintah lokal agar dihargai atas semua jasanya mengharumkan Aceh dan negara dengan seudati. Rumah di desa Seuneubok Rambong menjadi saksi. Satu rumah kayu dan mulai tua di samping rumah yang masih terbengkalai itu menjadi tempat tinggal bersama keluarga sejak menikah tahun 1968. Rafiah, sang istri, anak-anak serta cucu kelihatan tetap setia menyambut Syeh Lah setiap pulang ke rumah dan desa nan sejuk serta 600-an meter ke pantai itu. Desa tersebut terletak di Idi Rayeuk, ibukota kabupaten Aceh Timur (yang baru setahun dipindahkan dari kota Langsa). Perjalanan dari Langsa ke Seuneubok Rambong hampir dua jam dengan bus umum menuju Lhokseumawe dan Aceh. Tempat-tempat tertentu antara kota Langsa dan Idi Rayeuk adalah bekas daerah kontak senjata di wilayah Aceh Timur semasa konflik. Bahkan setelah masa damai masih tak jarang ditakuti dengan suatu modus baru dalam bentuk tindak kriminal, seperti perampokan dari orang-orang yang tidak dikenal.

Meski selama ini berkeliling lewat seudati membawa nama Aceh dan Indonesia, Syeh Lah tak pernah berhenti tanpa penghargaan. “Selama masyarakat masih mau menonton seudati, Syeh Lah akan tetap tampil,” demikian Syeh Lah bersemangat meskipun usianya yang ke 61 lambat laun mulai mengurangi aktivitasnya sebagai penari seudati. “Saya lebih banyak saat ini ke mana-mana untuk memberikan masukan soal seudati dan tari Aceh lainnya,” kata Syeh Lah. Dari sosok tinggi dan tampak kukuh itu terasa sesuatu berdengung seperti ingin mengatakan: Tsunami dapat menghilangkan Aceh. Namun tradisi seudati dan tarian lainnya dari Aceh merupakan satu tanda kegagahan budaya Aceh ke mana-mana.**

Tempat dan Lahir: Bireuen, 1946
Nama Istri: Safiah
Anak
1. Darmawati 4. Iskandar
2. Yusniati 5. Darwinsyah
3. Asnawi 6. Efendy
Cucu: 10 orang
Pentas: Aceh, Medan, Jakarta (1985, 1986, 1994,1997, 2006),
Tokyo (1989), Amerika (1991), Kuala Lumpur (1991), Singapura,
Spanyol (1992), Yogyakarta (2003).

Diterbitkan di: on Maret 19, 2008 at 6:29 am Komentar (1)